Pengetahuan dan Seksualitas: Terendus LGBT, Termulus Robot Seks

Pengetahuan dan Seksualitas: Terendus LGBT, Termulus Robot Seks
©asiapacific

Anak judul di atas masih bisa ditambah. “Di sini, LGBT dilarang; Di sana, Robot Seks Ditentang dan Angka Penggunaannya.”

Mungkin di negeri kita tidak ada kata-kata yang tepat yang ditujukan ke LGBT kecuali “terkutuk”, “menyimpang”, “laknat”, “jijik”, “benci”, atau “sesat”, dan ungkapan peyoratif lain.

Istilah no tolerance atas LGBT tidak berarti wilayah pengetahuan atau disiplin ilmu lain dikucilkan dan dibatasi ruang diskursus tentang seksualitas yang mengitarinya.

Agar kita menghindari penggunaan “kaca mata kuda”, alangkah arifnya pembicaraan tentang soal Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) bisa dimungkinkan berada dalam ruang pengetahuan lain.

Dari pengetahuan apa bahwa LGBT ada atau nyata? Sebelumnya kita bisa menunjukkan satu pengetahuan demonstratif melalui data hasil studi atau penelitian.

Data yang dilansir dari laman researchgate.net (6/2019). Berdasarkan penelitian etnografi yang menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara terbesar kelima penyumbang LGBT dunia setelah Cina, India, Eropa, dan Amerika.

Merujuk dari data tersebut, 3 persen populasi LGBT di Indonesia atau dari 250 juta penduduk Indonesia (2018), terdapat sekitar 7,5 juta adalah LGBT. Kata lain, bahwa dari 100 orang yang berkumpul di suatu tempat, 3 orang di antaranya memungkinkan mereka terpapar LGBT.

Data ini belum cukup memadai karena hanya mengambil sampel 9 (sembilan) responden, terdiri dari 5 (lima) gay dan 4 (empat) lesbian selama 6 (enam) bulan, sejak Juni-November 2018. Kehadiran data hasil survei, studi atau penelitian saja tidak cukup sebagai basis pengetahuan untuk menjelaskan apa dan bagaimana LGBT bisa ada, berkembang, dan menyebar.

Baca juga:

Penampilan data memungkinkan menjadi rujukan yang bisa ditangkap oleh nalar agama, nalar ilmiah, dan nalar filosofis. Sehingga, kita perlu mengetahui data LGBT yang dirilis oleh lembaga resmi dan kredibel.

Ada hal yang menghibur karena Indonesia tidak termasuk dari 31 negara yang melegalkan LGBT. Mulanya, dari tahapan dan proses legaslasi di parlemen hingga terang-terangan malang-melintang di dunia nyata atau di dunia virtual. (suara, 10/05/2022)

Bagaimana dengan jenis pengetahuan lain? Pengetahuan agama (seperti disiplin Islam dan agama lain) selalu menempatkan dirinya sebagai “kebenaran” yang bersumber dari kitab suci.

Begitu pula, LGBT sebagai permasalahan seksualitas, di mana seks menjadi kebenaran dari sudut pandang yang berbeda. Kebenaran seks, karena LGBT adalah fenomena dan nyata adanya di sekitar kita.

Disiplin filosofis dan disiplin ilmiah menguak permasalahan yang lebih kompleks dari LGBT dan seksualitas, maka disiplin agama yang membimbing jalan ke arah yang lebih “bercahaya”, yang diharapkan lebih “terang” daripada pengetahuan lain.

Selain disiplin agama mempermasalahkan LGBT, perlu juga dibuka ruang pengetahuan lain, seperti disiplin filosofis dan disiplin ilmiah. Sehingga, semuanya bisa terpadu, saling menopang, cair, dan terbuka terhadap kenyataan.

Karena zaman berubah, maka ada kemungkinan akan terjadi penafsiran ulang atas teks agama mengenai LGBT, yang bisa dibantu secara terpadu dengan disiplin ilmu lain.

Kenyataannya, tidak semua permasalahan LGBT bisa dijawab oleh disiplin agama setuntas-tuntasnya tanpa sedikit pun yang tersisa. Demikian pula disiplin ilmu lain.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi