Pengkhianatan GMNI Yogya sebagai Lumbung Ideologi; Sebuah Kesaksian

Pengkhianatan GMNI Yogya sebagai Lumbung Ideologi; Sebuah Kesaksian
©Dok. Pribadi

Dulu GMNI Yogya adalah arena tempur tempat bertarungnya gagasan dan wawasan. Dulu GMNI Yogya berisikan sejumlah mahasiswa kampus yang kritis terhadap ajaran Bung Karno, menolak romantisisme ideologi yang kaku.

Membenturkan pikiran Soekarno dan Marx dalam diskursus yang rasional adalah cikal bakal dua basis pemikiran yang dialektik antara Materialisme Dialektika Historis (MDH) dan Metode Berpikir Marhaenis (MBM). Perdebatan mereka tersebar di kolom-kolom Qureta, Nalar Politik, IndoPROGRES, dan GEOTIMES.

Di ruang kampus, kader-kader GMNI berperan aktif memberikan sumbangsih pemikiran dan karya. Mulai dari menerbitkan jurnal, memenangkan beberapa kompetisi seperti Debat Nasional, Lomba Esai, bahkan tidak sedikit yang menerbitkan buku.

Kompetisi mereka adalah karya. Persaingan mereka adalah gagasan. Meritokrasi adalah basis kompromi mereka dalam ruang politis.

Kini GMNI Yogya hanya berisikan sejumlah mahasiswa tak bermutu, malas berpikir, dan ingin serba instan. Kalaupun masih ada kader yang tampak bermutu, itu pun hanya parafernalia untuk dekorasi kamar kos-kosan.

Adalah bergengsi memajang buku-buku tua seperti Dibawah Bendera Revolusi (DBR) atau semua jilid buku Daskapital Karl Marx. Adalah kader ideologis bila menyelipkan dua kutipan dari omongan para founding fathers dalam pidato-pidato mereka—hanya menarik sebagai kiasan, tapi tidak sebagai bahan kajian.

Hampir dua tahun saya sebagai pengurus DPC GMNI Yogyakarta Bidang Kaderisasi menyaksikan hanya sedikit kader yang masih mempertahankan tradisi intelektual. Sisanya masuk dalam situasi antusiasme politik yang meledak-ledak dan terjun bebas dalam muara elektoral.

Mereka tidak lagi berjarak, bagaikan tim sukses yang mempromosikan calon-calon yang akan diusung. Meskipun gerakan politik itu penting, namun bukan berarti menjadikan kader sebagai konstituen dalam kepentingan temporal.

Baca juga:

Dulu, ketika terjun di wilayah politik, selalu punya alasan perjuangan. Kini perjuangan tergantung arahan para senior.

Kader GMNI berada di bayang-bayang harapan jejaring dan saling sikut merebut yang punya kekuatan kapital untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pendukung setianya. Hanya sedikit senior yang mengutamakan kualitas kader. Sisanya cawe-cawe, obrak-abrik, habis manis sepah dibuang.

Kalaupun kader memiliki idealisme dan semangat perlawanan, punya rasa nasionalisme, punya banyak prestasi hebat, jangan harap senior akan memberi support. Sebab mereka hanya mengakui barisan, lawan apa kawan. Mereka hanya melihat satu sisi tanpa melihat betapa banyaknya kader yang peduli dengan perubahan dan perbaikan.

Saya mengenal kader yang aktif menulis di kolom Tempo, banyak Puisi dan Opini. Kader ini bisa saja cuek dan berpikir nyaman sebagai penulis, tapi ada sisi kepedulian dan panggilan terhadap GMNI. Beberapa kali ia berusaha mengajak kader-kader lain untuk ikut pelatihan menulis.

Ada pula kader yang mengorganisasi ibu-ibu penjual nasi keliling, mengolaborasikannya dalam Pentas Seni, Prolog, Drama, dan Puisi. Tujuannya adalah supaya kader dapat memahami posisi si Marhaen, akibat dan penyebabnya.

Saya hanya bisa menyebut sedikit contoh kerja-kerja beberapa kader yang punya kepedulian terhadap GMNI Yogya. Hanya segelintir orang yang mengetahui mereka, bahkan tak pernah diketahui senior, tetapi mereka meninggalkan satu legacy atau kontribusi yang amat berharga demi pengembangan para kader dan keberlangsungan organisasi GMNI.

Mereka memiliki naluri pejuang-pemikir yang amat cinta pada bangsanya, dan mempraktikkannya dalam langkah-langkah kecil.

Apa boleh buat, kini GMNI Yogya telanjur mereka obrak-abrik. Kerja-kerja mereka hanya sebatas kerja pragamatis. Naluri mereka adalah kelompok dan pengikut. Mereka hanya bergerak dengan membawa semangat barisan.

Halaman selanjutnya >>>
    Abdan Sakura