Penguasa Cerita Bertajuk Rindu

Penguasa Cerita Bertajuk Rindu
©Pikist

Tapi biar begitu aku tidak bisa munafik, sampai aku menulis ini pun kau masih jadi penguasa cerita bertajuk rindu.

Langit belum meminang matahari, tapi aku sudah menyambut kabut pada Januari yang dingin. Aku tengah menunggu kereta yang membawamu pulang, gadisku. 6 bulan yang panjang, dan aku tak kuasa menahan debar. Ku duduk di selasar tanpa atap, berteman karatan kaki bangku di Stasiun Malang.

Di sini pernah kulihat perihal air muka yang keruh serta desah sejoli yang menyatukan kelingking. “Ah, kau adalah kenang yang selalu punya cara untuk dikenang,” gumamku dengan menatap langit yang basah.

Teringat sepercik hujan semusim lalu, sebelum melepasmu yang akan hilang pada rerimbun manusia yang lalu-lalang. Aku dan kau saling menatap dan saling mengecup. Lalu kau mengiba, meminta sebuah temu pada waktu yang belum tentu. Aku tersenyum.

“Kita akan bertemu juga, Enu. Pada akhirnya jumpa akan datang pada suatu ketika.”

“Tidakkah kita akan saling melupa pada akhirnya?” tanyamu.

“Jika begitu, kita hanya tinggal memulai lagi. Bukankah jarak kita cuma waktu?”

Waktu itu senja hampir padam, dan mendung membuat langit petang kian bermuram. Kukencangkan jaket beludrumu sebatas leher, dan kupandangi matamu yang sayu. Kau remas tanganku, erat.

“Tidakkah kau takut melepasku, Nana?” kau bertanya

“Kenapa? Aku tidak takut melepas merpati. Jika dia baik, dia akan tahu jalan pulang.” Kau tersenyum.

****

Aku menoleh ke arah sesorot lampu dari barat, itu adalah kereta yang menghantarmu. Aku menebak-nebak kiranya dari gerbong nomor berapa kau akan muncul dengan senyum lepasmu lalu berteriak keras memanggil namaku?

Ah, kau gadis ayu yang lugu, kurun waktu enam purnama tak akan buat surut perangaimu. Ya, kau akan berlari dengan teriakan lantangmu lalu mendekapku dengan erat sampai sesak napasku.

Penumpang tumpah ruah. Seratus, dua ratus, dan entah berapa. Sebagian sudah dijemput kerabat dan mereka berpeluk mesra karena lama tak jumpa. Tapi kau? Di mana? Kuteriakkan namamu agar bisa kuperoleh perhatianmu, “Rina!” tapi tidak ada yang datang kepadaku, malah gadis lain yang bernama sama denganmu yang datang, tapi itu bukan kau!

Pandanganku memutar sekeliling, tapi mataku yang cekung tak juga bisa menangkap sosokmu yang belum kasat. Hingga surut para penumpang hadirmu tak dapat kujumpai. Juga pada tujuh kereta selanjutnya, gadis yang kutunggu masih urung untuk muncul.

Kupandangi langit yang mulai susut, dan hariku sudah hampir hilang senja. Apakah aku menunggu pada hari yang salah? Dan apakah benar kau akan segera kembali gadisku?

Aku masih duduk di atas bangku panjang karatan di Stasiun Malang, waktu-waktu berlalu. Jam besar di seberang peron berdentang-denting menunjuk waktu sudah tengah malam. Lalu-lalang manusia berkurang,  waktu sudah liar mengusik detik, dan yang tersisa hanyalah tubuh sendiri dan sepotong malam yang dingin serta kelabu, juga mimpi yang tidak bisa mengajakku terbang.

Kereta lain datang, kali ini dari arah timur. Lampunya menerobos halimun yang mulai pucat di rangkai larut. Sudah tak kutaruh harap pada kereta ini, apalagi dia beranjak dari timur, bukan dari arah kau pergi berpamitan.

Halaman selanjutnya >>>
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)