Penguasa Cerita Bertajuk Rindu

“Lalu kenapa kau bertanya, dan kenapa ingin tahu?”

***

Entah kau tak tahan dengan sikap sinisku, atau sekumpulan burung pipit yang terbang rendah di seberang kita membuat pandanganmu beralih.

“Aku selalu mencari tahu tentangmu, Nana.” kau bicara dengan nada menurun.

Aku ingin mengumpat mendengar jawabanmu. Tapi kutahan, aku berusaha menguasai keadaan dengan tidak terlihat menjadi pihak yang kalah di sini. Aku harus bisa menunjukkan bahwa hidupku sedang baik-baik saja, paling tidak di depanmu.

“Bagaimana hidupmu sekarang?” tanyaku

“Sejauh ini baik, Nana. Bagaimana denganmu?”

“Namaku Tinus, panggil saja dengan nama itu, dan jika aku tidak salah kau tadi bilang selalu mencari tahu tentangku. Tentunya kau sudah paham bagaimana,” kujawab cepat, dan kau mengangguk.

“Masih sendiri?” pertanyaanmu mencekat ludah di tenggorokanku. Ingin kujawab tidak, tapi aku takut ketahuan berbohong. Jadi biarlah untuk saat ini aku mengalah dengan mengangguk tipis.

“Bagaimana denganmu?” buru-buru kutanya balik, aku takut kau bertanya kenapa, dan baru sedetik, kusesali apa yang kutanyakan.

“Tadi aku ke sini diantar suamiku.”

“Oh,” jawabku lirih sambil mengembuskan asap rokok, diiringi perasaan perih. Berengsek ini sangat sakit bagiku!

“Aku menunggu kesempatan seperti ini untuk bertemu untuk memberi penjelasan. Tapi kupikir itu tidak lagi diperlukan, bukankah begitu?”

Dengan lembut kau sentuh pundakku. Sentuhan yang selalu aku tunggu selama lima tahun dan mengenai perkataanmu tadi benar juga, aku sudah cukup kecewa kehilanganmu, aku tidak mau bertambah sesal dengan tahu alasannya karena percuma. Semua sudah terjadi dan aku tidak bisa berbuat apa pun.

“Jadi, hari ini aku menemuimu setelah sekian lama untuk meminta maaf,” tambahmu lagi, kini dengan suara bergetar.

Jika kerinduan dan kemarahanku bisa dipadatkan, maka hari itu akan kutumpahkan semua di situ. Aku berpikir keras, kira-kira jawaban apa yang pantas kukatakan padamu. Baru saja mulutku terbuka, dengan cepat kau ubah posisi dudukmu dan bersimpuh persis di depanku.

“Tidak sehari pun kulewati tanpa penyesalan, Nana, aku telah berdosa. Aku mengakui kesalahanku, dan jika kau sudi maka…”

Halaman selanjutnya >>>
Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)