Penguatan Toleransi dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan

Penguatan Toleransi dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan
©Mubadalah

Pelatihan ini didesain untuk memperkuat kapasitas kepemudaan dan sayap perempuan dalam upaya penguatan toleransi.

Maarif Institute bekerja sama dengan P3M menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas untuk Pemuda dan Perempuan. Kegiatan yang dilakukan melalui Webinar ini dilaksanakan selama dua hari pada 20-21 September 2021 dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya: Pradana Boy (UMM Malang), Abd. Moqsith Ghazali (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Neng Dara Affiah (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), dan Imam Malik Ridwan (School of Social Sciences Western Sydney University NSW). Acara ini dimoderatori oleh Pipit Aidul Fitriyana (MAARIF Institute).

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan skill peserta dalam penguatan toleransi dan pencegahan ekstremisme kekerasan.

“Pelatihan ini didesain untuk memperkuat kapasitas kepemudaan dan sayap perempuan dalam upaya penguatan toleransi agar menjadi penangkal tumbuhnya radikalisme atas nama agama, politik, ras atau apa saja yang didasari perbedaan. Dukungan penguatan kapasitas ini akan membantu untuk memperkuat NU dan Muhammadiyah dalam mengarusutamakan Islam wasathiyah di Indonesia,” jelas Rohim.

Pradana Boy dalam paparannya mengungkapkan pentingnya gagasan Islam yang memihak kemanusiaan, namun dalam skala yang lebih global. Setidaknya diseminasi pelbagai etiko-religius seperti moderatisme Islam, demokrasi, pemerintahan yang baik, Hak Asasi Manusia, keadilan sosial dan ekonomi, serta keterlibatan akan kemajuan pengetahuan, sains dan teknologi, merupakan jalan yang mampu mengatasi segala krisis kemanusiaan global seperti perang, terorisme, radikalisme, ekstremisme keagamaan dan hegemoni-dominasi ekonomi, serta merebaknya kemiskinan dan ketertinggalan taraf pendidikan.

Abd. Moqsith Ghazali menegaskan bahwa seorang pemikir muslim tidaklah cukup beragumentasi dengan dalil-dalil teologis, akan tetapi harus didukung oleh dalil-dalil historis, di mana nilai ideal teologis itu dimanifestasikan dalam ruang dan waktu. Akar-akar konflik antaragama, menurutnya, tidaklah disebabkan oleh asumsi teologis penganutnya, tapi lebih banyak disebabkan oleh permasalahan sosial ekonomi politik yang tidak selesai di antara mereka.

“Negara Indonesia memiliki penduduk yang pluralistik dari berbagai suku, bangsa, bahasa, agama, dan lain-lain tentunya sangat dibutuhkan untuk memupuk sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain untuk menumbuhkan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan Qs al-Hujurat ayat 13 bahwa Allah menciptakan manusia dari jenis laki- laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku dan tujuannya untuk salingmengenal,” jelas Moqsith.

Sementara narasumber lainnya, Neng Dara Affiah dan Imam Malik, menyampaikan pesan yang hampir sama, yakni pentingnya pemahaman dan penerapan toleransi dalam kehidupan generasi milenial yang merupakan agen dari sebuah perubahan yang tentunya perlu disikapi dengan serius, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus diterapkan oleh generasi milenial saat ini.

Pelatihan ini akan diikuti oleh 50 orang peserta dari lima wilayah program; Makasar, Bandung, Malang, Bogor, dan Surakarta. Peserta terdiri dari sayap pemuda dan perempuan di lingkungan organisasi NU (Fatayat, GP Anshor, dan PMII) dan Muhammadiyah (Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan IMM). Di samping peserta dari NU dan Muhammadiyah, pelatihan ini juga akan diikuti oleh wakil dari ormas-ormas Islam lainnya.

Baca juga:
    Maarif Institute
    Latest posts by Maarif Institute (see all)