Pengulas Buku Bukan Tukang Gorengan

Pengulas Buku Bukan Tukang Gorengan
©Ist

Nalar PolitikSejatinya, pengulas buku bukan “tukang gorengan” yang bertugas “menggoreng” atau menggelembungkan sebuah karya hingga tampak jauh melampaui aslinya.. Begitu Anindita S Thayf menegaskan dalam Lima Puluh Juta untuk Pengulas Buku (Harian Fajar, 27/10).

Penulis cerpen dan novel kelahiran Makassar ini memulai ulasannya lewat satu esai George Orwell, Bagaimana Si Miskin Mati. Itu tentang para pengulas buku, yang hanya sedikit di antaranya yang benar-benar menjalankan perannya dengan baik.

“Orwell menilai bahwa sebagian besar ulasan buku memberikan keterangan yang menyesatkan. Ini terjadi karena banyak pengulas buku yang tidak becus.”

Dijelaskan Anindita, pengulas buku macam itu bisa muncul hanya karena “mengejar setoran”. Ulasan-ulasannya pun sebatas menghasilkan klise-klise sebagaimana yang dicontohkan Orwell: buku yang wajib dibaca, …membuat pembaca terkesan di setiap halamannya, atau …bagus sekali bab yang membahas tentang….

“Dengan ulasan semacam itu, pembaca tidak akan mendapat apa-apa, kecuali pernyataan bernada iklan.”

Maka kenapa Anindita kemudian menegaskan bahwa pengulas buku tidak sebaiknya sebatas jadi “tukang gorengan” saja. Yang patut difokuskan olehnya adalah penjabaran yang utuh dari sebuah karya.

“Khusus karya sastra, setidaknya hal itu terdiri dari dua unsur, yaitu bentuk dan isi. Masing-masing unsur tersebut kemudian dikuliti secara tajam. Sehingga, selain menghasilkan ulasan yang informatif, juga memberikan perspektif pembaca yang bisa memancing pembaca ulasan untuk bersikap lebih cerdas kala memilih bacaannya.”

Dengan fungsi yang demikian, banyak karya sastra bagus yang, mulanya tidak dikenal publik, mengalami perubahan nasib berkat peran para pengulas. Umpamanya, dicontohkan Anindita, Max Havelaar karya Multatuli.

“Mulanya, karya itu tidak dikenal luas oleh pembaca negeri ini kendati berisi hal yang sangat penting: tentang kolonialisme Belanda di tanah Hindia Belanda. Barulah setelah Kartini memberikan ulasan singkat dalam suratnya, karya tersebut mulai dikenal.”

Menyusul kemudian pengenalan lebih luas oleh mingguan Bintang Timur. Lalu oleh HB Jassin yang menerjemahkan karya Multatuli tersebut secara lengkap.

“Kini, karya Multatuli termasuk salah satu karya yang sudah diakrabi publik dan pembaca Indonesia. Bahkan telah menginspirasi lahirnya Museum Multatuli di Lebak, Banten.”

Peran Penting Lain dan Penghargaan untuk Pengulas Buku

Di luar domain sastra, para pengulas buku juga punya peran yang cukup penting di mata Anindita. Salah satunya, peran untuk menggali kembali karya-karya yang sudah hilang. Misalnya akibat pembakaran perpustakaan di kala perang dalam kasus Aleksandria di Mesir, di mana banyak pemikiran era Yunani di segala bidang lenyap.

“Karya-karya ini bisa kembali muncul, salah satunya, berkat ulasan-ulasan intelektual muslim di Cordoba, Spanyol. Lewat peran para pengulas buku, karya-karya yang hilang tersebut bisa terlahir kembali dan mengilhami hadirnya pemikiran-pemikiran baru yang kelak membuat Eropa mampu keluar dari Abad Kegelapan.”

Untuk itulah, usul Anindita, penghargaan sebesar-besarnya harus diberikan kepada siapa saja yang mau menjadi pengulas karya sesuai paparannya di atas. Misalnya di soal ruang, semestinya tidak boleh ada pembatasan karakter atau jumlah kata demi menghasilkan ulasan yang tajam.

Selanjutnya, penghargaan berupa honor pun mesti besar. Honorarium yang kecil hanya akan memberi kendala tersendiri bagi para pengulas buku, mengingat kegiatan tersebut mengharuskan mereka untuk membeli buku yang harganya sering kali tidak sebanding dengan honor mengulasnya.

“Salah satu jalan agar lahir pengulas buku berkualitas adalah dengan meminta bantuan pemerintah. Pemerintah bisa memberikan apresiasi kepada profesi ini dalam bentuk penghargaan.”

Sayangnya, sesal Anindita, dari 59 orang penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tidak ada seorang pengulas buku yang mendapatkannya. Padahal, baginya, profesi itu ibarat jembatan yang menghubungkan buku dan pembaca.

“Pengulas buku adalah duta baca non-resmi yang, dengan caranya sendiri, memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat.”

Mengingat para pengulas buku bak anak tiri yang dibuang dan tidak diakui di negeri ini, tidak pernah ada apresiasi untuknya dari sejak bangsa ini lahir, Anindita pun mendambakan, suatu saat nanti, pemerintah mau memberi penghargaan sebesar 50 juta rupiah untuk masing-masingnya.

“Hal ini tentu tidak akan ditolak. Selain bisa dipakai untuk membeli buku-buku berkualitas, uang tersebut—terlepas dari jumlahnya—juga adalah bukti bahwa perhatian dan harapan itu ternyata masih ada.” [fa]

Baca juga: