Pentingnya Keteladanan dan Meneladani

Pentingnya Keteladanan dan Meneladani
©Ponpes Langitan

“Keteladanan menjadi senjata ampuh yang tidak bisa dilawan dengan kebohongan, rekayasa, dan tipu daya.”

Sudah mafhum bahwa guru adalah aktor penting kemajuan peradaban bangsa ini. Dialah yang diharapkan mampu membentuk kepribadian, karakter, moralitas, dan kapabilitas intelektual generasi muda bangsa ini. Inilah tugas besar yang diharapkan dari seorang guru.

Bahwa tugas peradaban yang sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Berawal dari gurulah seorang murid mengenal ilmu, nilai, etika, moral, semangat, dan dunia luar yang masih asing bagi dirinya, khususnya mereka yang tinggal jauh dari pusat-pusat kota.

Dengan demikian, seorang guru tidak cukup hanya sekadar transfer of knowledge (memindah ilmu pengetahuan) dari sisi luarnya saja, tapi juga transfer of value (memindah nilai) dari sisi dalamnya. Perpaduan dalam dan luar inilah yang akan mengokohkan bangunan pengetahuan, moral, dan kepribadian murid dalam menyongsong masa depannya.

Dalam hal ini, kalau sekadar memindah ilmu pengetahuan, masa depan murid akan terancam. Sebab, moralitas dan integritas mereka rapuh, mudah terombang-ambing badai topan modernisasi yang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu hedonisme.

Begitupun, jika hanya memindah nilai saja tanpa mentransfer keilmuan yang memadai, mereka terancam pada gelombang salju dan tembok tebal kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan. Keduanya penting, dan harus berjalan seiring, tidak boleh ada yang dimarginalkan dari yang lain.

Artinya, seorang guru yang selama ini hanya berpikir sesaat saja, dalam arti hanya sekadar memberikan pengajaran, tanpa peduli terhadap perubahan sikap, perilaku, dan moralitas anak didiknya, maka sejak saat ini, jiwa raganya harus terpanggil untuk memperbaiki moralitas anak didiknya secara komprehensif.

Tak hanya itu, guru tidak boleh melempar tanggung jawabnya dengan berbagai alasan dan argumentasi yang absurd dan klise. Misalnya, itu bukan tanggung jawabnya, itu tanggung jawab kepala sekolah, tanggung jawab bagian penyuluh sekolah, tanggung jawab guru agama, tanggung jawab komite sekolah, dan lain-lain.

Baca juga:

Kenapa demikian? Karena masyarakat akan melihat dan memantau sikap perilaku seorang guru. Kalau sikap perilakunya bisa menjadi cermin bagi anak didik, maka masyarakat akan semakin mencintainya. Namun, jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan, masyarakat akan protes dan melaporkan kepada kepala sekolah karena bisa mencemarkan nama baik sekolah.

Pentingnya Keteladanan dan Meneladani

Syahdan. Tugas seorang guru adalah mengajar sekaligus mendidik, maka keteladanan dari seorang guru menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Keteladanan adalah senjata mematikan yang sulit untuk dilawan. Keteladanan bagaikan anak panah yang langsung mengenai sasaran. Keteladanan menjadi senjata ampuh yang tidak bisa dilawan dengan kebohongan, rekayasa, dan tipu daya.

Lebih dari itu, betapapun, bahwa keteladanan adalah suatu yang dipraktikkan, diamalkan bukan hanya dikhutbahkan, diperjuangkan, diwujudkan, dan dibuktikan. Karena itu, keteladanan menjadi perisai budaya yang sangat tajam yang bisa mengubah sesuatu secara cepat dan efektif.

Keteladanan adalah perilaku yang sesuai dengan norma, nilai, dan aturan yang ada dalam agama, adat istiadat, dan aturan negara.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Sebagai pemeluk agama, guru berkewajiban menaati aturan-aturan yang ada pada agama. Sebagai bagian dari penduduk suatu daerah, guru berkewajiban menghormati norma yang ada. Dan, sebagai warga negara, guru berkewajiban mematuhi aturan negara yang ada.

Bahkan, tanggung jawab menaati ketiga aturan tersebut bagi guru menjadi lebih, karena ia adalah sosok yang digugu dan ditiru. Bagaimana tidak! Ucapannya digugu, dan sikap tugas agung dan mulia inilah, seorang guru menjadi pahlawan mengantarkan bangsa yang sangat besar jasanya dalam anak didik menjadi kader-kader andal yang siap memajukan bangsa ini ke arah yang lebih produktif dan kompetitif, bersanding dengan negara-negara maju lainnya.

Alih-alih keteladanan guru sangat diharapkan bagi anak didik, seorang guru harus benar-benar mampu menempatkan diri pada porsi yang benar. Porsi yang benar yang dimaksudkan bukan berarti bahwa guru harus membatasi komunikasinya dengan siswa atau bahkan dengan sesama guru, tetapi yang penting bagaimana seorang guru tetap secara intensif berkomunikasi dengan seluruh warga sekolah, khususnya anak didik, namun tetap berada pada jalur dan batas-batas yang jelas.

Menjadi Sahabat Sejati

Untuk menjadi sahabat sejati, seorang guru bahkan harus mampu membuka diri untuk menjadi teman bagi siswanya, dan tempat siswanya berkeluh-kesah terhadap persoalan belajar yang dihadapi. Namun, dalam porsi ini, ada satu hal yang mesti diperhatikan, bahwa dalam kondisi apa pun, siswa harus tetap menganggap guru sebagai sosok yang wajib ia teladani, meski dalam praktiknya diperlakukan siswa layaknya sebagai teman.

Baca juga:

Dalam hal ini, berkomunikasi secara intensif dengan seluruh siswa sangat penting bagi guru dalam upaya menggali potensi yang dimiliki masing-masing siswa. Sebab, setiap siswa memiliki latar belakang berbeda dan potensi diri yang tentu berbeda pula.

Dan tentunya, potensi itu bisa saja tersimpan rapi, jika guru tidak berupaya menggalinya. Dengan demikian, seorang guru harus mampu mendapatkan informasi itu dari siswanya agar bisa diarahkan untuk hal-hal yang positif yang menunjang karier dan prestasi siswa.

Banyak indikator tingkah laku yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perkataan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Meski tidak mudah, bukan berarti mustahil dilakukan. Untuk itu, setiap guru harus senantiasa berupaya menjadi teladan bagi setiap siswanya, sehingga keteladanan yang diberikan akan mampu membawa perubahan yang berarti bagi anak didik dan juga bagi sekolah tempat ia mengabdi.

Dalam konteks keteladanan ini, kita patut belajar kepada para ulama, khususnya mereka yang mengasuh sebuah pesantren misalnya.

Kita tahu, dalam pesantren, aspek tarbiyah (pendidikan) lebih ditekankan dari pada aspek ta’lim (pengajaran). Aspek tarbiyah berlangsung selama 24 jam. Kiai tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga memberikan keteladanan dalam sikap perilaku yang bisa diamati dan diteladani santri-santrinya. Dari Interaksi lingkungan sini, internalisasi moral berjalan secara efektif.

Di sinilah pentingnya keteladanan dalam segala hal, sehingga perilaku seorang guru menjadi sumber inspirasi bagi perubahan anak didik ke arah yang lebih baik sesuai dengan cita- cita agama, masyarakat, dan bangsa. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)