Penyair Tua

Penyair Tua
Ilustrasi: wikiart.org

Penyair Tua yang lantang membaca sajak-sajak
Dari leher kurusnya terlihat urat-urat tegas
Di antara keramaian, tak satu yang peduli; tidak juga empati

Dalam kejauhan, samar-samar mendengar kata “lapar”
Aku mendekat, berjalan lebih cepat, dan lebih dekat lagi
Berjarak di depannya, mendengar dengan saksama

Seorang lagi di sampingku
Berdiri dan mencatat tiap kata terlontar
Bisiknya, “Ini memukau!”
“Sajak dari si miskin yang marah,” katanya lagi

Mendengar itu, akankah aku mengingat sang Cesar Vallejo?
Penyair besar di abadnya: Penyair yang lapar
Atau lagi
Sang penulis Roberto Bolano: Sang pengelana

Penyair Tua, dengan puisi mengalir tanpa henti
Menyihir bulu tanganku berdiri
Lontarannya bak lautan luas
Ombaknya terkadang menampar, menerjang
Atau
Air birunya yang kadang tenang

Kepadamu, Penyair Tua, kau adalah saudaraku
Sang pencinta, bahkan pada hidup yang tak berpihak.

Penyair Tua, melalui sajak-sajak, engkau tebar kegelisahan
Melalui sajak-sajak, kau bangun kesadaran
Melalui sajak-sajak, engkau membuatku jatuh cinta: pada hidup

Teman, aku tidak mengenalmu
Tapi, sajakmu itu memukauku
Sajak balasan untuk si tua
Kau baca keras di sampingnya: berharap ia tak sendiri
Judulnya sarat: Penyair Tua
Aku pemuda di sampingmu, masuk dalam bait
Malam ini, engkau siapa
Malam ini juga, kau tulis aku beserta catatan kecilku

Kita saudara dan tetap mencinta: pada hidup

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.

Uci Susilawati
Latest posts by Uci Susilawati (see all)