Peran Absolut Alquran dan Sunah di Masa Pandemi

Peran Absolut Alquran dan Sunah di Masa Pandemi
©Kompas

Pada fenomena ini, Islam hadir memberikan solusi melalui kitabnya yaitu Alquran sebagai pedoman.

Pandemi Covid-19 saat ini merupakan istilah yang familiar, baik bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Karena penyakit yang menurut pakar kesehatan disebabkan oleh coronavirus tipe baru yang oleh para pakar kesehatan diberikan nama SARS-CoV-2 ini, sejak kemunculannya bermula di wilayah kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada 1 Desember 2019, hingga saat ini di tahun 2021, masih belum reda-reda juga.

Padahal WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) telah menetapkannya sebagai pandemi per 11 Maret 2020.[1] Dari penetapan sebagai pandemi ini, banyak konsekuensi atau dampak yang timbul dari kebijakan organisasi kesehatan dunia tersebut. Baik di sektor pendidikan, keagamaan, pariwisata, olahraga, sosial, lebih-lebih di bidang ekonomi.

Pada fenomena ini, Islam hadir memberikan solusi melalui kitabnya yaitu Alquran sebagai pedoman Islam terkandung pada ayat-ayatnya menjelaskan mengenai kesehatan beserta keutamaannya. Selain menjadi sumber dalil hukum yang legal, Alquran juga merupakan sumber dari segala ilmu, salah satunya ilmu kesehatan.

Meskipun di dalam Alquran tidak dijelaskan secara spesifik, dalam ayat-ayatnya mengenai kesehatan, akan tetapi dapat menjadi dorongan untuk menerapkan berperilaku hidup sehat[2]. Oleh karena itu, kemudian muncul Sunah sebagai penjelas dari kalimat utama yang pada ayat Alquran itu.

Sedangkan menurut ulama fikih, definisi sunah menurut istilah yaitu sifat hukum pada suatu perbuatan dalam bentuk anjuran. Sunah ini tentu memiliki peran yang besar dalam melahirkan sebuah ijtihad pada fenomena pandemi Covid-19 ini.

Sebagai muslim yang beriman, hendaknya kita sebagai makhluknya selalu memohon ampun dan perlindungan kepada Allah SWT. dari segala macam bentuk dosa dan malapetaka, termasuk dampak dari fenomena besar yang kita alami hingga saat ini, yaitu pandemi COVID-19. Hal ini dapat kita implementasikan melalui firman Allah melalui ayat Alquran yang mana telah berperan sebagai sumber dari segala solusi dari permasalahan yang ada di dunia.

Pada Q.S. Al-Baqarah ayat 153 menjelaskan bahwa “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.[3]” Pada ayat ini, jika dikontekstualisasikan pada fenomena yang sedang kita hadapi ini, bahwa kita harus sabar menghadapi pandemi ini yaitu dengan cara sabar agar tidak menimbulkan kerumunan sehingga terbangunlah istilah social distancing.

Di sisi lain, kita juga harus menyadari bahwa virus korona atau virus COVID-19 ini juga merupakan ciptaan Allah SWT. Sesama ciptaan Allah hendaklah kita harus lebih takut kepada Allah daripada dengan virus COVID-19 ini dan juga tetap bersikap aware dengan tidak membahayakan diri sendiri dengan menantang bahaya.

Baca juga:

Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa kematian itu merupakan qodarullah dan sehat maupun sakit juga sudah menjadi takdir Allah SWT. Sehingga, paradigma dari masyarakat itu sendiri seolah-olah tidak merasa aware dengan fenomena besar yaitu pandemi  COVID-19 yang sedang kita hadapi hingga saat ini.

Alquran dan Sunah merupakan sumber hukum yang absolut dan legal untuk dijadikan landasan dalam menentukan sebuah hukum atau tindakan. Pada fenomena ini terdapat penjelasan dari Alquran pada Q.S Al-Baqarah ayat 195. Ayat ini menegaskan bahwa “janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.[4]

Selain pada ayat ini, terdapat juga hadis nabi yang senada dengan penjelasan yang ada pada Q.S. Al-Baqarah ini dengan hadis yang berbunyi “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain[5](H.R. Ibnu Majah).

Jika ditelaah lebih dalam, paradigma mengenai semua yang sudah ditakdirkan (qodarullah) itu memang dapat dikatakan benar. Akan tetapi, tidak juga berarti bahwa untuk membiarkan diri untuk menuju kepada bahaya yang tentunya dapat merugikan diri sendiri. Oleh karena itu Allah dan Rasulnya telah melarang manusia untuk membahayakan diri, apalagi orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Itu semua sudah terbukti melalui firman Allah dan Sunah Rasul yamg ada pada kalimat sebelumnya.

Secara spesifik, As-Sunnah juga sudah menjelaskan atau sudah memberikan solusi untuk menghadapi fenomena pandemi COVID-19 ini yang terdapat pada suatu hadis. Pada hadits tersebut menjalaskan bahwa “Apabila kalian mendengar wabah tha’un yang melanda di suatu negeri, maka janganlah kalian memasuki negeri itu. Adapun apabila penyakit itu melanda di suatu negeri yang sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keliar dari negeri itu[6]” (H.R. Bukhari, no. 3473 dan Muslim, no. 2218).

Selain itu Nabi Muhammad SAW. juga telah memperingati umatnya utnuk selalu mentaati perintah dan meninggalkan Allah SWT. dengan tujuan agar Allah memberikan penjagaan terhadap hambanya. Hal ini sesuai dengan sebuah hadis yang berbunyi “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (H.R. Ahmad, 1:293). Dengan demikian, dari beberapa dalil yang ada, manusia hidup untuk taat dan dapat menjaga diri dari segala mara bahaya.

Pemerintah Indonesia sudah pernah menerapkan berbagai ijtihad untuk mengatasi fenomena yang kita alami saat ini. Mulai dari lock down, PPKM dengan berbagai tingkatan levelnya, serta vaksin guna pencegahan melebarnya virus COVID-19 ini di Indonesia itu sendiri. Tentu dalam hal ini para ulama Indonesia juga sudah menyepakati dan melegalkan semua upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia itu sendiri.

Tak bisa dimungkiri, segala bentuk ijtihad itu bersumber kepada sumber hukum yang valid dan terjaga keotentikannya hingga kiamat yaitu kitab suci Alquran beserta pelengkapnya yaitu As-Sunnah.

Baca juga:

Oleh karena itu Alquran dan As-Sunnah tetap menjadi sumber hukum utama setelah adanya ijtihad. Seperti yang kita ketahui, meskipun di dalam Alquran dan As-Sunnah tidak jelas secara spesifik mengenai adanya problematika baru yang seiring muncul oleh perkembangan zaman.

Terdapat berbagai metode kajian seperti Qiyas, Istihsan, dan Istihsab. Meskipun demikian Alquran tetap menjadi pemantik untuk menemukan sebuah solusi dari berbagai masalah. Letak perbedaannya status Alquran ini dapat berubah menjadi relatif apabila memang tidak ada titik temu untuk menyelesaikan sebuah hukum baru.

  1. Wikipedia. Pandemi Covid-19. https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_COVID-19.
  2. Imaam Yakhsyallah. Webinar Festival Muharram MINA 1443 H. Jakarta.
  3. Q.S Al-Baqarah ayat 153
  4. S Al-Baqarah ayat 195
  5. H.R. Ibnu Majah
  6. H.R. Bukhari, no. 3473 dan Muslim, no. 2218
Raihan Faiz Irmanutama
Latest posts by Raihan Faiz Irmanutama (see all)