Peran Generasi Milenial Mewujudkan Cita Kemerdekaan

Peran Generasi Milenial Mewujudkan Cita Kemerdekaan
©MBA Studies

Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Mari menyambut dan menjawab tantangan milenial di masa kita.

Sebagaimana preambule UUD 1945, termaktub bahwa para pemerdeka bangsa mengantarkan kita hanya sampai pada pintu gerbangnya kemerdekaan. Maka, keterlibatan generasi di setiap waktu tentu kita perlukan untuk menuju dan merebut kemerdekaan yang sesungguhnya.

Hemat penulis, kemerdekaan yang sesungguhnya dalam konteks keindonesiaan adalah teraktualnya cita kemerdekaan, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Setiap generasi tentunya memiliki corak pemikiran dan tindakan yang berbeda. Ini sebagai akibat dari kondisi tertentu sebagai sebabnya.

Sebutlah Bung Karno dan Bung Hatta sebagai generasi yang lahir dari rahim ketertindasan oleh penjajah. Tiap kesehariannya (berdasarkan histori yang penulis baca) melulu ia isi dengan aktivitas yang produktif.

Mungkin itulah sebabnya, atas nama bangsa Indonesia, dwi-tunggal tersebut berhasil mengantarkan kita bangsa Indonesia untuk keluar dari rahim ketertindasan itu. Maka tak salah jika masyarakat merindukan kehadirannya untuk kembali mengarahkan bangsa ini, bukan lagi hanya mengantar kita keluar dari ketertindasan, tetapi sampai membuat dunia menjuluki Indonesia sebagai “Macan Asia”.

Tapi, apa perlu situasi dan kondisi penjajahan kita hadirkan kembali agar supaya sosok yang berjiwa menyerupainya terlahir lagi? Tentu tidak, dan sama sekali tidak. Karena, kita menolak konsep penjajahan dalam bentuk apa pun.

Lalu, apakah mungkin dengan kondisi seperti saat ini mampu kembali melahirkan sosok seperti founding fathers itu? Optimisme adalah sikap yang kita butuhkan guna meramu nilai yang berpayung dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila.

Generasi Milenial

Dewasa ini, generasi milenial menjadi topik yang cukup hangat di kalangan masyarakat. Mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral juga budaya, hampir semua mengenalinya, setidaknya pernah mendengar istilah generasi yang kini perbicangan khalayak ramai itu.

Akan tetapi, pertanyaannya adalah, siapakah sebenarnya generasi milenial? Apakah masyarakat benar-benar mengerti akan sebutan itu?

Milenial—kadang juga orang menyebutnya dengan generasi Y—adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000an. Maka, ini berarti bahwa milenial adalah generasi muda yang berumur 17-37 pada tahun ini.

Milenial sendiri orang anggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Generasi milenial memiliki ciri khas tersendiri, yaitu mereka lahir pada saat TV berwarna, handphone juga internet sudah terkenal, sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.

Di Indonesia sendiri, dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta jiwa yang merupakan generasi milenial atau berusia kisaran 17-37 tahun. Hal ini berarti Indonesia memiliki banyak kesempatan serta potensi untuk membangun negaranya.

Sayang, kiprah mereka tampak minim. Kontribusi atau peran mereka nyaris tak terlihat jika itu menyangkut soal kehidupan publik. Sehingga patut kita pertanyakan, ke manakah mereka pergi? Apakah mereka bersembunyi?

Idealisasi Generasi Milenial

Dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat kita lakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus.

Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan, baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi, maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat.

Halaman selanjutnya >>>
Latest posts by Hairil Amri (see all)