Peran Pendidikan Multikultural dalam Menghadapi Keberagaman di Indonesia

Peran Pendidikan Multikultural dalam Menghadapi Keberagaman di Indonesia
©YPSIM

Peran Pendidikan Multikultural dalam Menghadapi Keberagaman di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya dan suku bangsa yang beragam dan tersebar di berbagai macam daerah. Kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat keberagaman tidak hanya terbatas budaya dan suku bangsa saja melainkan juga bahasa, tempat tinggal, kepercayaan dan masih banyak lagi.

Kondisi yang beragam ini tentunya merupakan sebuah permasalahan karena memiliki potensi konflik yang cukup besar. Maka diperlukan suatu alternatif untuk setidaknya dapat meminimalisir terjadinya perpecahan, salah satunya dengan memaksimalkan pendidikan di sekolah.

Pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia  berkualitas yang dapat menjaga keutuhan negara. Dengan pertimbangan adanya keberagaman mulai dari suku, ras, budaya dan banyak hal lainnya, maka salah satu yang dapat dilakukan pada pendidikan adalah dengan mengimplementasikan pendidikan multikultural.

Model pendidikan ini menawarkan banyak manfaat tidak hanya dalam mengurangi potensi terjadinya konflik yang bisa menimbulkan perpecahan bagi wilayah yang memiliki banyak keragaman seperti Indonesia, namun juga dalam meningkatkan pembangunan manusia.

Pendidikan multikultural adalah salah satu model pendidikan yang pendekatan pengajaran dan pembelajaran didasarkan atas nilai-nilai demokratis dan mendorong berkembangnya pluralisme budaya dengan menerapkan prinsip kesetaraan. Pada mulanya, model pendidikan ini hadir sebagai wujud protes dari diskriminasi ras yang terjadi di Amerika Serikat. Dengan perbedaan latar belakang budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat, maka bentuk pendidikan multikultural yang dibutuhkan pun berbeda.

Bentuk multiculture yang ada di Indonesia menurut Amirin (2012) terdiri dari tiga kategori yaitu, isolate culture, cosmopolitan multiculture, dan accommodative culture. Isolated culture merupakan kondisi dimana tidak ada interaksi yang sangat kuat antar kelompok budaya masyarakat yang sebagian dikarenakan oleh batas-batas geografi, hal ini menyebabkan pemahaman masyarakat mengenai budaya lain yang terpisahkan oleh  batas geografi sangat kurang karena minimnya interaksi.

Kategori masyarakat cosmopolitan multiculture yaitu, terjadi perbauran antar budaya yang berbeda menjadi satu sehingga batas menjadi buram dan anggotanya sudah tidak terlalu peduli dengan nilai-nilai budayanya sendiri.  Kondisi ini biasa terjadi di kota-kota besar yang merupakan tempat pertemuan berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Sedangkan accommodative culture yaitu, terdapat kebudayaan subetnis dominan namun bisa hidup bersama dengan subetnis lain tanpa konflik ‘diskriminasi’ yang lain. Contohnya adalah dominasi etnis Jawa di Indonesia, namun tidak terjadi ‘diskriminasi’ kepada etnis lain.

Kondisi multikultural bangsa Indonesia seperti ini menurut Amir tidak pernah menimbulkan diskriminasi  rasial, etnis, atau kultur. Oleh karena itu, implementasi pendidikan multikultural di Indonesia, tidak dengan maksud untuk mengatasi diskriminasi rasial, etnis, atau kultural.

Baca juga:

Melihat kondisi yang ada, maka perlu diperhatikan lagi tujuan dan konsep dasar dari pendidikan multikultural agar dapat diketahui peran pendidikan multikultural terhadap keberagaman Indonesia.

Terdapat empat tujuan pendidikan pendidikan multikultural yang dirumuskan Banks (2002:1-4) pendiri Pusat Pendidikan Multikultural Universitas Washington yaitu, tidak hanya mengurangi derita dan diskriminasi ras, warna kulit, dan budaya serta membekali pengetahuan mengenai etnis dan budaya-budaya lain, budayanya sendiri dan lintas budaya. Melainkan juga membantu individu memahami diri sendiri secara mendalam dengan berkaca dari kacamata budaya lain, dan membantu dalam menguasai kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung.

Selain itu, terdapat konseptualisasi pendidikan multikultural yang dikemukakan oleh Banks (1993) dalam publikasinya dimana Ia mengkategorikan pendidikan multikultural terdiri dari lima dimensi, yakni: integrasi konten, proses konstruksi pengetahuan, pengurangan prasangka, pedagogi pemerataan, dan budaya sekolah dan struktur sosial yang memberdayakan. Masing-masing dimensi ini memiliki peran dan pengaruh yang penting terhadap keberhasilan pendidikan multikultural.

Akan tetapi, dalam penerapannya kesalahan umum yang sering terjadi adalah kecenderungan fokus terhadap satu dimensi saja yaitu integrasi konten mengenai keragaman suku, ras dan budaya padahal keempat dimensi lainnya juga tidak kalah penting. Menurut James, setiap peserta didik juga harus diberikan kesempatan yang sama tanpa memandang perbedaan kondisi, baik suku, budaya, jenis kelamin, dan lainnya. Mereka berhak mendapatkan persamaan di semua aspek pendidikan.

Oleh karenanya, dibutuhkan juga guru dalam proses belajar mengajar yang memberikan bimbingan, arahan yang sama pada semua peserta didiknya di kelas. Dimensi pedagogi pemerataan juga penting mengingat terdapat ketidakseimbangan dalam pemerataan pendidikan di Indonesia yang salah satunya disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia sehingga sulit untuk menjangkau masyarakat dari daerah sulit diakses.

Setelah melihat wacana yang ditampilkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural tidak hanya berperan dalam pencegahan konflik dan peningkatan pemahaman akan pengalaman etnis dan budaya lain yang merupakan hasil mempelajari latar belakang sejarah kelompok etnis dan budaya lain selama bersekolah, melainkan terdapat manfaat lain yang bisa didapatkan.

Dengan pengajaran berbasis budaya, nilai-nilai yang diajarkan baik dari budaya lain maupun budaya sendiri dapat berpengaruh terhadap perkembangan diri. Selain itu, karena pendidikan multikultural ini menerapkan pengajaran yang relate dengan kehidupan sehari-hari, maka memberikan kemudahan untuk menguasai kemampuan dasar seperti membaca, berhitung dan menulis. Manfaat yang didapatkan ini meningkatkan pembangunan manusia yang pada ujungnya akan berpengaruh pada kemajuan bangsa Indonesia.

Akan tetapi, terlepas dari manfaat yang didatangkan, masih terdapat banyak kekurangan dalam penerapan  pendidikan multikultural di Indonesia. Mulai dari proses konstruksi pengetahuan, pedagogi pemerataan, sampai pada masalah pemberdayaan di lingkungan sekolah dan sosial. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran oleh semua pihak yaitu pemerintah, pengelola pendidikan, masyarakat dan keluarga agar keberhasilan pendidikan multikultural ini dapat tercapai.

Referensi
  • Cherry A. McGee Banks, and James A. Banks (1995). Equity Pedagogy: An Essential
  • Component of Multicultural Education, Theory into Practice, Vol. 34, No. 3, pp. 152-158.
  • Banks, J.A. 1993c. “Multicultural education: Historical development, dimensions, and practice”. In Review of research in education, Edited by: Hammond, L.D. 3–49. Washington, DC: American Educational Research Association.
  • Banks, James A. (2002). An introduction to multicultural education. Boston: Allyn and Bacon.
  • Amirin, T. M. (2012). Implementasi pendekatan pendidikan multikultural kontekstual berbasis kearifan lokal di Indonesia. Jurnal pembangunan pendidikan: Fondasi dan aplikasi, 1(1).
  • Maslikhah. (2007). Pendidikan Multikultural.  PT.Temprina Media Grafika. hal. 432
  • Haidir Lubis & Faqih Hakim Hasibuan, Pendidikan Multikultural, (Medan), hal. 49-50