Peranan Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Peranan Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah
Ilustrasi: Wisuda Mahasiswa

Peranan mahasiswa layak kita sebut sebagai agent of changesosial control, kaum intelektual, insan akademis. Ataupun kita mengenal dengan slogan“ Maju mundurnya suatu bangsa tergantung kepada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang berintelektual. Berkemampuan akademis yang baik, berakhlak. Juga, memiliki potensi serta motivasi untuk perubahan yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan.

Tentunya jawaban itu ada dalam diri kita masing-masing. Sejauh mana kita memaknai hakikat kita sebagai mahasiswa, posisi dan peranan mahasiswa dalam pembangunan daerah.

Sebagai putera dan puteri daerah, sudah selayaknya wawasan kedaerahan menjadi salah satu hal yang harus dimiliki oleh setiap kita. Wawasan kedaerahan tidak harus diartikan dengan berpartisipasi secara langsung untuk bekerja dan mengabdi di pemerintah daerah asal.

Kita sebagai para putra-putri daerah yang saat ini menimba ilmu di luar daerah bisa menunjukkan kepedulian dalam pembangunan daerah dengan berbagai cara. Peranan mahasiswa, seperti ikut membangun citra yang baik, berprestasi di bidang keilmuan masing-masing dan membawa nama baik daerah. Yang terpenting adalah adanya komitmen dalam membangun, di mana pun kita berada.

Sifat Optimis Mahasiswa

Mahasiswa sebagai makhluk intelek, sudah selayaknya kita harus dapat menemukan formula yang tepat untuk mengembangkan diri. Mulai dari komponen yang terkecil, yaitu diri sendiri, dengan cara belajar dengan baik dan tidak mencemari nama baik daerah.

Satu hal yang tentunya menjadi kewajiban mahasiswa untuk turut berperan serta memberikan kontribusi berupa saran maupun kritikan yang sifatnya membangun. Sebagai insan akademik, peran serta para mahasiswa sebagai kontrol sosial sangat diperlukan demi majunya suatu daerah.

  1. Mengasah Kemampuan Reflektif     

Dalam mengembangkan perannya, kaum mahasiswa perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi dan aksi secara sekaligus.

Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan, baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi, maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat.

Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.

  1. Membangun Kebiasaan Bertindak

Di samping kemampuan reflektif, kaum mahasiswa juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, public discourse, tetapi juga agenda aksi yang nyata.

Jangan hanya bersikap NATONever Action, Talking Only, seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini.

Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia, serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi, dan pembaruan di beberapa belahan dunia.

Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya, dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang, solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua.

Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru.

Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis, dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka.

Dipadu dengan sifat semangat dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama, apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.

Peranan mahasiswa dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan, dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki, selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah.

Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun non-eksak.

Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat peranan mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka, baik secara personal maupun komunal, sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat.

Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas, dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu, mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.

Pada masa sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan.

Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah. Sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit,aplikatif dan bermutu.

Mahasiswa dan Pembangunan Daerah

Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah.

Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pendidikan, pangan, iptek, kesehatan, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan.

Dalam bidang pangan, misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan sebagai penghasil mangga. Di setiap musim panen, produksi mangga melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah sering kali jumlah produksi mangga melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak.

Berdasarkan permasalahan itu, peranan mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari mangga. Sehingga mangga yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, di samping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri.

Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja. Dengan begitu, pengangguran dapat dikurangi. Kripik mangga dan dodol mangga merupakan contoh produk sebagai wujud nyata dari usaha semacam ini.

#LombaEsaiMahasiswa

*Muhammad Arif Hidayatullah, Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia; Ketua DPW Partai Rakyat Merdeka

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)