Perang Dagang AS-Cina dan Peluang Indonesia

Perang Dagang AS-Cina dan Peluang Indonesia
┬ęKompas

Amerika Serikat (AS) dan Cina merupakan dua negara yang mempunyai kekuatan (power) terbesar dari segi ekonomi. Data statistik IMF (2019) masing-masing memperlihatkan mereka berada di peringkat ke-1 dan ke-2 dalam hal PDB (Pendapatan Domestik Bruto). Cina dengan nilai PDB US$ 25,27 triliun, sedangkan AS dengan nilai PDB US$ 20,49 triliun.

Selain itu, AS dan Cina merupakan negara eksportir terbesar di dunia. Cina yang memiliki berbagai macam produk dan menyebar di pasaran dunia membuat negara yang dijuluki negeri tirai bambu ini mengalami peningkatan ekonomi sangat luar biasa.

Sejak akhir 1970-an, pemerintah Cina telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ekonominya. Termasuk membuat perencanaan pusat yang agresif, memanfaatkan keunggulan tenaga kerja yang murah, mendevaluasi mata uang, dan mengembangkan sistem pabrik yang kuat untuk menyebarkan produknya ke seluruh dunia.

Hasilnya, Cina menjadi kekuatan ekonomi dunia baru dan katanya susah untuk ditiru atau ditandingi. Menurut laporan Bloomberg Economics, tidak ada satu negara pun yang dapat meniru Cina dalam mentransformasi ekonominya. Cina memiliki jaringan pabrik, pemasok, layanan logistik, dan infrastruktur transportasi yang rumit, yang didukung oleh uang dan teknologi serba-canggih.

Negara itu juga memiliki tenaga kerja yang banyak, murah, cerdas, dan mendapatkan akses hampir tanpa batas ke pasar global selama tiga dekade ini. Reformasi ekonomi yang dibuat oleh kepemimpinan empat presiden, Deng Xiaoping hingga XI Jinping, telah membawa perekonomian Cina yang dulu terisolasi menjadi lebih terbuka. Semenjak saat itu, ekonomi Cina bertransformasi dan tumbuh 10 persen rata-rata per tahun.

Baca juga:

Sedangkan, AS adalah negara adikuasa yang punya kekuatan dari segala aspek sejak kekuatan industri yang unggul pada awal abad ke-20. Hal ini akibat ledakan jumlah wirausahawan dan kedatangan jutaan pekerja imigran serta petani dari Eropa.

Kedikdayaan itu makin terasa dari berakhirnya Perang Dingin dengan ditandai bubarnya Uni Soviet sebagai pesaing beratnya tahun 1991. Hal itu kemudian menjadikan AS sebagai satu-satunya negara adikuasa. Namun, memasuki era postmodern, banyak negara maju yang bersaing menuju posisi terbaik dalam semua aspek kehidupan, terutama bidang ekonomi, teknologi, dan perindusrtian.

Dalam sistem ekonomi, AS menerapkan yang namanya sistem ekonomi kapitalis campuran (mixed economy) yang didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, infrastruktur yang dikembangkan dengan baik, dan produktivitas yang tinggi. Ekonomi campuran adalah istilah untuk menggambarkan kepemilikan sumber daya produktif oleh pihak swasta dan pihak pemerintah.

Adu Strategi

Perang dagang merupakan benturan kekuatan ekonomi antar-beberapa negara. Dalam Wikipedia, perang dagang adalah konflik ekonomi yang terjadi ketika suatu negara memberlakukan atau meningkatkan tarif atau hambatan perdagangan lainnya sebagai balasan terhadap hambatan perdagangan yang ditetapkan oleh pihak yang lain.

Dalam hal ini, dua kekuatan ekonomi dunia sedang berada dalam suasana konflik. Seperti yang diketahui, AS dan Cina melakukan perang dagang telah berlangsung sejak tahun 2018 yang ditandai saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif 25 persen pada impor baja dan 10 persen pada alumunium dari sejumlah negara. Tetapi hal ini tidak dilakukan Trump pada Cina.

Cina merespons dengan membalas bahwa daftar 128 produk AS yang akan dikenakan bea masuk ke Cina sebesar 15-25 persen persen jika negosiasi atas kebijakan AS atas tarif impor gagal.

Strategi keamanan nasional pemerintahan Trump menganggap Cina sebagai pesaing yang membahayakan hegemoni AS. Karena itu, Trump akan melakukan penghadangan terhadap kemajuan Cina di semua front. Praktiknya, AS dengan ketat membatasi investasi asing langsung dari Cina untuk sektor-sektor sensitif dan melakukan berbagai upaya untuk memastikan bahwa dominasi Barat terhadap industri strategis seperti kecerdasan buatan dan 5G.

Bahkan AS sedang melakukan tekanan pada sekutunya agar tidak berpartisi dalam proyek OBOR (one belt, one road), yaitu program Cina yang masif untuk membangun proyek infrastruktur yang terbantang dari Asia hingga ke Eropa.

Baca juga:

Sementara Cina yang pada Februari 2016 masih memegang surat utang AS senilai $1,25 triliun atau 20,1 persen dari total Treasury Securities. Sebab Cina merupakan negara yang kerap berada di posisi teratas negara pembeli surat utang Amerika. Sehingga pengurangan kepemilikan surat utang yang dilakukan Cina adalah salah satu jalan untuk memberi dampak buruk bagi ekonomi Amerika.

Pemicu lain yang saya rasa sangat menjadi faktor perang dagang ini terjadi adalah perekonomian Cina dalam kurun satu dekade ini telah meningkat tajam dengan bersaing keras melawan hegemoni AS. Dari mulai tingginya industri dari Cina hingga banyaknya sumber daya manusia yang cukup kompeten untuk bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

Aksi saling balas atas kebijakan kegiatan ekonomi (ekspor-impor) sebagai strategi kedua negara pun tidak berhenti sampai akhir 2019. Perang dagang dua raksasa ekonomi dunia kian memanas sampai sekarang, belum ada titik terang soal penuntasannya.

Dampak

Tentu dampak terbesar yang akan terjadi dari perang dagang ini sudah pasti akan memperburuk situasi ekonomi global. Lihat saja laporan dari IMF yang mengatakan beberapa dalam World Economic Outlook. Bahwa proyeksi menunjukkan pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 3,0 persen, turun dari 3,2 persen dalam perkiraan.

Ini sebagian besar karena meningkatnya dampak dari perang perdagangan AS-Cina. Prediksi tersebut adalah yang terendah sejak krisis keuangan lebih dari satu dekade lalu. Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menjelaskan pertumbuhan ekonomi terus melemah akibat meningkatnya hambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik.

Bahkan hal yang sama juga sudah diprediksi Tri Winarno, seorang Ekonom Senior Bank Indonesia. Ia telah memprediksi bahwa perang dagang total antara AS dan Cina kian sulit dielakkan. Sehingga akan memicu era baru deglobalisasi atau setidaknya ekonomi global akan terbagi menjadi dua blok yang saling tidak kompatibel.

Selain itu, ketegangan perdagangan antara AS dan Cina juga akan menekan pertumbuhan PDB secara global sebesar 0,8 persen pada 2020. Pertumbuhan di sejumlah negara berkembang juga dipengaruhi oleh tingkat produktivitas yang rendah, sedangkan pertumbuhan di negara maju dipengaruhi demografi penduduk yang menua.

Untuk Indonesia

Seperti diketahui bahwa makin hari makin sengit perang dagang antara AS dan Cina. Hal ini tentu akan berdampak pada ekonomi negara-negara lain, termasuk Indonesia yang merupakan jalur perekonomian dunia (strip world economics) dan pasar bebas (free market). Beberapa dampak yang sangat dirasakan adalah perekonomian Indonesia makin melemah, mengancam pasar modal, dan ekspor Indonesia tertekan.

Namun, apa pun kondisinya, jalan keluar mesti dicari ketika perang dagang antara kedua negara terus berlanjut. Maka pemerintah Indonesia harus pandai mencari posisi strategis dalam meningkatkan perekonomian negara dengan memanfaatkan situasi ini secara baik.

Apa yang harus dilakukan? Satu-satunya jalan adalah meningkatkan kegiatan ekspor untuk kedua negara yang sedang berkonflik dalam perang dagang ini. Prof. Murpin Josua Sembiring mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus bermitra dagang yang strategis di saat krisis perang dagang ini. Agar kita keluar menjadi pemenangnya.