Perawan Amnesia di Pinggir Kota

“Nak, kalau engkau nanti jadi perawat, kita akan jadi pelupa yang menawar luka.”

Riana masih mengiang rumput di petak-petak sawah yang sebentar lagi usai. Ia bekerja sejak lama sebelum bunga korma bermekaran di bibir sandaran bukit Busian. Riana sejenak duduk di pematang sawah sembari menegukkan secangkir kopi sore yang menjadi kebiasaan di kampung Kiloria. Ia memantapkan pandangan kepada warna senja yang memukau hatinya. Tapi itu tak memudarkan khayalannya yang asyik menghitung recehan-recehan uang logam di kaleng untuk anaknya yang akan sekolah jadi perawat desa.

“Bu, aku ingin sekolah di kota,” Amelia gadis yang menyodorkan secangkir beraroma kopi pada ibunya memantapkan nadanya yang polos.

Ia tersenyum melebarkan kedua bibirnya, menampilkan gigi ginsul dan lengkungan alis matanya yang akhirnya menjatuhkan parasnya yang elok. Ia sudah lama bermimpi menjadi perawat di desa. Tidak jarang ia bermain di rumah seorang perawat dari kota yang sering berlibur di kampungnya, sembari menanyakan secara lepas bebas tentang keasyikam perawat di kota.

“Aku ingin menjadi perawat yang nantinya akan mengeliling seluruh kampungku untuk menawar luka,” Amelia mengencangkan suaranya hingga senja menjemput ajal tanda berpulang dan tidak lagi memikirkan kakinya yang kesekian kali terantuk pada batu dan tanah ketika menuju rumah bersama ibunya.

Amelia kemudian mendaftarkan diri ke Fakultas keperawatan di pulau Jawa secara online dan dinyatakan lulus karena otaknya yang cemerlang. Benar saja bahwa Amelia sewaktu di SMK di desanya dikenal sebagai gadis bunga yang menjebak semua orang padanya dan pantaslah kalau Amelia bisa lulus dalam seleksi itu karena kepintarannya. Amelia kemudian menjadi mantap untuk melanjutkan impiannya menjadi perawat desa dengan dukungan Riana ibunya.

“Nak, kalau kau libur, sesekali bawalah roti dan kopi untukku,” Riana berusaha mencari kata yang cocok untuk seorang ibu yang akan merindukan anaknya yang berpamit dan kemudian berpisah.

Riana sudah hidup janda sekitar belasan tahun dan hidup berdua bersama Amelia. Riana bahkan bekerja di sawah sendiri untuk menghidupi anaknya yang tercinta Amelia. Amelia mengelengkan kepala, tidak mengungkapkan bahwa ia berjanji. Tepatnya, entahlah!

Baca juga:

Ingatan Riana tiba-tiba tertuju pada tahun-tahun silam. Saat Amelia berkisah tentang mimpinya di depan makam ayahanda, Amelia cerita mengenai sekelumit situasi kampung yang tak memberi kesan yang menarik. Hanya ada luka dan amnesia, air keruh, dan kering lusuh.

“Aku menyukai kampung ini karena menyimpan banyak aset-aset kehidupan,” ujar Riana yang menyandarkan bahunya pada tiang utama di pondok yang reot.

Amelia paham betul ungkapan ibunya. Riana adalah ibu sekaligus kepala keluarga bagi Amelia. Riana bekerja di sawah tanpa menghitung jumlah waktu. Riana bahkan sering mengeluh dengan waktu yang membuatnya lelah.

“Nak, kalau kau di kota nanti, ingat kisah kita,” ujar Riana dengan nada sendu.

Amelia memilih kuliah di kota untuk memperoleh banyak pengalaman tentang menawar luka di kampungnya, yang ia janjikan pada ibunya. Amelia bahkan pernah mendengar kabar buruk dari keluarganya yang juga mengadu nasib di kota. Namun alhasil mereka menjadi gadis malam yang malang di pinggir kota. Ia tidak menghiraukan itu demi mimpinya menjadi seorang perawat.

“Amelia, apa benar kau mau kuliah di kota dan mengujungiku?” Riana mengulangi pertanyaannya.

Amelia tahu kesedihan ibunya. Sejenak ia menatap wajah ibunya, yang dijumpainya adalah rasa rindu dan ketidakrelaan untuk ditinggalkan.

“Ibu, apa ibu lupa kita akan menjadi penawar luka?”

Halaman selanjutnya >>>
Yakobus Jehaman
Latest posts by Yakobus Jehaman (see all)