Perempuan Berlidah Api

Perempuan Berlidah Api
©Gempita

Seorang perempuan yang diduga massa dalam aksi demonstrasi penuntutan terhadap Presiden Tohpati ditemukan tewas mengenaskan.

Bunyi kecipak air terdengar dari hulu sungai di kaki gunung. Hari masih terlalu pagi, namun Gayatri sudah menenteng ember berisi pakaian kotor untuk dicuci. Mata air dari pegunungan yang masih terjaga kejernihannya itu memang kerap dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mandi, mencuci, memasak, dan keperluan irigasi.

Gayatri mengeluarkan pakaian kotor dari dalam ember. Namun, belum sempat ia mengeluarkan semuanya, dari arah semak-semak, Misbah datang tergopoh-gopoh menghampiri Gayatri. Pria paruh baya itu berulang kali memanggil Gayatri, tetapi sepertinya Gayatri tidak mendengarnya.

Hey, gawat!” Misbah menjeda ucapannya, karena masih berusaha melewati semak belukar yang berkali-kali menggores tubuhnya. Gayatri menoleh sebentar, “Suwardi ditahan di kantor Koramil.” Napas Misbah masih tersengal-sengal, namun masih dipaksakan untuk berbicara. “Rencananya, saya dan Sardiman mau menggerakkan aksi di balai kota.”

Seketika darah Gayatri mendidih. Udara pagi di pegunungan tak mampu mendinginkan hati Gayatri yang sudah telanjur bergejolak.

Kemarin, Gayatri dan massa lain sudah melakukan aksi demonstrasi yang menuntut agar Presiden Tohpati lengser dari jabatannya. Sejarah kelam selama kepemimpinannya membuat massa berani melawan pemerintahan otoriter Presiden Tohpati. Kepemimpinan Presiden Tohpati sudah sangat menyengsarakan rakyat; keadilan tak dapat ditegakkan; menindas rakyat lemah; korupsi tidak terkendali; harga-harga melambung tinggi; dan masih banyak bukti nyata kegagalan Presiden Tohpati dalam memimpin negara.

Sialnya, Suwardi yang kebetulan kemarin menjadi koordinator aksi dipanggil ke kantor Koramil untuk melakukan negosiasi. Suwardi dituduh telah melakukan rapat ilegal dan memprovokasi massa lainnya untuk menuntut Presiden Tohpati turun dari jabatan. Namun, nyatanya hingga sekarang Suwardi belum dibebaskan.

“Cepat! Kita harus ke sana.” Perempuan yang juga aktivis buruh itu cepat-cepat memasukkan pakaian yang belum sempat dicucinya itu ke dalam ember untuk dibawa pulang kembali.

Gayatri dan Misbah melawan arus untuk menyeberang sungai. Batu cadas yang dipijaknya amat licin. Hampir saja Gayatri terpeleset dan ikut terbawa arus sungai bila tidak hati-hati. Beruntung, kakinya cukup cekatan mengimbangi tubuhnya agar tidak terjerembab.

Sesampainya di rumah, Gayatri turut memanggil Sardiman. Mereka bertiga menyusun rencana. Meski tak ada yang melanjutkan pendidikan hingga SMA, mereka sangat kritis terhadap kepentingan orang banyak.

“Misbah mendatangi kantor Koramil untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Suwardi. Saya dan Sardiman yang akan mengkoordinasi aksi,” tutur Gayatri sambil memetakan strategi aksi untuk hari ini.

***

“Rakyat yang selama ini ditindas sudah saatnya untuk membuka suara. Setelah sekian lama dibungkam, diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan, dipaksa pasrah oleh keadaan, kini kita harus bangkit!” Suara Gayatri bergaung di depan istana presiden. Kini ia menggantikan posisi Suwardi untuk berorasi.

Massa yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat menyuarakan tuntutan yang sama: menuntut Presiden Tohpati turun dari jabatannya. Ada mahasiswa, organisasi masyarakat, serikat buruh, bahkan petani dan nelayan pun ikut turun ke jalan.

Massa demonstrasi dipanggang terik. Akan tetapi, tidak sedikit pun menyurutkan niat mereka untuk menyuarakan aspirasi. Halaman istana negara sudah menjadi ‘lautan’ manusia. Media dari berbagai penjuru negeri meliput aksi. Aparat berjaga dengan senjata api dan gas air mata andalannya. Orasi bergemuruh di mana-mana terdengar amat memekakkan telinga.

Aksi hari kedua ini masih berjalan alot. Mulanya, aksi berjalan damai dengan pengawalan ketat oleh aparat. Namun, tiba-tiba aparat memukul mundur massa. Terjadilah kericuhan.

Aksi kedua ini juga masih mengalami kebuntuan. Akhirnya dipanggillah beberapa perwakilan ke kantor Koramil. Gayatri maju sebagai perwakilan dari serikat buruh.

“Tidak usah demo lagi. Dengar suaranya; di dalam, teman-temanmu disiksa. Kalau masih melawan Presiden Tohpati, nasibmu akan sama seperti mereka,” bentak salah seorang aparat.

Di lain tempat, Presiden Tohpati terus mengawasi perkembangan aksi demonstrasi dari laporan orang-orang kepercayaannya.

“Tangkap dan asingkan siapa saja yang melawan saya,” titah Presiden Tohpati kepada ajudannya.

***

“Dasar semprul! Sudah didemo, masih saja bertengger di istana,” ucap Misbah sambil tangannya menerima kopi panas yang disodorkan Mak Wiji.

Sardiman, Suwardi, dan Misbah seperti biasa saat hari Minggu tiba akan nongkrong di warung kopi Mak Wiji. Biasanya Gayatri juga akan ikut, namun hari ini ia belum datang. Sementara Suwardi tengah malam tadi baru diizinkan pulang dari kantor Koramil.

“Itu presiden apa preman? Masa cuma memberikan kritik terhadap pemerintahan langsung dijebloskan ke penjara? Lah, selama pemerintahannya sudah ketahuan dipenuhi praktik korupsi, kolusi, nepotisme, bahkan dia sendiri pun ikut andil, tapi masih saja dipelihara sampai sekarang,” Sardiman memberikan pendapat.

Obrolan mereka masih seputar bobroknya pemerintahan Presiden Tohpati juga aksi yang digelarnya selama dua hari kemarin. Segelas kopi hitam dan semangkok mi rebus menemani obrolan mereka.

Dipertemukan saat sama-sama bekerja di pabrik rokok, Misbah, Suwardi, dan Sardiman, tak lupa juga Gayatri, mereka sering berdiskusi perihal politik dan ekonomi. Walaupun memiliki keterbatasan pendidikan, hal itu tidak membuat mereka berhenti berpikir kritis. Justru, mereka bersikap acuh terhadap permasalahan yang merebak di masyarakat.

Baca juga:

“Tumben Gayatri belum datang?” ujar Suwardi di sela-sela obrolan.

“Mungkin masih nyuci di sungai,” balas Sardiman.

“Sejak demo kemarin, saya belum ketemu Gayatri. Apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya?” Suwardi sedikit cemas.

***

Berita hari ini: Seorang perempuan yang diduga massa dalam aksi demonstrasi penuntutan terhadap Presiden Tohpati, yang sempat menghilang beberapa hari lalu, ditemukan tewas mengenaskan di hutan dengan kondisi tangan terikat.

Dalam sehari, berita penemuan jasad perempuan yang diduga adalah Gayatri meledak di koran-koran. Sardiman tercekat. Dengkul Misbah lemas. Suwardi melongo menatap koran yang masih dipegangnya.

“Kita harus ke sana untuk memastikan!” ujar Suwardi kepada kawan-kawannya.

Siangnya, Suwardi, Misbah, dan Sardiman mendatangi lokasi penemuan jasad yang diduga adalah Gayatri. Sesampainya di sana, terkapar sebujur jasad perempuan yang tubuhnya sudah hancur tengah diikatkan pada sebuah pohon. Wajahnya biru lebam. Badannya terkoyak. Ususnya terburai. Kemaluannya robek seperti bekas ditodong senjata.

“Benar, itu jenazah Gayatri,” Sardiman berucap lirih.

“Tapi, kenapa seperti dikoyak anjing? Mungkinkah anjing liar telah merenggut nyawa Gayatri?” Misbah ikut nimbrung.

“Untuk apa Gayatri ke hutan? Bukankah terakhir ia ke kantor Koramil?” Sardiman menimpali.

“Bukan anjing biasa,” balas Suwardi.

“Lalu?”

“Anjing yang lebih bejat daripada seekor anjing geladak sekali pun.”

    Finka Novitasari
    Latest posts by Finka Novitasari (see all)