Perempuan Berpribadi Ganda

Perempuan Berpribadi Ganda
©Kumparan

Di depan rumahnya kau masih saja menunggu hujan reda. Kau pun mulai gelisah sejak senja merosot dan langit masih mendung, dan hujan masih seperti butir-butir embun. Kau dihantui pikiran-pikiranmu yang kau sendiri belum yakin kebenarannya. Lalu kau belajar memaki diri sendiri, entah untuk alasan apa.

Kau tahu, ini semua tak pernah kau inginkan untuk terjadi. Ketika semuanya sudah sunghuh-sungguh terjadi, kau tak tahu harus menyalahkan siapa. Kesetiaan yang belajar dari kesakitan, kini hampir tak ada bedanya dengan sebuah kebodohan.

Kau terdiam sementara hujan sudah berhenti menjatuhkan dirinya. Dan kau masih dengan ritual yang sama, menunggu. Ini adalah untuk yang kesekian kalinya kau ditemani sepi. Dan malam yang pekat dengan bau tanah yang tajam menyublim ke dalam hatimu.

Gelisah di hatimu meninggi seperti petir yang tak lelah merayu langit. Sedang angin membawa ke telingamu kenangan lama tentang kau dan wanitamu pada senja yang hilang di tikungan rumahmu ketika kalian menikmati secangkir kopi bersama. Di saat-saat seperti inilah kau selalu merasa terluka di hatimu yang gelisah, kembali berdarah. Dan selalu kau kembali pada ritual rutinmu, diam.

Tapi tiba-tiba diammu terusik ketika kau melihat seorang perempuan berjalan ke arahmu. Dahinya basah oleh keringat. Pakaiannya sedikit berantakan, bahkan beberapa kancing bajunya belum terpasang. Dadanya terlihat jelas bahkan buah dadanya.

Ia memberimu sebuah senyuman. Dan kau sulit sekali membahasakan senyuman itu. Kemudian ia pun berlalu ditelan gelap sebelum kau membalas senyum padanya.

Selepas perginya, Antonia muncul dari tempat yang sama, seperti perempuan tadi. Tak ada bedanya dari perempuan tadi, rambut Antonia berantakan. Ada beberapa noda merah di pipinya. Seperti bekas gigitan. Kau begitu heran dan ingin sekali kau bertanya kepadanya apa penyebab dari bekas yang ada dipipinya itu. Tapi sekali-kali kau tidak berhasil.

“Sudah lama di sini?” ia bertanya padamu.

Kau mengangguk. Hanya itu gestulasi yang mampu dihasilkan oleh tubuhmu. Bibirmu seakan ditinggal kata-kata. Tepatnya kau membisu.

“Kau lihat semuanya?” sekali lagi ia bertanya.

“Ya,” jawabmu datar.

Akhirnya kau berhasil mengalahkan kebisuanmu sendiri. Antonia hanya memainkan rambutnya yang berantakan itu tanpa menatap matamu.

“Mengapa kau melakukan semuanya itu?” tanyamu.

Kali ini kau yang berbicara. Sedangkan Antonia masih dengan hal yang sama, memainkan rambutnya yang berantakan. Sesekali ia memegang jarinya seperti mau mengatakan sesuatu, tapi ragu untuk mengatakannya.

Kau bertanya seperti itu karena sudah berulang-ulang kau mendapatkannya dalam pelukan seorang perempuan yang tidak kau kenal. Bahkan pernah kau mendapatkannya sedang tidur dengan saudarimu sendiri dalam keadaan telanjang.

Sejak saat itu kau seperti laki-laki bodoh karena tidak pernah tahu siapa perempuan yang kau cintai itu. Tapi tidak untuk hari ini. Kau merasa sudah saatnya kau harus bicara. Kau sudah terlalu lama diam, dan diammu itu tidak menjawabi persoalan. Kau sadar ternyata diam adalah tidak ada jawaban.

“Kau seorang lesbian?” tanyamu sopan.

“Tidak!”

“Yakin?”

“Ya,” jawabnya singkat.

“Lalu, mengapa kau selalu suka dengan perempuan bahkan sampai pada hal yang seharusnya tidak boleh kau buat? Meniduri mereka.”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa aku ingin sekali melakukannya dengan perempuan,” jawabnya tenang.

Tiba-tiba keadaan kembali diam. Sesekali matanya menatap matamu amat tajam namun kau berusaha menghindarinya.

Sebenarnya kau sudah bosan pada keadaan seperti ini. Setelah sekian lama bertahan dengan keadaan ini, kini kau merasa sungguh-sungguh lelah. Kau tahu, cinta selalu diperjuangkan, tapi kau sadar bahwa inilah saat di mana telah lelah memperjuangkan cinta itu. Cinta yang kau pertahankan hari demi hari entah mengapa terasa sangat rapuh saat itu.

“Kau marah?” ia bertanya.

Ada isak yang tersangkut pada kalimat yang barusan ia ucapkan itu. Sementara itu, ia mempererat genggamannya pada tanganmu. Dan kau memberanikan dirimu untuk mengangkat kepala dan menatap matanya. Di kelopak matanya, gundah telah menjelma air mata yang menggenang.

“Kini aku sulit membedakan mana yang amarah dan mana yang cinta. Aku selalu berharap kau selalu membedakannya untukku, tapi kau sendiri tak peduli. Kau selalu sibuk dengan dirimu sendiri, sehingga kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan saat ini. Kau tahu betapa aku mencintai dirimu, namun sampai sekarang aku belum tahu apakah kau mencintaiku atau tidak.”

Ia akhirnya menangis. Kau memeluknya dalam-dalam dan tak ingin kau melepaskannya lagi. Kau selalu tak kuat melihat ia menangis.

“Sudahlah. Jangan menangis lagi. Air mata tak selalu membalikkan keadaan, bukan? Aku selalu di sini untukmu.”

Malam itu menjadi malam yang lain untuk kau maknai. Bagimu malam itu menjadi awal baru kalian memupuk sebuah hubungan menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

***

Setelah dua tahun kalian menikah, hidupmu dan ia makin baik. Kalian mempunyai rumah sendiri dan hidup dari apa yang kalian sama-sama usahakan layaknya sebuah keluarga. Tapi bagimu masih ada yang kurang karena kalian masih saja belum punya anak.

Sudah beberapa kali kau memintanya untuk melakukan hal yang layaknya sebagai suami istri, selalu saja ada alasan darinya kalau ada anak nanti membuatnya sulit mengursi mereka. Kau begitu heran ketika ia menjawab seperti itu. Tapi kau selalu tenang menerima keadaan itu.

Pernah di suatu hari ketika kau pulang dari kantormu, kau mendapatkan ia sedang dalam pelukan seorang perempuan yang adalah temanmu sendiri. Kesakitan dan amarah menimpamu. Namun kau selalu sabar dengan keadaan seperti itu.

Senyum kemenangan buncah di bibirmu. Tanpa suara kau meninggalkan ia lalu beranjak keluar. Maka dengan kerelaan yang basah, tanpa air mata, tanpa senyum, tanpa luka kau meninggalkannya. Serentak ia mengejarmu dan sesekali memanggil namamu.

“Cukup, Antonia,” bantahmu.

“Aku sudah bosan dengan keadaan seperti ini. Sesungguhnya kau bukan perempuan normal.”

“Ya, kau benar,” sambarnya cepat.

“Kau terlambat untuk mengerti tentang aku yang sebenarnya.”

“Mengapa sekarang baru kau beritahu yang sebenarnya?” tanyamu.

“Maafkan aku. Sebenarnya aku mau jujur dari awal kepadamu. Tapi aku takut, kalau kau pergi, saat kau tahu yang sebenarnya siapa aku ini.”

Kau melihat air matanya luruh membentuk satu garis lurus di pipinya. Dan kau selalu tak kuat melihat ia menangis. Kau begitu hampa. Hatimu tersesat di antara perasaan-perasaanmu sendiri.

“Sebenarnya aku seperti ini karena ibuku. Dulu ketika aku berumur satu tahun, ibu dan ayahku berpisah karena ayah selingkuh. Ibuku terpukul sekali karena laki-laki yang sangat ia cintai tidak menghargai pengorbananya.

Dari peristiwa itu, ibu selalu mengajarkanku bahwa semua laki-laki itu pengkhianat. Pergaulanku dibatasi. Aku hanya menjadikan semua perempuan sebagai temanku.

Ketika ibu melihat aku bermain dengan teman laki-laki, aku akan dikurung pada ruangan yang gelap. Dari situ aku belajar membenci laki-laki.

Sejak aku berumur enam belas tahun, aku begitu tertarik dengan perempuan. Dan sering kami berhubungan dan aku begitu bahagia setelah melakukan hal itu. Sampai aku sendiri sadar bahwa apa yang aku buat itu adalah salah.”

Kau begitu diam setelah ia menjelaskan mengapa ia seperti itu. Kini kau telah mengetahui semuanya. Kau berusaha berdamai dengan diri sendiri, dengan pikiran-pikiranmu yang berkecamuk, dan dengan ia yang masih betah dalam kepalamu.

Meski terkesan seperti sedang berpura-pura, namun kau merasa makin tegar. Kau makin terbiasa dengan sikapnya. Kau memeluk tubuhnya dan mengecup bibirnya berkali-kali, namun kau tak bisa merasakan apa-apa selain kehampaan.

Sejak saat itu untuk terakhir kalinya kau melihat ia menangis dalam penyesalan. Sebelum kau sadar bahwa kau juga seperti ia, mencintai sesama jenismu sendiri.

    Sonny Kelen
    Latest posts by Sonny Kelen (see all)