Perempuan dalam Tragedi Pernikahan

Perempuan dalam Tragedi Pernikahan
©Brides

Pernikahan adalah situasi yang dialami secara berbeda oleh laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki, pernikahan tidak lain merupakan awal dari proses bagaimana ia menciptakan sejarahnya di tengah-tengah masyarakat. Sementara bagi perempuan, itu hanyalah transisi supremasi sejarah ayahnya kepada sejarah yang akan diciptakan suaminya.

Pada intinya, perempuan selalu saja menjadi sosok yang tidak menyejarah. Namun, sebagian kalangan feminis percaya bahwa perempuan akan menjadi subjek yang utuh di dalam institusi pernikahan selama sistem pernikahan tersebut dijalankan dengan cara monogami. Oleh karena itu pula, tidak sedikit kalangan feminis menolak sistem pernikahan poligami yang diklaim sebagai wujud dari supremasi laki-laki atas perempuan.

Kartini, misalnya, tidak ragu-ragu menyebut poligami sebagai suatu dosa karena ia cenderung menyebabkan perempuan tersiksa dan menderita. Persoalannya kemudian adalah, jika memang monogami merupakan satu-satunya pernikahan yang ideal, lalu mengapa ia dianggap ideal? Mungkinkah pernikahan monogami secara inhern akan melenyapkan supreamasi laki-laki yang menjadi sumber ke-tersiksa-an dan penderitaan perempuan?

Persoalan-persoalan inilah yang akan coba penulis uraikan dalam tulisan singkat ini.

Adalah Karl Marx dan Frederick Engels yang bersikukuh mengatakan bahwa cara manusia memproduksi kebutuhannya akan menentukan corak pergaulan mereka di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, dalam bukunya Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara, Engels menyebut corak sistem produksi juga akan turut serta menentukan corak hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan.

Ada tiga corak perkawinan yang, menurut Engels, dibentuk oleh sistem produksi tertentu, yaitu pernikahan kelompok, pernikahan berpasangan, dan pernikahan monogami.

Pernikahan kelompok adalah sistem pernikahan yang ada dalam masyarakat komunal primitif, yaitu masyarakat yang belum mengenal kepemilikan pribadi (private property) dan institusi keluarga (family) sebagaimana yang ada dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat ini, alat-alat produksi adalah milik kolektif dan setiap laki-laki adalah suami dari setiap perempuan; suatu bentuk masyarakat yang sangat diidealkan Plato dalam Republik-nya.

Dalam masyarakat ini pula, perempuan tidak hidup di bawah supremasi laki-laki. Apa yang terjadi justru sebaliknya; perempuan dipandang sebagai sosok yang lebih mulia ketimbang laki-laki, sehingga Tuhan pun harus diproyeksikan sebagai sosok perempuan.

Setelah masyarakat mengenal kepemilikan pribadi, masyarakat komunal primitif pun bertransformasi menjadi masyarakat barbarisme. Adanya transformasi dari masyarakat komunal primitif ke masyarakat barbarisme disertai pula dengan transformasi sistem pernikahan kelompok ke sistem pernikahan berpasangan.

Dalam pernikahan berpasangan ini, setiap laki-laki tidak lagi menjadi suami bagi setiap perempuan. Melainkan, setiap laki-laki memiliki istri utama di samping istri-istrinya yang lain dan demikian pula sebaliknya; perempuan memiliki suami utama di samping suami-suaminya yang lain.

Baca juga:

Tidak jauh berbeda dengan masyarakat komunal primitif. Dalam masyarakat barbarisme, laki-laki dan perempuan masih memiliki hak yang setara untuk tidak setia sehingga poligami dan poliandri masih dianggap sebagi sesuatu yang wajar. Tentu saja, baik itu pernikahan kelompok maupun pernikahan berpasangan sama menjijikkannya di mata masyarakat beradab.

Corak pernikahan selanjutnya adalah sistem pernikahan yang ada dalam masyarakat kapitalis, yaitu monogami. Sistem pernikahan ini sama sekali tidak lagi mengenal kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Bukan hanya hak milik (property right), bahkan hak untuk tidak setia pun hanya ada pada laki-laki.

Itulah mengapa Engels mengatakan bahwa monogami yang ada dalam masyarakat kapitalis sebenarnya hanya berlaku untuk perempuan saja, dan tidak sedikit pun berlaku untuk laki-laki. Apa yang menyebabkan adanya ketidaksetaraan hak dalam pernikahan monogami, menurut Engels, tidak lain karena monogami itu sendiri, bersamaan dengan suprastruktur lainnya, hadir untuk kepentingan ekonomi laki-laki.

“Perempuan selalu saja menjadi kaum proletar dalam institusi keluarga, sementara laki-laki adalah kaum borjuis,” demikian Engels mengatakan.

Dalam pernikahan monogami, perempuan berada di bawah supremasi total laki-laki. Dengan supremasi tersebut, perempuan pun disingkirkan dari sistem produksi sosial. Artinya, perempuan tidak lagi ikut serta dalam mengendalikan alat-alat produksi. Akibatnya, satu-satunya ranah yang di dalamnya perempuan meyibukkan diri adalah institusi keluarga.

Namun, dalam institusi keluarga pun perempuan tidak lagi memiliki peran yang krusial selain dari menjaga harta kekayaan sang suami dan melahirkan anak-anak yang akan menjadi pewaris harta kekayaan suaminya. Singkatnya, perempuan adalah rahim. Tanpa rahim, kedudukannya sebagai perempuan tidak bernilai.

Selanjutnya, Engels menjelaskan, suprastruktur-suprastruktur yang lain, baik itu hukum, agama, maupun norma-norma moral, sangat berperan penting melanggengkan supremasi laki-laki atas perempuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika stigma-stigma seperti “otak perempuan setengah dari otak laki-laki” atau “kepatuhan atas suami adalah surganya perempuan” berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Masyarakat Indonesia sendiri tentu akrab dengan stigma-stigma seperti di atas. Bahkan masyarakat Indonesia juga, terlebih-labih mereka yang pernah mengenyam sistem pendidikan tradisional, sangat akrab dengan literatur-literatur yang isinya sarat dengan kepentingan laki-laki.

Sebutlah, misalnya, kitab ‘Uqud al-Lujjain yang ditulis oleh Imam Nawawi Muhammad ibn Umar al-Bantany al-Jawy (1813-1898). Dalam kitab tersebut, secara eksplisit dijelaskan bahwa perempuan adalah tawanan (mamlukat) di hadapan suaminya. Karena perempuan adalah tawanan, maka ia tidak sedikit pun memiliki hak untuk membelanjakan hartanya sendiri tanpa seizin suaminya.

Jika sebagian kalangan feminis mengklaim poligami sebagai mimpi buruk bagi perempuan, maka sistem pernikahan monogami yang lahir dari kultur masyarakat kapitalis akan memperburuk mimpi buruk tersebut. Kemudian apakah itu artinya sistem pernikahan monogami harus dilenyapkan dari peradaban umat manusia?

Baca juga:

Apa yang ingin disampaikan Engels sebenarnya adalah, selama sistem monogami itu dilandasi oleh motif ekonomi, maka selama itu pula ia tidak lebih baik dari poligami. Engels sendiri sangat mengidealkan pernikahan monogami; monogami yang di dalamnya cinta dibalas dengan cinta, bukan dengan uang.

Apa yang seharusnya dilenyapkan bukanlah monogami an sich, melainkan motif ekonomi yang melandasinya. Ketika motif ekonomi ini telah dilenyapkan, maka akan terbentuklah tatanan masyarakat di mana keadilan akan dibalas dengan keadilan, kebajikan dengan kebajikan, dan tentunya cinta akan dibalas dengan cinta.

Pun jika cinta Anda tidak cukup membuat Anda menjadi sosok yang patut dicintai, meminjam istilah Marx, itu semata-mata karena cinta Anda impoten dan malang, bukan karena Anda tidak punya uang.

Latest posts by Minrahadi Lubis (see all)