Perempuan dan Filter Globalisasi

Perempuan dan Filter Globalisasi
Ilustrasi: brettcolephotography.com

Perempuan Indonesia harus bahu-membahu untuk ambil bagian dalam berkontribusi nyata mengganjal arus globalisasi. Dalam pribadi seorang perempuan, harus menumbuh-kembangkan semangat nasionalisme yang tinggi serta tangguh pada pribadinya

Secara eksistensial, setiap manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama. Sehingga secara asasi berhak untuk dihormati dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya (Trisakti Handayanirakat, 1996). Begitu juga dengan keberadaan seorang perempuan. Menghormati dan diperlakukan dengan selayaknya merupakan suatu keharusan.

Perempuan bisa diartikan makhluk lemah lembut dan penuh limpahan kasih sayang karena perasaan perempuan begitu halus nan mempesona. Dewasa ini, bila melihat sifat perempuan syarat akan keindahan, kelembutan serta rendah hati dan menjaga/memelihara, seperti itulah sekilas gambaran perihal perempuan yang sering terdengar.

Bila dilihat secara biologis, perempuan dibedakan atas perempuan lebih kecil dari laki‑laki. Suaranya lebih halus, perkembangan tubuh perempuan terjadi lebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki‑laki, dan sebagainya. Perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem. Perasaan perempuan lebih cepat menangis, dan bahkan pingsan apabila menghadapi persoalan berat. (Murtadlo Muthahari, 1995).

Akan tetapi, di balik itu, perempuan ibarat permata yang harus dijaga dan dihormati keberadaaannya. Karena perempuan merupakan bagian yang terpenting di balik kesuksesan seseorang, baik itu kesuksesan anak-anaknya, lebih-lebih kesuksesan suaminya. Semisal ibu dalam hal mendidik anak. Perempuan sangat besar perannya karena perempuan yang jauh lebih lama membersamai anak-anaknya dalam berumah tangga.

Dengan peran yang begitu besar dalam hal mendidik anak tersebut, seorang perempuan dituntut untuk memperkaya pengetahuan dan pengalamannya. Perempuan perlu mendidik dirinya di lingkup strata pendidikan setinggi-tingginya.

Selain itu, Sri Lestari dalam Victorianus Aries Siswanto (2009) mengatakan, secara umum masih sedikit yang menyadari bahwa perempuan menghadapi persoalan yang spesifik gender. Persoalan yang hanya muncul karena seseorang atau kelompok orang adalah perempuan. Tidak saja di kalangan laki-laki, tapi kaum perempuan sendiri yang masih banyak tidak menyadari hal tersebut. Sehingga memandang tidak perlu persoalan perempuan harus dibahas dan diperhatikan secara khusus.

Kondisi demikian terjadi karena mendalamnya penanaman nilai-nilai mengenai peran laki-laki dan perempuan, yang menganggap sudah kodratnya perempuan sebagai ratu rumah tangga, sebagai pengendali urusan domestik saja. Sehingga adanya pikiran dan keinginan mengenai kesempatan beraktivitas di luar domain rumah tangga dianggap sesuatu yang mengada-ada. Maka tak aneh ketika muncul paradigma perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Toh akhirnya hanya akan mengurus sekitar kasur, sumur, dan dapur.

Seiring dengan kemajuan arus globalisasi, perempuan sudah mulai menampakkan kemampuannya walaupun masih lebih rendah dibanding laki-laki. Ditunjukkan oleh data BPS tahun 2000, perempuan sekarang mulai terlihat memiliki motivasi untuk terjun di bidang wiraswasta atau usaha dengan alasan mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan kerja.

Sebenarnya sudah lama sebagian perempuan Indonesia terlibat dalam wiraswasta. Namun, karena adanya persoalan spesifik gender, maka pemberdayaan perempuan belum tersentuh dan belum nampak di bumi Indonesia (Victorianus Aries Siswanto, 2009).

Keharusan Memfilterisasi Arus Globalisasi

Globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Seorang pakar Indonesia, Selo Soemardjan, memandang globalisasi sebagai sebuah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama.

Dewasa ini, adanya globalisasi memudahkan kita mendapat informasi, pandangan-pandangan, serta pemikiran yang berkembang di dunia internasioal. Selain itu, produk serta aspek-aspek kebudayaan yang terjadi di dunia internasioanal dapat dengan mudah masuk dan dinikmati di Indonesia.

Adanya arus globalisasi mampu dengan mudah mengubah pola pikir manusia, baik pada pola pikir yang negatif, lebih-lebih pola pikir yang positif. Hal demikian juga tidak terkecuali pada perubahan pola pikir perempuan. Karena globalisasi selalu menawarkan yang baru dan yang indah-indah.

Seorang perempuan mudah dibujuk dan dirayu dengan hal-hal indah dan menggiurkan. Dengan hadirnya era globalisasi dewasa ini, seorang perempuan dituntut dan diharuskan membentengi dirinya dari rayuan-rayuan menggiurkan akibat era globalisasi.

Saat ini banyak hal mudah didapatkan informasinya, semisal dalam hal informasi fashion-fashion yang lagi trend di dunia. Apalagi saat ini Indonesia sudah dijangkiti era perdagangan bebas. Bukan hanya barang elektronik, teknologi, bahkan budaya pun bebas masuk di negara tercinta kita. Sehingga tidak jarang dari remaja Indonesia, terutama perempuan, yang lebih tertarik dengan barang-barang bahkan budaya dari luar yang jelas-jelas tidak seutuhnya sesuai dengan adat istiadat dan jati diri bangsa Indonesia.

Dengan kondisi demikian, apakah kita sebagai anak bangsa hanya diam dan menerima begitu saja apa pun budaya barat tanpa menyaring serta memfilterisasi mana yang sesuai dengan karakteristik bangsa?

Perempuan Indonesia harus bahu-membahu untuk ambil bagian dalam berkontribusi nyata mengganjal arus globalisasi. Dalam pribadi seorang perempuan, harus menumbuh-kembangkan semangat nasionalisme yang tinggi serta tangguh pada pribadinya. Misalnya dalam hal fashion, sebagai perempuan, harus mempunyai semangat menularkan rasa mencintai produk dan hasil karya dalam negeri.

Saat dihadapkan dengan kondisi yang baru, maka yang harus dilakukan seorang perempuan adalah mempelajari terlebih dahulu budaya atau teknologi yang dimaksud. Mana-mana yang sesuai dengan karakteristik bangsa dan mana yang tidak. Karena perempuan yang cerdas, dia dapat memilah tanpa harus menerima dengan bulat apa informasi yang ia dapat.

Perempuan Indonesia harus mampu memikirkan apa dampak negatif dan positif dari budaya atau teknologi dewasa ini. Karena pada dasarnya, setiap budaya serta teknologi yang masuk, pasti mempunyai dampak positif dan negatif. Untuk perempuan tangguh Indonesia, sebaiknya pilih budaya atau teknologi yang lebih banyak membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain di sekelilingnya.

Selain menghindari dampak negatif arus globalisasi, perempuan Indonesia juga tidak boleh menafikan adanya dampak positif globalisasi. Beberapa hal positif yang bisa dipelajari, di antaranya terkait adanya etos kerja dan disiplin yang tinggi serta kemajuan Iptek dari negara lain.

Membangun Kualitas Diri

Dewasa ini, manusia dihadapkan dengan situasi serbacanggih, kompetisi yang superkuat. Untuk membendungnya, perlu kesadaran dan kemauan penuh dalam diri setiap insan untuk sadar dalam melakukan penguatan diri.

Banyak persoalan-persoalan yang membendung sebagai penghalang pengembangan potensi diri seorang perempuan. Rosida Tiurma Manurung (2012) mengungkapkan, masalah kualitas diri perempuan antara lain dipengaruhi lingkungan di mana perempuan tersebut dibesarkan. Seperti kondisi sosial budaya, pandangan masyarakat, sangat berpengaruh terhadap perkembangan diri seseorang, tidak terkecuali seorang perempuan.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kesadaran sikap dan kesadaran perempuan itu sendiri untuk belajar mengenali diri sendiri, serta memahami sesuatu yang menjadi cita-cita, berdasarkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Membangun sebuah keyakinan dan mengungkapkan dengan sejujurnya suatu keinginan sangat perlu dilakukan, karena tidak semua hal mampu terbaca oleh semua orang tentang apa dan bagaimana keinginan seseorang, terlebih keinginan untuk memimpin suatu organisasi atau suatu pemerintahan.

Hilangkan semua keraguan dalam hati untuk mau mengambil peran strategis bila mempunyai keyakinan kuat dan mempunyai misi yang besar untuk membawa organisasi atau pemerintahan agar lebih besar dan lebih berjaya lagi.

Dalam hal ini, Rosida Tiurma Manurung (2012: 97) mengungkapkan bahwa perempuan sebaiknya harus jujur terhadap kemauannya untuk menduduki posisi pemimpin, dan sewajibnya disertai niat dan tekad yang kuat untuk maju dan berkembang menuju peningkatan kualitas diri. Hal ini mesti dilakukan karena tidak sedikit perempuan yang sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang, tetapi ragu-ragu dan takut mengambil risiko sehingga lebih suka menangguhkan pekerjaannya.

Tidak mungkin seorang perempuan menduduki posisi pemimpin jika ia tidak membangun kualitas dirinya. Upaya pemberdayaan potensi dan peningkatan kualitas diri seorang perempuan mutlak diperlukan untuk dijadikan sebuah kekuatan.

*M. Jamil, Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM

___________________

Artikel Terkait:
    Kontributor