Perempuan dan Pandemi

Perempuan dan Pandemi
©Lip6

Perkembangan covid yang makin melanglang buana melebur di setiap inci napas bumi. Tak hanya kota dan negara, individu dari tiap masyarakat pun resah. Banyak aktivitas masyarakat yang terhenti seperti perekonomian, pendidikan serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. kegiatan-kegiatan dil uar ruangan tentu sangat berpotensi besar untuk berlangsungnya hidup bermasyarakat. Mata rantai masyarakat spontan terhenti sebab mewabahnya covid.

Dalam hal ini sejumlah penelitian mengungkap bahwa perempuan termasuk kelompok yang paling rentan terdampak covid. Tersebab pandemi turut memunculkan tantangan bagi perempuan terutama meningkatnya beban perempuan di rumah tangga dan potensi kekerasan terhadap perempuan.

Situasi ini mengharuskan kaum perempuan untuk dapat berdikari dalam segala aspek. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, aktivitas perekonomian keluarga hingga kesehatan dan pengganti peran guru selama berlangsungnya daring di masa pandemi. Tak hanya perempuan di masa pandemi ini yang merasakan dampaknya. Semua orang benar-benar merasakannya. Namun, di sini perempuan lebik ekstra kerjanya.

Peneliti Bidang Politik dan Gender Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerangkan pada umumnya perempuan diharapkan berkontribusi pada ketahanan keluarga selama masa pandemi. Layaknya teladan R.A Kartini yang memiliki sikap berani, mandiri, optimis dan tekad yang bulat diharapkan dapat diterapkan kaum perempuan di masa pandemi ini. Tak hanya berpangku tangan menanti pria untuk berambisi maju meperbaiki keadan. Namun sebagai perempuan kita juga harus bisa bergerak memperbaiki grafik ekonomi dalam penerapan hidup.

Situasi pandemi covid-19 ini membutuhkan perempuan yang sangat tangguh. Tak hanya intelektualitas namun perempuan yang juga bisa memberikan pendidikan agama, fisik, psikologis, sosial, dan seksual. Awalnya mungkin akan terasa sangat berat melakukan segala peran dalam waktu dan ruang yang sama. Namun pada akhirnya segala hal ini dapat menyenangkan jika kita berpikiran positif.

Perempuan sebagai ibu harus bisa memberikan tempat ternyaman dalam sebuah rumah meskipun stay at home (di rumah saja) selama pandemi berlangsung. Sisi positif dari pandemi ini ialah kedekatan kita dengan keluarga yang bertambah dari yang biasanya memiliki kesibukan masing-masing diluar rumah. Ibu juga dapat memanfaatkan kondisi ini untuk pendekatan terhadap anak dengan berbagai aktivitas-aktivitas yang produktif.

Dan bagi para perempuan yang berkarier bisa lebih banyak mendampingi anak belajar di rumah meskipun tetap WFH (work from home). Peran sentral perempuan pada pendampingan pembelajaran jarak jauh (PJJ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdapat orang tua di 34 provinsi memperlihatkan dominasi keterlibatan ibu dengan mencatat 66,7% dari 41.082 responden.

Realitasnya selama pandemi berlangsung kebanyakan perempuan mengelola 50% Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dan ini berhasil dikelola melalui usaha online yang diterapkan perempuan guna untuk memulihkan dan mempertahankan mata pencaharian.

“Perempuan lebih dekat dengan keluarga. Dia menjaga kesehatan keluarga,” kata Kepala Seksi Statistik Sosial BPS Kota Solo, Bambang Nugraha. Menurut beliau perempuan adalah benteng pertahanan keluarga. Tersebab perempuan lebih disiplin protokol kesehatan ketimbang pria.

Perempuan diharap bisa kreatif mengemas edukasi kesehatan dalam keluarga. Hal ini dapat di awali dengan melakukan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Menurut Permenkes No. 74 Tahun 2015, ada tiga strategi yang dapat diterapkan dalam Germas.

Pertama, pemberdayaan masyarakat, dilakukan dalam rangka menciptakan kesadaran, kemauan, serta kemampuan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Kedua, advokasi, dilakukan dalam rangka mendapatkan dukungan dalam bentuk kebijakan dan sumberdaya yang diperlukan. Ketiga, kemitraan, dilakukan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan advokasi dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Penerapan Germas pada masa pandemik Covi ini dilakukan oleh sosok perempuan yang sejak dini dalam lingkup kecil lebih dahulu pada keluarga sebagai peran istri bahkan seorang ibu. Aplikasi yang diterapkan Germas pada keluarga yaitu aktivitas fisik 30 menit setiap hari dengan berolah raga, makan buah-buahan dan sayuran setiap hari, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer (jika kondisi darurat), membersihkan lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Rizka Amalia
Latest posts by Rizka Amalia (see all)