Perempuan Ideal

Perempuan Ideal
Foto: berdikarionline

Terma perempuan ideal merupakan pengistilahan yang debatable. Tidak semua orang, terutama kaum lelaki penyuka perempuan, memiliki kecenderungan sama atas penentuan sosok perempuan yang ideal. Kita memiliki kriteria masing-masing ihwal sosok perempuan ideal  berdasarkan kebutuhan atau keinginan    sesuai selera kita.

Banyak faktor yang melatarbelakangi kenapa kita mengidamkan keidealan tertentu pada perempuan. Entah dorongan hasrat seksual, intelektualitas, etika, moral, gaya hidup, kepercayaan, bahkan faktor teman-teman sepergaulan hingga lingkungan keluarga begitu berperan membentuk mindset kita untuk merumuskan sekiranya seperti apa perempuan yang kita sebut “ideal”.

Saya sendiri, sebagai lelaki penyuka perempuan, kerap terlibat pembicaraan dengan sesama teman penyuka perempuan lainnya ihwal perempuan ideal. Tentunya kami sama-sama memiliki ketertarikan terhadap perempuan hingga bisa terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Keidealan sosok perempuan yang kami idam-idamkan jarang sekali bisa sama. Kadang, saya dan beberapa teman memiliki kesamaan kriteria untuk merumuskan hal tersebut. Kenapa bisa begitu? Sebab kami memiliki kesamaan latar belakang.

Semisal, ketika saya dan seorang teman    secara kebetulan    menyepakati kriteria sosok perempuan ideal dalam sebuah pembicaraan. Kami bisa saja saling menyepakati bahwa sosok perempuan yang gemar membaca, pendiskusi, peduli nasib orang lain, supel, luwes, kritis, dan berpemikiran terbuka adalah sosok perempuan ideal. Wajar saja bila kami bisa menyepakati hal tersebut. Tiada lain karena saya dan teman saya itu sama-sama aktivis pergerakan dan pegiat literasi amatiran.

Artinya, sosok perempuan ideal yang kami idamkan sesuai dengan kebutuhan kita sendiri. Walau ternyata, kami masih juga mengangankan diri untuk bisa dekat dengan sosok perempuan yang memiliki kriteria lain. Berarti selain urusan kebutuhan, kami masih punya keinginan untuk merasakan sosok perempuan tertentu. Dan ini yang membikin orang macam saya rentan untuk mengubah-ubah kriteria dalam menentukan keidealan sosok perempuan.

Pengidealan atas sosok perempuan yang rentan berubah-ubah ini, bagi saya, bukanlah kelabilan. Ini kasus yang teramat wajar dialami individu yang tertarik pada perempuan dan memiliki sumber daya referensial melimpah. Sudah pasti faktor-faktor yang saya sebutkan di atas bisa mempengaruhinya. Dan pengidealan sosok perempuan bukan hanya secara nonfisik. Urusan fisik kerap mempengaruhi penentuan kriteria, yang ternyata, hal ini rentan berubah-ubah juga. Kalau penentuan keidealan perempuan secara fisik, biasanya didorong faktor gaya hidup dan hasrat seksualitas.

Jadi, secara fisik dan nonfisik, keidealan sosok perempuan yang kita idam-idamkan bisa saja berubah. Namun bukan berarti tanpa halangan untuk kita bisa merdeka memilih sosok perempuan. Ada kecenderungan tertentu (faktor eksternal diri kita) yang kadangkala mencoba memaksakan kriteria-kriteria ideal atas perempuan. Selera berperempuan kita kerap diatur nilai-nilai yang entah dari mana asalnya; komersialisme, maskulinitas, kekolotan, dan politik kekuasaan.

Bahkan saya sendiri harus pintar-pintar mengatur diri untuk menentukan langkah kapan saatnya melawan atau menahan diri bila ada paradigma sesat atas kriteria perempuan. Beberapa orang yang saya kenal menganggap bahwa kriteria fisik pasti mempengaruhi hal nonfisik tertentu pada perempuan. Begitupun sebaliknya. Saya jelas menolak paradigma demikian.

Perempuan bukanlah makhluk pasif yang bisa berperilaku dan berpemikiran berdasarkan bentuk tubuh tertentu. Begitupun bentuk tubuh tak melulu menyebabkan perempuan hanya bisa berkelakuan dan menganut pemikiran tertentu. Maka pandangan yang menyatakan bahwa kaitan antara bentuk fisik dan aspek nonfisik pada perempuan adalah absolut, itu jelas-jelas pandangan salah kaprah: jelas-jelas mentah!

Saya dan beberapa teman penyuka perempuan bisa berpemikiran dinamis atas sosok perempuan ideal. Dengan penuh kesadaran dan berpernyataan jujur, keidealan kami atas sosok perempuan memang rentan berubah-ubah. Semua itu, ya, tergantung pada selera yang berlandaskan kebutuhan hidup atau kenginan dalam angan.

Tantangan bagi orang macam kami ialah kecenderungan tertentu yang mengidealkan perempuan harus menjadi sosok tertentu. Bahkan berlandaskan tafsiran nilai-nilai yang antah-berantah, ada pihak-pihak tertentu yang berani dan penuh percaya diri mengklaim perempuan harus menjadi sosok tertentu biar bisa dikata “ideal”.

Di era keterbukaan informasi dan pluralitas ruang komunikasi sekarang ini, klaim-klaim antah berantah atas pengidealan sosok perempuan bisa dengan mudah kita temui, wabilkhusus di ruang digital. Ada yang kolot dan memihak sosok perempuan tertentu. Ada juga yang secara demokratik menghormati gerakan perempuan harus didukung sesuai kebutuhannya masing-masing.

Menghadapi hal tersebut   pengidealan perempuan   sudah bukan hal aneh bagi saya. Kita tak bisa menghindari idealisme-idealisme yang debatable. Setidaknya, kita harus cerdas berdebat supaya bisa efisien-efektif mengarah-tempatkan idealisme kita akan sosok perempuan.

Seperti jangan terlalu buang tenaga untuk melayani kekolotan Felix Siauw yang memandang buruk perilaku perempuan pekerja. Namun di luar batok kepala Felix, ternyata ada perempuan-perempuan pekerja (petani) dari Kendeng yang memiliki idealisme ihwal kelestarian alam berkaitan erat dengan kesejahteraan perekonomian lokal. Perempuan-perempuan tersebut kerap bolak-balik beraksi di Rembang-Semarang-Jakarta hanya untuk menggagalkan keberadaan (operasi) pabrik semen milik PT Semen Indonesia.

Lihat juga: Feminisme di Indonesia: Sekilas Sejarah dan Dinamika

Perempuan-perempuan Kendeng mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan ialah wujud penjelmaan Kartinisme kekinian. Bila dulu Kartini memperjuangkan kesetaraan peran perempuan di bawah kuasa patriarki-feodalistik, kini para perempuan Kendeng kukuh memperjuangkan kelestarian alam-pertanian. Para perempuan Kendeng memandang bahwa perjuangan pelestarian kesejahteraan sama halnya dengan yang diperjuangkan Kartini; suatu bentuk kesetaraan peran perempuan.

Apalagi, yang dihadapi perempuan-perempun Kendeng ialah kubu kapitalis negara. Hampir sama dengan perjuangan gerakan perempuan lainnya, kapitalisme selalu menjadi biang kerok permasalahan perempuan.

Kapitalis memang sering mengobjektivikasi perempuan melalui produk-produk bikinannya: iklan, media, acara hiburan, hingga perabotan hidup. Di sinilah kita bisa melihat relasi antara perempuan dan kekuasaan; kapitalis sering berhasrat ingin menguasai perempuan supaya bisa menjadi “ideal”.

Maka itu, saya salut kepada perempuan-perempuan yang jujur-berani-terbuka memperjuangkan apa yang mereka butuhkan untuk hidup. Layaknya para Kartini Kendeng, kaum perempuan pekerja pun rutin mengorganisir diri pada momen May Day untuk mengaspirasikan kesejahterannya via ruang-ruang publik.

Bagi mereka yang pekerja, entah pekerja rumah tangga (PRT) maupun buruh pabrik, ternyata banyak mengalami diskriminasi peran perempuan. Ada perbedaan soal gaji/honor, apalagi ketika sedang cuti akibat hamil atau haid. Begitulah narasi para perempuan pejuang.

Jujur saja, saya menganggap perempuan pejuang itu “seksi”. Terminologi “seksi” yang saya maksud bukanlah mengarah pada kenampakan fisik. “Seksi”, bagi saya, tak harus merujuk pada kehendak libido kita; tak harus menuruti hasrat seksual.

Bagi para penyuka perempuan yang menempatkan perempuan hanya pada sektor seks, tentunya akan sangat sulit memahami maksud saya ini. Memang susah juga menggeser terma “seksi” untuk ditujukan pada urusan nonfisik.

Belum apa-apa, bila kita ketahuan mengucap kata “seksi”, ternyata masih kerap dianggap sebagai makhluk yang penuh hasrat seksual menggebu. Tapi tak apalah, lebih baik kita fokus pada “keseksian” hidup yang lain, yakni perjuangan kesejahteraan.

Berbicara perjuangan kesejahteraan, saya selalu nyaman dengan perempuan-perempuan pejuang kesejahteraan hidup (yang jujur-berani-terbuka). Saya selalu bangga menjadi teman hidup mereka.

Menjadi “teman hidup” tak usah melulu diasosiasikan dengan urusan asmara. Teman hidup bisa dalam tataran ideologi dan perjuangan bersama. Jadi, tak perlu menjadi seorang pacar atau suami dari perempuan tertentu jika kita memang benar-benar niat untuk memperjuangkan kesejahteraan perempuan.

Kesejahteraan perempuan adalah wacana yang dinamis. Di sinilah perempuan menentukan peran untuk aktif-mengkonstruksi atau pasif-dikonstruksi sistem kesejahteraan. Urusan ekonomi, kesetaraan peran, penghilangan stigma, kebebasan berekspresi, dan hak politik merupakan serangkaian wacana kesejahteraan yang benar-benar dibutuhkan perempuan.

Banyak perempuan yang saya temui secara jujur-berani-terbuka mewacanakan hal demikian. Ada yang menyebut mereka feminis dan bahkan di antara mereka pun dengan terang-terangan mengakui menganut feminisme. Padahal, feminisme itu banyak variannya. Di sinilah, saya jadi merasa bingung. Daripada kebingungan, saya menyebut mereka “perempuan pejuang”.

Perempuan pejuang adalah mereka yang mengidealkan diri mereka sendiri secara aktif-konstruktif; yang memperjuangkan sesuatu    secara jujur-berani-terbuka. Begitulah mereka yang ideal, yakni yang tahu keidealan mereka sendiri berdasarkan kebutuhan yang hendak mereka akses, bukan menurut pada keinginan ideal yang menguasai mereka. Dan, mereka, perempuan yang berjuang, tidak harus melulu mengatasnamakan feminisme.

Sekali lagi, saya salut kepada para perempuan pejuang. Mereka, seperti layaknya petani-petani Kendeng, tidaklah harus menjadi kaum feminis sekolahan, apalagi feminis yang hanya bergaya hidup feminis.

Sebagai pengagum yang bangga akan mereka, saya tidak berhak mengkotak-kotakkan keidealan perempuan hanya menurut pandangan saya pribadi. Sesuatu yang “ideal”, ya, datangnya harus dialektis dan melalui kesepakatan. Kalau kesepakatan itu dirasa sudah basi (tidak “ideal” lagi), ya, saatnya kita berdialektika menemukan idealisme baru.

Hingga saat ini, saya pun masih sibuk mengidealkan diri sendiri. Menjadi penyuka perempuan, tentunya harus sadar kerentanan idealisme pribadi dan senantiasa mendukung idealisme-idealisme yang diperjuangkan perempuan.

Akhirnya, tanpa mengutip pernyataan filsuf-filsuf feminis atau pemikir gender manapun, saya menganggap begitulah kiranya idealisme atas perempuan harus diperjuangkan, bukan hanya diperdebatkan antar sesama penyuka perempuan.

*Taufik Nurhidayat, pernah menempuh studi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi (2011-2015) dan sesekali terlibat untuk berjuang di Forum Mahasiswa Progresif Revolusioner Universitas Negeri Yogyakarta (FMPR UNY).

___________________

Artikel Terkait: