Perempuan, Penjara Budaya, dan Media

Perempuan, Penjara Budaya, dan Media
©Haneenelmalih/Wordpress

Perihal kebebasan, terutama kebebasan perempuan, menjadi pengisi wacana dalam ruang-ruang diskusi di era milenial sekarang. Pembebasan yang saya maksud tentulah bermuatan positif: mengembalikan apa yang menjadi hak-hak manusia tanpa melihat latar belakang (jenis kelamin).

Terlepas dari konstruksi budaya yang pada akhirnya orang nilai sebagai salah satu sumber pengekang kebebasan manusia, hal ini khususnya berlaku bagi kaum hawa. Namun, patut kita pertanyakan, apakah wacana pembebasan tersebut telah mencapai puncaknya?

Kalaupun kita semua sepakat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sedikit banyak memberi manfaat kepada manusia, perkembangan ini pun berdampak pada kemajuan teknologi. Hampir di setiap aktivitas manusia selalu berhubungan dengan teknologi, baik langsung maupun tidak.

Maka perlu kembali melihat lebih dalam kehadiran dunia baru manusia. Terkikis dari budaya bukan berarti yang baru akan menjadi (budaya) yang lebih baik. Sebab sejatinya manusia tak dapat lepas dari pengaruh sekitarnya, terutama alam. Semua saling memberi dampak, baik ihwal positif ataupun yang negatif.

Hematnya, perkembangan informasi melalui media, baik itu elektronik, media cetak, maupun yang lain, sebagai salah satu instrumen teknologi, menjadi perhatian dalam tulisan ini.

Perempuan dalam Polemik Kebudayaan

Secara umum kebudayaan dapat kita artikan sebagai suatu kebiasaan oleh sekelompok orang (masyarakat) di suatu tempat, baik aktivitas secara individu maupun kelompok yang berlangsung secara terus-menerus, serta bersifat mengikat. Adapun hal-hal yang menyimpang terhadapnya akan terkena sanksi sosial, celaan oleh masyarakat.

Jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia, masyarakat (adat) telah memiliki pola hidup masing-masing dan bersifat kekhasan. Masuknya Islam pun tidak sepenuhnya memasuki dan mengubah kebiasaan adat yang telah lama bersemayam. Antara Islam dan adat kebiasaan kemudian saling bersinergi. Hal inilah yang kemudian menjadi identitas tradisi masyarakat Indonesia sampai hari ini.

Menyoal tentang isu kesetaraan gender, salah satunya yang dikekang oleh konstruksi budaya yang bangsa Indonesia anut. Di mana kita ketahui, Indonesia secara mayoritas menganut sistem patriarki, sistem yang mengutamakan garis keturunan bapak.

Baca juga:

Hal ini jelas memberi dampak bagi manusia, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Pembagian fungsi sosial antara laki-laki dan perempuan menjadi sebuah konstruksi yang kemudian menjadi norma sosial dan norma adat.

Seperti yang terjadi, perempuan selalu dikaitkan dengan urusan-urusan tertentu, misalkan lahirnya istilah pasar, dapur, dan kasur. Perempuan dicap hanya berada dalam ruang tersebut, dianggap sebagai sifat kodrati. Sementara laki-laki bekerja di luar rumah, mencari nafkah guna menghidupi anak-istri.

Ini merupakan pertentangan terhadap upaya tuntutan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Namun, bukan berarti upaya gerakan feminisme gagal dalam memperjuangkan hak-haknya.

Hal ini lambat laun telah mengalami perubahan. Perempuan yang memilih untuk berkarier saat ini bukan lagi hal yang asing.

Sebagaimana kita lihat di dalam parlemen, perempuan dalam undang-undang pemilu telah memiliki ruang sebanyak 30 persen untuk menduduki kursi di parlemen. Perempuan saat ini sudah banyak yang menduduki kursi kepemimpinan, baik dalam organisasi masyarakat maupun lembaga kenegaraan.

Perempuan dalam Kungkungan Media

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, tentu ini menjadi napas baru bagi manusia. Namun, bersamaan dengan itu, problem-problem baru juga hadir di hadapan mata. Salah satunya adalah perkembangan media informasi melalui internet.

Sebagaimana dalam filsafat teknologi, kehadiran teknologi mengubah persepsi manusia terhadap dunianya. Di saat manusia tak dapat menguasai dirinya dalam pemanfaatan teknologi, maka bukan manusia yang menguasai teknologi, tetapi sebaliknya: teknologi memperbudak manusia yang notabene adalah penciptanya.

Sistem pasar kapitalisme memanfaatkan perkembangan ini. Kapitalisme menyebarluaskan produksinya melalui media (internet). Hal ini kemudian kita kenal dengan istilah pop culture atau budaya populer. Tampilan gaya hidup yang ada seolah menjadi kebutuhan manusia agar tidak ketinggalan zaman, sehingga terjadi keseragaman akan kebutuhan sekunder manusia.

Halaman selanjutnya >>>