Perempuan yang Menunggu

Perempuan yang Menunggu
©Hipwee

Entah ada di mana kamu sekarang. Yang jelas, aku akan selalu menunggu.

Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Makin larut. Angin mendesir kencang. Tak ada suara yang bisa telinga tangkap. Yang terdengar hanyalah isak tangis perempuan, terdengar dari atas Jembatan Gajah Wong.

“Kembalilah. Jangan biarkan aku sendirian di sini,” kata perempuan itu sambil lalu tangannya mengusap air mata yang mulai membanjiri wajahnya.

Sesaat perempuan itu terdiam. Matanya menatap sebuah foto di layar ponselnya. Dengan raut wajah sedih ia kembali berkata, “Semua ini salahku. Sampai kapan pun, aku tidak akan memaafkan diriku. Lebih baik aku mati daripada menjalani hidup seperti ini.”

Astuti sedih. Sudah satu tahun lebih ia tidak mendengar kabar tentang Fiksi. Padahal lelaki itu berjanji akan menghubungi dirinya. Namun, hingga kini, ia belum juga menghubunginya. “Entah ada di mana ia sekarang,” berkata Astuti dalam hati.

Meski sudah lama tidak ada kabar tentang Fiksi, namun Astuti tidak pernah lelah menunggu. Hampir setiap malam Astuti selalu habiskan malamnya di Jembatan Gajah Wong. Ia yakin, suatu saat nanti, lelaki itu akan datang menemui dirinya di jembatan yang penuh dengan kenangan itu.

Astuti tengadah, menatap langit yang begitu gelap. Tak satu pun cahaya bintang terlihat. Tidak lama lagi hujan datang. Tiba-tiba ia ingat pada saat terakhir kali bertemu dengan Fiksi. Waktu itu, ia merasa menjadi perempuan paling sedih di dunia.

“Aku mau pamit,” kata Fiksi dengan ekspresi wajah sedih.

“Mau ke mana? Bukankah malam ini kamu mau mengajakku ke bioskop? Aku sengaja berdandan sejak tadi sore khusus untukmu. Cantik, kan?” ujar Astuti centil.

“Aku serius, mau pamit.”

Astuti masih merasa kalau Fiksi sedang bercanda. Ia pun menarik tangan lelaki itu dan melangkahkan kakinya. Namun, baru selangkah ia berjalan, lelaki berkulit hitam manis itu melepaskan tarikan tangannya.

Baca juga:

“Ada apa sih, Fik? Ayolah, jangan bercanda terus. Kita sudah terlambat. Lihat, jam berapa sekarang,” katanya kesal sambil menyodorkan jam tangannya pada lelaki itu.

“Astuti, dengarkan aku,” bentak Fiksi, menatap matanya dalam-dalam.

Astuti diam. Ia tak kuat menahan tatapan Fiksi yang tajam.

“Aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan, malam ini dan malam-malam berikutnya,” kata Fiksi lirih. Ia diam sejenak, menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, “Malam ini adalah malam terakhir kita bertemu. Besok aku mau berangkat.” Ada butiran air bening menggelinding dari sepasang matanya.

“Maksud kamu apa? Mau pergi ke mana?” tanya Astuti terengah-engah sambil kembali menggenggam tangan Fiksi erat-erat. “Tolong jelaskan, Fik. Ada apa sebenarnya?”

“Aku sangat mencintaimu. Tapi aku harus meninggalkanmu. Aku tahu kenangan tidak akan pernah berubah, tapi aku yakin, dengan tidak bertemu denganmu dan tidak lagi menginjakkan kaki di tempat-tempat yang pernah kita singgahi, aku bisa cepat melupakanmu.”

Astuti tetap diam. Ia masih belum mengerti dengan yang Fiksi bicarakan. Tangannya makin erat menggenggam tangan lelaki itu.

“Tolong, tolong jelaskan. Sebenarnya ini ada apa? Jangan biarkan aku kebingungan seperti ini,” tanyanya tersedu-sedu. Ia sudah tak tahan lagi menahan aliran air matanya.

“Maafkan aku, Astuti. Aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku bukan tokoh cerpenmu yang bisa kau kendalikan seenak hatimu.” Suara Fiksi makin keras. Ia sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.

“Jaga dirimu baik-baik,” katanya melanjutkan. Kemudian, ia mengeluarkan barang-barang pemberian Astuti dari tasnya, mulai dari jersey bola, celana, dan sebuah novel yang perempuan itu beri sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-25.

Halaman selanjutnya >>>