Perihal Kamu

Perihal Kamu
©Medium

Paiton, 5 Maret 2021

Kusebut kau pangeran bersarung. Di mana saat zaman mulai menua dan kemoderenan mulai ternama,kau tetap menanam bibit kesalafan walau banyak yang menghiraukan.

Rasa yang kupunya menyeruak hingga kalbu. Peringan yang kau miliki menyiram tiap inci rasa yang tertanam. Saat yang lain asyik dengan tren zaman, kau malah sibuk merangkai berbagai impian. Pangeran yang tiba-tiba hadir menawariku sebuah istana agamis berbau paradies.

Di balik benteng suci, aku hanya bisa meminta pada rabbku tuk menjagamu. Karena untuk saat ini jiwaku tak bisa temanimu tuk berjihad. Biarlah berjarak tuk sementara. Biarlah  waktu mencurimu tuk sementara.

***

Dulu kau enggan tuk menyapaku. Melirik pun sepertinya kau tak sudi. Namun entah apa kau mulai tertarik juga padaku. Tak ada curiga, aku pun membangun rasa akan kamu. Kau mulai menyapa siang malam. Sampai pada satu titik di mana kau menjadi canduku. Buatku gelisah tiap menit dan jarak mencurimu dariku.

Hingga pada suatu malang menyapa. Malam yang sangat pekat. Sepekat suasana hatiku saat itu. Remuk! Tak terasa buliran rasa kecewa berlinang membuatku sangat hancur. Kau buatku tak berdaya dengan kenyataan itu. Kau hanya mempermainkanku, begitu kata temanmu. Aku benar-benar jatuh!

Aku benci kamu, namun aku benar-benar tak bisa. Nihil semua rasa benci itu karena rasa cintaku sudah begitu pesatnya menguasai ruang sendu yang menggebu.

Tanpa permisi kau pergi seolah tak ada yang terjadi. Aku terluka dan kau anggap semua berjalan biasa saja. Namun, lagi-lagi aku bodoh. Rasa yang kupunya tak inginkan tuk berpaling darimu sang pencipta luka.

***

Satu tahun berlalu. Kulalui masa bodoh itu sendiri. Hingga aku temui sosok laki-laki pencipta bahagia. Ia membersamaiku tiap suka duka. Ia selalu beri apa yang kumau. Namun rasa nyaman belum juga muncul. Karena bayangmu masih sering kutemui di labirin hati.

Entah kenapa kau menjadi sosok yang menghantuiku dengan tema rindu walau tersadar kau yang buatku pilu dengan kenangan masa lalu. Entah angin dari ufuk yang mana yang mengantarkanmu kembali kepadaku. Kau mulai merayu perhatianku. Hingga kau mengambil alih perhatianku darinya. Hingga dia yang kumiliki kuminta tuk pergi. Namun sayang, aku tak pernah menyadari bahwa kau hanya suka menyapa bukan menetap.

***

Siur angin melambai di pekatnya malam. Ingatan masa lalu yang enggan tuk berlalu. Di mana saat kau melantunkan ayat-ayat cinta dari-NYA. Lantunan yang menjadikan kita mempunyai satu impian sama dan seirama.

Ayat demi ayat kau lantunkan hingga ku terbuai akan lantunmu. Betapa beruntungnya aku saat itu. Namun di bawah gemerlapnya gemintang ini aku baru tersadar, saat ini kau hanya sebatas kenangan yang tersisa dalam halaman lamunku.

Kau pangeran bersarungku waktu itu. Tuturmu membuatku selalu malu tuk menyandingmu. Sikap yang membuatku kerdil tuk membersamaimu. Maafkan aku yang lancang mengharapkanmu.

 ***

Seribu kata serta huruf yang kutulis mungkin lebih. Dan semua hanyalah berisi peringaimu. Sekelebat hidupmu. Aku acuh di hadapanmu, karena aku tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi peringaimu.

Entah dari sejak kapan sikapmu berubah. Kau tak seperti yang kukenal dulu. Aku sedikit risi. Kau berbeda dengan sosok yang kutemui dulu, sosok yang apa adanya, namun luar biasa. Kau berubah dengan alasan aku, haruskah aku percaya? Setelah berbagai kejadian yang sering terabaikan. Dan kau masih menganggap itu hal biasa.

Kau sosok yang banyak wanita idamkan. Aku sungguh kerdil di hadapanmu. Seperti dulu yang sering kusebut. Kau kebahagiaanku. Penawar lara saat ku terluka walau sering kali kau yang ciptakan luka.

“Aku rindu,” ucapmu padaku kala itu.

Kau tahu saat itu aku terheran, sugguh benar-benar heran. Tanpa ada rasa bersalah kau ucap kata itu. Kau benar-benar hati batu yang tak paham akan aku. Bukan tak senang, malah aku bahagia akhirnya kau juga rasa yang selama ini kurasa.

Namun saat itu waktu sudah berbeda, ego sudah berkuasa akan aku. Kecewaku lebih besar sepertinya. Dan rasa itu sudah sedikit menghilang. Malu-malu rasa rindu ingin bertemu. Namun, lagi-lagi ego mengambil alih sang rindu.

Kau mulai sering menyapaku kembali di berbagai dunia. Entah itu dalam khayal, maya, hingga mimpi kau menyapa. Apa maumu? Belum cukupkah kau melihat derita 3 tahun yang lalu?

Kau tanyakan padaku perasaanku bukan waktu itu.

Perasaan? Kurasa saat ini rasaku padamu sudah tiada lagi. Kau bukan lagi sosok yang aku sebut-sebut tiap sujud. Dalam doaku bukan namamu lagi yang terselip. Tebersit pun sudah tidak.

Terima kasih sudah memberiku pelajaran berharga, pengalaman yang tak kan pernah terlupakan. Maaf jika saat ini aku yang berubah, bukan inginku. Namun, sepertinya benar kata mereka karena memang tak ada tapi hukum alam masih berjalan.

Dan saat ini ketika kau tersadar aku sudah menutup cerita yang kutulis dari dulu itu. Sekenario yang baru kau sadari keberadaanku. Semoga labirin rasa tak berteka-teki lagi akan rasa yang timbul. Karena akan lebih baik jika rasa tak usahlah berteka-teki, tak akan menarik jika kita baru tersadar dan sang lawan sudah mulai lelah dan menyerah.

Paiton, 20 Maret 2021

Pagi kusambut dengan suhu dingin kota rantauku. Menyisahkan kenangan hangat kota dinginku. Sekelebat sosok samar datang menyapa. Melambaikan tangan namun tak mengulurkan tangan.

Seketika hatiku guncang oleh sapaan mautnya. Kerdilku mulai meraung, ingin mengulur dan menghambur. Namun rasa kecewaku masih tak melebur. Kenangan satu tahun silam masih jelas tertangkap dalam bayangan. Namun membenci pun aku tak mampu.

Kau dengan lihainya membuat suasana sebegitu mengguncang, hingga hati tak terasa remuk yang kian hari kian memuncak. Sepertinya kau tak tahu dengan istilah hukum alam. Di mana semua perbuatan akan terbalas atau berbanding kebalik akhirnya. Ya, itu yang kurasakan saat ini.

Mendengar namamu bagaikan mendengar petir yang dengan gesit aku tepis. Tak sudi kiranya aku sebut namamu lagi. Pedas! Ya memang seperti itulah hukum alam jika ia yang mengambil alih.

Kau perlu tahu ketika seorang perempuan menghamba dia akan berikan segalanya walau sebenarnya ia tak mampu tuk lakukan, namun dengan perasaan yang sangat pekat ia selalu beri semua yang ia punya, dan semua yang kau mau. Mereka ingin yang terbaik namun terkadang lelaki tak mengerti dan sepertinya pura-pura tak mengerti karrna ia menikmati penghambaan itu.

Hingga pada akirnya datang satu waktu yang berwujud kata LELAH dari sang perempuan. Di mana itu adalah kata terakhir yang mungkin akan kau dengar dari perempuan itu. Setelah  itu kau tak mendapati ia tuk menyapa dan menghamba.

Mengingat perihalmu aku jadi lucu sendiri. Kau pangeran bersarung yang sejak dulu aku diperbudak oleh tiap apa pun yang  menyangkut dirimu. Bodohnya baru tercium hari ini. Dan mengingat itu satu senyuman merekah dalam dada menyisihkan kecewa yang lumayan menggelora.

Aku hanya berharap kau bisa paham sikapku hari ini. Rasa benci sudah menguasai berahi. Kau sosok yang sangat aku harapkan namun itu dulu saat dirimu selalu mengacuhkan.

Kau pembuat bahagia yang baru kusadari sebenarnya aku sendiri yang menciptakan rasa bahagia itu. Di tanah rantau ini benar memang tak ada yang menyamaimu, tapi batinku berbisik bahwa masih banyak yang lebih baik darimu yang tanpa aku sadari sebenarnya mereka ada di sekelilingku.

Aku bukan lagi anak SMA yang suka menahan diri bertahan dan menharap satu nama. Maaf hari ini aku sudah tak ingin berjuang sendiri. Aku butuh teman berjuang. Dan namamu sudah tak lagi ada dalam benakku.

Berusahalah untuk pergi menjauhi kenyataanku hari ini. Jika kau anggap aku masih seperti dulu, kau sangat salah besar, pangeran. Kau bukan lagi tuanku. Berhentilah mencuri perhatianku. Aku tahu sampai saat ini kau tak mengharapkanku, tapi sikapmu aku harap bisa berdamai denganku jika memang itu kenyataannya.

Terima kasih telah hadir sebagai pelangi.

Rizka Amalia
Latest posts by Rizka Amalia (see all)