Perihal Waktu

Perihal Waktu
©My Wor(l)d

Agenda yang selalu berganti, berganti pula masalah yang datang sehingga tak mampu memahami pesan apa di hari ini.

Aku bertanya kenapa demikian ini semua terjadi yang akan selalu begini seolah-olah kehidupan ini sudah diatur oleh suatu sistem yang terus bergerak dan tanpa henti seperti waktu yang bergerak tiada henti lalu tak bisa dihentikan dengan mematahkan jarum jam.

Esensi yang melatarbelakangi tulisan ini adalah keheningan. Aku memulai tulisan ini dengan penuh rasa dendam kepada diri sendiri yang tak mampu lagi melawan situasi genting di saat-saat kamu memutuskan untuk pergi. Karena kita hanya akan mengulangi kalimat yang sama seperti apa yang ditakutkan oleh pemeran utama dalam sebuah karya ilmiah (Novel) dan itu terjadi pada kita yang saling meninggalkan.

Sekian banyak pertanyaan yang aku jawab sendiri lebih merdu didengarkan sendiri sebab tak ada jawaban dari kamu. Sedari awal kita saling menghangatkan sehingga aku takut kamu tinggalkan, rasa yang asin kamu taburi dengan manisnya kecupan, tubuh yang perih kamu minyaki dengan air mata murni.

Aku menikmati semua hidangan berbalut tubuh aroma indahmu dengan memberimu bekal abadi selembar buku untuk memperjuangkan hak perempuan dan sekarang aku membenci dosenmu yang egoisnya sama denganmu. Kita berbeda dan kamu sendiri mengatakannya.

Menyebalkan jika harus berlari agar menemukan jawaban sebab diam tak menuai apa-apa. Dosen-dosen angkuh yang penuh dengan drama membuat kita sibuk dengan banyak permintaan hingga pertanyaan yang tak mampu mereka jawab yang itu terkurung di dalam isi kepala mereka, animo kita akan prestasi begitu tinggi, tanpa siap pun kita dikorbankan setiap hari.

Satu pekan terakhir ini aku salah menilai banyak hal dan seketika itu aku buta oleh kesibukan hari yang menelanmu di batas kota. Aku takut menyalahkan waktu dalam pertemuan kita, aku takut suatu saat nanti waktu akan menelanku juga. Aku menunggu di setiap pekan kiranya waktu mengantarmu pulang.

Selepas kepergianmu aku lebih sibuk menghitung bintang sambil berbaring di kasur yang empuk, mambaca buku sebanyak mungkin di embung, dan rutin melempar batu ke kolam yang keruh.

Kupu-kupu di embung mencoba merayuku dengan kepakan sayap sehingga membuatku tersenyum. Alam begitu mencintaiku dengan segala kehilanganku dan mengantarku pulang ke rumah dengan penuh Filantropi.

Baca juga:

Tolong, kita sama-sama keras kepala

kamu, dia, mereka, atau siapa saja tidak akan dihormati
dengan bersikap baik kepada mereka yang tinggi hati

kedangkalan berpikir mereka tontonkan dengan adegan nyata lalu pukul dada dengan bangga.
menumpuk dendam seberat baja mereka lakukan lalu tak mampu menahan itu mereka.
Iri hati dan kerakusan untuk berkuasa ada pada gerombolan orang-orang yang ingin naik takhta.
Kesombongan senioritas yang mereka suguhkan ternyata memperkosa nalar mereka.

Minta maaf, bung, kita sama-sama keras kepala.
Kita sama-sama dari timur lalu ke barat.
Kita sama-sama mahasiswa.
Kita bukan gelandangan.

    Yovinianus Olin
    Latest posts by Yovinianus Olin (see all)