Perilaku Menyimpang Agama di Pesantren

Perilaku Menyimpang Agama di Pesantren
©Dunia Santri

Seperti halnya lembaga pendidikan yang lain, di dalam tubuh pesantren juga terdapat berbagai macam persoalan, seiring berjalannya proses pendidikan yang dijalankan.

Pesantren merupakan pendidikan Islam yang paling tertua di Indonesia. Pesantren identik dengan kiai, santri, dan kegiatan membaca kitab kuning. Kebanyakan menggunakan sistem asrama dalam upaya membentuk suatu generasi yang berakhlak mulia. Asrama atau pondok sebagai tempat tinggal bersama sekaligus tempat belajar para santri di bawah bimbingan kiai.

Sebagai Lembaga Pendidikan Islam, fungsi utama pondok pesantren dapat dilihat dari layanan pendidikan yang dilakukannya. Layanan di pondok pesantren bersifat populis dan memiliki tingkat kelenturan yang elastis. Semua orang, tidak peduli dari berasal strata sosial mana pun, akan diterima tanpa hambatan administratif dan finansial. Setiap santri terdapat perlakuan yang sama dalam pembelajaran, layanan peribadatan maupun layanan kemasyarakatan.

Kehidupan di pesantren tidak ubahnya demikian, mempunyai masalah dengan para santrinya. Tanpa dikehendaki, perilaku menyimpang santri sering kali menghiasi kehidupan sosial di pesantren. Peraturan pesantren yang diterapkan tidak lantas membuat perilaku santri selalu normal dan sejalan dengan tujuan peraturan itu dan mendatangkan masalah tersendiri bagi pesantren.

Perilaku ghasab adalah salah satu dari sekian banyaknya santri, pembahasan perilaku ghasab sering berkaitan dengan kaidah normatif sebagai sudut pandang. Cara pandang melalui sudut normatif berkontribusi penting dalam penyelidikan perilaku ghasab.

Bagaimanapun juga, terbentuknya kaidah normatif pasti berhubungan dengan unsur-unsur sosiologis. Segala bentuk normativitas adalah sebuah kesepakatan yang berangkat dari pemahaman dan refleksi atas realitas sosial. Dalam sosiologi, ghasab juga mengandung realitas sosial dan proposisi-proposisi sosiologis.

Ghasab menurut bahasa adalah mengambil sesuatu (benda atau barang) dengan cara zalim secara terang-terangan. Sedangkan menurut istilah syara’, adalah menguasai hak orang lain secara aniaya.

Ulama fiqih telah sepakat menyatakan bahwa perbuatan ghasab hukumnya haram dan orang yang melakukannya berdosa. Barang siapa yang ghasab berupa harta, maka ia wajib mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya, walaupun ia harus menanggung beban pengembalian (dengan harga) berlipat ganda. Dan wajib ia (membayar ganti rugi), misal kainnya yang dipakai atau barang yang berkurang walau tidak dipakai. Tentu si pelaku tindakan tersebut mendapat dosa atas perbuatannya (Khaulani, A T, 2015; 5). Hal ini didasarkan atas firman Allah Q.S.Al Baqarah: 188.

Ghasab dapat diartikan merusak, merampas atau menyerobot milik orang lain yang dalam hukum islam mendapatkan konsekuensinya. Apabila barang itu diambil secara paksa di tangan yang merampas, pihak yang mengambil harus memberikan ganti rugi kepada pemilik barang tersebut dalam bentuk barang seperti itu atau membeli sesuai dengan nilai harga.

Di kalangan pesantren, ghasab adalah perilaku santri yang menggunakan barang milik orang lain sesama santri atau bukan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Pemakaian barang tersebut tidak dimaksud untuk dimiliki secara tetap, melainkan hanya beberapa saat sesuai dengan kebutuhannya. Setelah pemakaiannya selesai, barang tersebut dikembalikan pada tempatnya meskipun terkadang tidak pada tempat dan sesuai kondisi semula.

Baca juga:

Secara kaidah normatif, perilaku tersebut tidak sesuai dengan ketentuan hukum karena ada unsur-unsur yang merugikan orang lain dan bertentangan dengan kaidah normatif. Meskipun secara tertulis belum diatur oleh undang-undang (hukum positif) apa pun hukum normatif lain yang berlaku luas, dalam hukum Islam dan peraturan pesantren, perilaku ghasab telah diatur oleh batasan normatif.

Biasanya, ghasab yang sering terjadi di lingkungan pesantren adalah ghasab sandal. Sesungguhnya amat lucu ketika santri berangkat ke masjid dengan mengenakan sepatu sekolah. Ada juga santri yang menumpang bahu atau minta gendong kepada temannya yang lain. Bahkan ada santri yang jalannya seperti kanguru, melompat-lompat dengan satu kaki dikarenakan tidak kebagian sandal sebelah.

Akan tetapi, ketika sandal temannya pun sudah tidak ada, milik pengurus pondok pun (disikat) mungkin dalam benaknya mengira (jangankan harga sandal yang harganya tidak seberapa, ilmunya yang tak ternilai dikasik secara cuma-cuma kok).

Ghasab secara hukum tidak boleh dan yang tidak boleh karena merugikan orang lain. Tetapi di kalangan pesantren, katakan 20% dari apa yang kita miliki di pondok, seperti makanan (itu antara rela dan tidak rela), saling rida, namun alangkah baiknya lebih hati-hati tetap meminta izin.

Meminjam atau mengambil sesuatu sekalipun dikembalikan tanpa izin itu tetap tidak boleh. Karena soal mengabaikan, sulit terapak karena sudah ada rela sama rela antara sesama. Contohnya: “Ini punyaku, ambil saja sekalipun tidak ada saya.”

Di kalangan pesantren, ghasab sudah tidak menjadi sesuatu yang tabu lagi. Seperti yang kita ketahui bersama, ghasab adalah memakai barang orang lain tanpa sepengetahuan dari pemiliknya. Namun realitas yang terjadi di pesantren sangatlah bertolak belakang dengan dasar hukum dari ghasab itu sendiri.

Memang sangat sulit memaknai kehidupan para santri di pesantren. Mereka hidup seakan-akan seperti saudara kandung. Jadi dari saking eratnya hubungan kemistri dan santri, mereka jadi berpikir bahwa mereka adalah saudara. Sehingga mereka menganggap barang-barang yang dimiliki santri lain adalah seperti miliknya juga. Oleh karena itulah awal mula ghasab diabaikan di pesantren.

Ghasab haram. Mengapa para santri melakukannya? Ini adanya kesadaran budaya hidup bersama yang mentradisikan adanya rasa berbagi, milik bersama sehingga bukan barang yang ganjal lagi jika memakai milik orang lain.

Ghasab secara artian bahasa kalau dalam kitab yaqutunnafis itu menggunakan milik orang lain dengan zalim. Guru saya dulu mengartikannya dengan aniaya. Ada kata aniaya di situ, saya menyimpulkan bahwa hal tersebut tidak bisa dikatakan ghasab jika ada keridaan antara pihak yang dighosip atau mengghasab.

Dalam pesantren, pinjam-meminjam bisa dilakukan tanpa minta izin. Misal meminjam sandal bisa dikatakan mengghasab. Tapi di sisi lain ada keridaan yang terjadi antara santri sebagai orang yang hidup bersama.

Baca juga:
    Yulistiana
    Latest posts by Yulistiana (see all)