Perlakukan Politik sebagai Hal Manusiawi

Perlakukan Politik sebagai Hal Manusiawi
Jokowi dan Anies Baswedan

Mari perlakukan politik sebagai hal manusiawi dan biasa, bukan penentu surga atau neraka.

Nalar Warga – Menjadi pemimpin, apalagi di zaman ini, sungguh tidak mudah. Pak Jokowi jelas mengalami ini. Berangkat dari bukan siapa-siapa, sama sekali tak diperhitungkan, dibebani label sebagai boneka—toh tiga tahun ini bekerja keras untuk membuktikan bahwa pilihan rakyat tidak keliru.

Ia berusaha amanah dan tegak lurus. Tentu saja muncul aneka kegaduhan, salah ambil keputusan, pula fitnah nan keji yang sejatinya juga menggelikan: antek komunis dan antek kapitalis sekaligus! Bahkan tak tanggung-tanggung, Pak Jokowi kerap dituduh memusuhi pemuka agama. Toh ia setia menggandeng dan mencium tangan para ulama.

Kini, Pak Anies memulai pemerintahannya di DKI Jakarta. Kemungkinan besar akan memikul beban tuntutan yang sama: kinerja yang kinclong, menuntaskan janji kampanye, tanpa cacat cela sedikit pun. Lho, kita ini memilih manusia atau malaikat sih?

Sudah sepantasnya kita beri kesempatan Pak Anies bekerja, dan tugas kita menciptakan suasana kerja yang baik. Berbeda pendapat boleh, tapi merawat kegaduhan dan sakit hati, bukankah menyakiti diri sendiri dan merugikan kebersamaan kita?

Pelajaran terpenting dari seluruh rangkaian proses kontestasi politik kita hari-hari ini adalah kesanggupan kita menempatkan diri sebagai supporter atau tim hore yang baik, tidak lebih. Penonton dan pengamat sepakbola memang paling heboh, dan tentunya merasa paling tahu dan mampu segalanya, tak pernah jatuh dalam salah. Ya, karena tak pernah mencoba.

Pak Jokowi telah ditempa dengan banyak sekali ungkapan meragukan yang berhasil ia sublimasi menjadi motivasi dan penyemangat. Pak Anies dapat belajar dari proses itu, karena ia pun sejatinya pernah menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi, bahkan sejak masa kampanye. Pak Anies adalah kawan seiring Pak Jokowi ketika kontestasi politik 2014, dan bekerja sama di Kabinet Kerja.

Keberhasilan Jokowi dan Anies amat menentukan nasib warga dan bangsa. Kenapa tak kita doakan dan dukung saja keduanya supaya berlomba-lomba dalam kebaikan? Saya yakin, justru karena keberhasilan keduanya tidak bisa saling menegasi (menidak), dan hanya bisa dicapai dengan kerja sama, sikap terbaik adalah berkolaborasi.

Dan, kenapa pula kita, yang sekadar tim hore, kadang lebih sulit untuk berdamai dan bertepuk tangan riang? Bersikap proporsional dan rasional mungkin menjadi pilihan terbaik.

Barangkali hanya karena kita butuh hiburan demi adrenalin terpacu, tidak lebih. Mari perlakukan politik sebagai hal manusiawi dan biasa, bukan penentu sorga atau neraka. Selamat berkerja sama demi yang terbaik bagi rakyat, Pak Jokowi dan Pak Anies.

*Yustinus Prastowo

___________________

Artikel Terkait: