Perlunya Mereformasi Kapitalisme dan Menggantinya dengan Technosocialism

Perlunya Mereformasi Kapitalisme dan Menggantinya dengan Technosocialism
©YouTube

Ulasan Buku – Yudi Latif, dalam satu ulasannya di media sosial, mengingatkan perlunya mereformasi kapitalisme dan menggantinya dengan apa yang disebut “technosocialism”. Hal tersebut didasarkan pada karya Brett King dan Richard Pretty berjudul Technosocialism (2021) sebagai jawaban atas pertanyaan masa depan kemanusiaan di tengah gelombang pasang disrupsi teknologi.

“Visi kesejahteraan umum telah lama jadi mimpi kemanusiaan sejagat. Komunisme Uni Soviet berdiri dengan janji pemerataan dan kemakmuran bagi semua. Nyatanya, sistem tersebut melahirkan malapetaka kemanusiaan, dengan segelintir elite memonopoli kekuasaan dan kekayaan,” tulis Yudi Latif, Minggu (12/12).

Sosialisme Eropa, menurutnya, datang dengan versi lembut dari komunisme, namun tak bisa sepenuhnya terhindar dari problem komunisme: elite menarik string dan keuntungan publik tak pernah benar-benar merata.

Ia mempersepsi manusia bukan sebagai “mesin ideal” yang akan bekerja dengan kemampuan terbaiknya dan dengan bahagia berbagi hasil panen pekerjaannya dengan sesama secara merata.

“Bagaimana kalau kita gantungkan pemenuhan impian kesejahteraan umum itu pada teknologi? Setiap teknologi baru memang selalu berwajah ganda: positif dan negatif. Namun, dengan visi etis yang memandunya, bisa menjadi katalis bagi perwujudan cita-cita sosialisme.”

Abad ke-21, lanjut cendekiawan-aktivis itu, menjadi abad paling disruptif yang pernah dilalui manusia. Implikasi teknologi baru dianggap akan mengubah ideologi-ideologi paling “disucikan” menyangkut politik, ekonomi, dan konstruksi sosial.

“Suka atau tidak, hal itu akan memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan cara-cara yang tak terbayang sebelumnya.”

Dengan kehadiran Artificial Intelligence, big data & connectivity, ia pun menegaskan perlunya mereformasi kapitalisme dan menggantinya dengan “technosocialism”: suatu masyarakat masa depan dengan sebagian besar pekerjaan manusia diotomatisasikan dan pelayanan dasar seperti untuk perumahan, healthcare, dan pendidikan serba hadir dengan biaya murah.

“Dalam satu-dua dekade mendatang, kita akan mengganti sistem energi dunia dengan sistem terbarukan. Bahkan saat ini, kita sudah mengalami tahap awal “technosocialism” seperti ketersediaan internet dan mesin pencari (Google, DuckDuckGo, aplikasi Waze, dan lain sebagainya) dengan memberikan pelayanan secara demokratis dan murah, bisa dijangkau segala kalangan.”

Technosocialism, simpulnya, adalah buku yang menebar optimisme dalam menyambut era disrupsi teknologi bagi kebaikan dan kebahagiaan hidup manusia. [ig]

Baca juga: