Perpisahan dengan Enu Petronela

Perpisahan dengan Enu Petronela
©Wordpress

Ku terjatuh dalam tanah tak bertuan
Layu tak berkembang
Seperti daun di musim gugur
Ku ingin pergi dari kesedihan ini
Tapi bagaimana caranya
Sudah menyatu di dalam kalbu
Sulit tuk dipisahkan
Akankah simfoni indah itu hadir lagi

Bisikan hangat terangi kegelapan
Meringankan sedikit beban
Walau kesedihan masih kurasakan
Para sahabat datang menguatkanku
Agar tidak larut dalam lembah kesedihan
Dalam dan sunyi seorang diri sendirian

Hampa di dalam hati melepas kepergian
Kebahagiaan itu telah hilang
Pergi selamanya meninggalkan kesedihan
Harapan kuatkan diriku
Dalam kehampaan dan sunyinya hati

Hari demi hari berlalu semu
Sang waktu berputar iringi kehidupan
Menguatkan diri dalam setiap jengkal hari
Tak terasa sudah empat puluh hari perpisahan ini terjadi
ini menjadi saksi tentang sebuah kisah abadi
Takkan pernah bisa kulupakan


Mutiara

Mutiara jelita tersemai
Dua bola mata terberai
Akhir detik melambai
Tangan dan jemari sudah bercerai

Matahari lelah berkuasa
Camar-camar resah berkelana
Dunia sudah mendekap episode bencana
Sebaiknya awan fajar tidur saja


Cahayanya menjauh

Perhatikan angin itu
Mengejar cahayaku
Yang lupa jalan ke depan
Tersingkir, di balik bebatuan
Tertindih, kemelut liku zaman

Andai angin mengenal kata
Akan terampas eja dan aksara
Yang kutulis di atas nisan
Berteman kardus lusuh pengantar tidur malam zaman

Cahaya mataku menjauh
Sudah berton-ton asa ditelan malam
Angin enggan menjanjikan
Membawa sepotong cahayaku pulang

Karena Koma

Hanya karena koma
Langkahku terapung
Dalam gelombang bahasa,

Bahasa sahabat tanpa kata
Hanya pada sebuah koma
Aku menyerah, menitikkan keusaian masa

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)