Persahabatan Tanpa Sekat

Persahabatan Tanpa Sekat
©University of California

Nalar Warga – Saya pernah punya beberapa mahasiswa yang berkawan dekat. Si A berjilbab dan tipe halus. B aktivis yang suka pakai liontin salib dan sesekali telat kuliah. C Tionghoa tomboi rambut dicat, saya lupa dia Buddhis atau KongHucu. D cowok baik hati yang suka dikerjain. Masih ada 1-2 lagi saya gak ingat.

Suatu saat terkabar A si cantik berjilbab kecelakaan berat. Apalah daya seorang pengendara motor melawan laju truk. Salah satu kakinya terluka parah. Teman-temannya bergegas mengurus ini-itu sembari menunggu orang tua A yang tinggal di luar kota, sampai A bisa dirawat di rumah sakit.

Beberapa hari berlalu dan tak ada kemajuan berarti. Dokter merujuk ke satu rumah sakit yang lebih lengkap dengan dokter yang lebih ahli di bidangnya. Jadilah A dipindahkan dari Semarang ke Solo. Tak lama berselang, kabar lain datang. Tak ada pilihan lain, kaki A harus direlakan untuk diamputasi.

Saat saya sempat besuk, teman-teman A tengah berada di rumah sakit. Rupanya mereka bergiliran meninggalkan kuliah di Semarang untuk menguatkan orang tua A mendampingi putrinya. Saya saksikan mereka ngelesot di lantai dengan wajah kelelahan tapi berusaha hepi sampil makan nasi bungkus.

Upaya medis terus berjalan, namun akhirnya Tuhan memanggil. Pecah tangis keluarga dan para sahabat. Jenazah dibawa ke rumah duka, sebuah kota kecil. Saya tak mampu menggambarkan wajah-wajah duka, tak juga perlu berkata-kata, cuma menepuk-nepuk pundak anak-anak muda itu satu demi satu.

Waktu berlalu, mungkin setahun kemudian, saya dengar beberapa dari mereka dinyatakan lulus. Saat yudisium menjelang wisuda, ada sesuatu yang tak biasa. Kawanan ini menyiapkan sesuatu di luar acara resmi. Satu seremoni kecil berisi kenangan dan doa bersama untuk teman kesayangan mereka, A.

Mereka bilang, “Kami lulus atas semangat A; bagi kami, dia ada di sini, lulus bareng kami.” Hadir di situ orang tua A yang relasinya makin kuat dengan para sahabat putrinya.

Salut dan cinta saya untuk anak-anak muda hebat itu di mana pun mereka kini berada. Saya rindu Indonesia yang toleran.

Saya rindu makin banyak anak muda seperti mereka, yang matanya bening tak terkotori perbedaan, yang punya hati jauh lebih luas dibanding sekadar sekat agama dan ras yang sering kali membutakan.

*Lita Widyo

    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)