Personalitas Capres dalam Debat

Personalitas Capres dalam Debat
©Liputan6

Personalitas Capres dalam Debat

Selain substansi, rupanya debat calon presiden juga menarik perhatian dari sisi penampilan. Banyak sekali komentar mengenai penampilan itu.

Di Tiktok, misalnya, bermunculan cerita mengenai kesedihan para pendukung Prabowo melihat idolanya diserang. Muncul narasi soal etika debat.

Penampilan para calon itu mendapat perhatian mungkin karena dari situ terlihat karakter masing-masing calon.

Secara keseluruhan, Anies dan Ganjar tampak dominan dari sisi artikulasi gagasan.

Sejak awal debat, Anies terlihat sangat percaya diri, bahkan cenderung berlebihan. Terkesan dia merasa sangat menguasai persoalan. Semua ingin dibantah.

Dalam beberapa kesempatan, calon nomor urut 1 ini bahkan terlihat seperti seorang dosen yang sedang berceramah di depan mahasiswa-mahasiswanya. Sedikit seperti menggurui.

Anies mengemukakan agar Indonesia jadi pemimpin dan mengambil peran besar di kancah internasional. “Indonesia mestinya tidak hanya jadi tamu yang datang, duduk, dan diam di forum-forum internasional,” kata Anies, kira-kira begitu.

Baca juga:

Aspek kepeloporan Indonesia yang diulang-ulang ini justru bisa jadi pintu masuk untuk menguak tabiat atau ambisi politik dan kedudukan yang ada di relung jiwa. Bagi dia, jadi pelopor, terdepan, juara, dan memimpin itu sangat penting atau bahkan adalah segala-galanya. Ada ambisi tentang kekuasaan di sana.

Prabowo Subianto, seperti biasa memang kurang menonjol dari sisi artikulasi. Beberapa kali mengulang narasi yang sama untuk mempertahankan diri.

Sebetulnya, calon ini punya argumentasi yang menarik, misalnya bahwa untuk membawa Indonesia disegani dunia internasional, Indonesia harus kuat secara ekonomi. Tapi gagasan ini kurang detail dikemukakan, yang banyak muncul adalah slogan-slogan nasionalisme.

Ganjar Pranowo di awal penampilan terlihat sangat hati-hati. Penggunaan diksi seperti “maka kemudian” terlalu sering muncul. Ini cukup mengganggu. Itu menunjukkan kesan ragu pada gagasan yang ingin dia utarakan. Namun kesan ini berhenti ketika memasuki pertengahan debat sampai akhir.

Di paruh kedua debat, Ganjar cukup mendominasi. Bahkan dia ikut melancarkan serangan pada Prabowo, terutama mengenai data performa kementerian pertahanan beberapa tahun terakhir.

Tidak seperti Anies, yang menggebu menjadikan Indonesia pemimpin di kancah internasional, Ganjar datang dengan gagasan sederhana bahwa kiprah Indonesia di kancah internasional harus diarahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan nasional.

Dia seperti hendak mengatakan bahwa Indonesia tidak harus berpretensi menjadi superhero di dunia. Menjadi yang terbaik untuk rakyat Indonesia sendiri itu sudah cukup.

Posisi Ganjar ini sedikit beririsan dengan posisi Prabowo yang juga terlihat menonjolkan kepentingan nasional. Bedanya ada pada dukungan argumentasi.

Baca juga:

Pada Prabowo, mungkin karena artikulasi yang terbatas, kepentingan nasional itu kurang didukung oleh penjelasan detail. Yang disebut berulang kali adalah soal Indonesia yang diincar kekuatan global, soal anak-anak Indonesia yang harus cerdas, manusia Indonesia harus cukup asupan gizi, tidak boleh ada kemiskinan, harus melanjutkan program hilirisasi, dan semacam itu.

Sementara Ganjar coba mendudukkan tujuan kepentingan nasional itu secara lebih detail. Dia misalnya mengusulkan bahwa kebutuhan peningkatan alat persenjataan dengan membangun industri alutsista nasional.

Ganjar juga bicara secara lebih jelas tentang proyek ekonomi biru yang sudah dimulai pemerintahan Jokowi namun belum maksimal.

Bagaimana?

Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)