Pertemuan Politik Kepartaian kok di Istana Negara?

Pertemuan Politik Kepartaian kok di Istana Negara?
©Detik

Nalar PolitikPertemuan politik kepartaian kok di Istana Negara? Demikian Andi Mallarangeng, eks Juru Bicara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, menanggapi. Ia mempertanyakan pertemuan antara para petinggi partai Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani yang berlangsung di Istana Kepresidenan.

“Bagaimana mungkin ada orang-orang yang bukan presiden menjabat melakukan pertemuan politik kepartaian di Istana Negara? Presiden saja tidak pantas melakukannya. Apakah sudah mendapat izin Presiden?” kata Andi seperti dilansir Kompas (22/11).

Andi, yang merupakan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat, mengaku heran pertemuan yang mengagendakan politik itu bisa terjadi Istana Negara. Apalagi tanpa ada Presiden Joko Widodo.

Ia kemudian menjelaskan alasan kenapa Istana Negara tidak boleh dijadikan sebagai tempat pertemuan politik kepartaian.

Istana Negara maupun Istana Merdeka, menurutnya, merupakan simbol Lembaga Kepresidenan. Maka dari itu, kata Andi, sejak dulu Istana Kepresidenan tidak pernah digunakan untuk agenda politik kepartaian.

“Di situ Presiden RI berkantor dan melakukan aktivitas kenegaraan. Sekaligus bisa juga menjadi tempat kediaman Presiden.”

Jika presiden sekalipun ingin mengadakan pertemuan politik kepartaian, bagi Andi, perhelatannya tidak digelar di Istana Kepresidenan.

“Biasanya dilakukan di Wisma Negara, yang berada di samping Istana Negara dan Istana Merdeka.”

Andi pun menyampaikan pengalaman SBY saat menjabat sebagai kepala negara yang tidak pernah menggelar pertemuan partai politik di Istana Negara ataupun Istana Merdeka.

“Kalau di zaman Pak SBY, kegiatan politik kepartaian biasanya dilakukan di Cikeas.”

Baca juga:

Sebelumnya, diketahui bahwa pertemuan antara Megawati, Prabowo, dan Puan terjadi di Istana Negara, di sela-sela pelantikan Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Panglima TNI.

Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, pertemuan itu membahas sejumlah hal, salah satunya politik kebangsaan dan berbagai dinamika politik nasional. Menurut dia, pertemuan yang berlangsung di sebuah ruangan VVIP itu berjalan hangat.

“Pada saat saya mendampingi Ibu Megawati, saya lihat Pak Prabowo berjalan cepat menuju tempat Bu Mega. Lalu saya sampaikan ke Ibu, ada Pak Prabowo,” kata Hasto dalam keterangannya.

“Ibu Mega lalu menunggu, bersalam sapa dengan hangat, dan kemudian masuk ke ruangan VVIP bersama, dengan Mas Pramono Anung dan saya dampingi,” tambahnya.

Hingga saat ini, pihak Istana Kepresidenan belum memberikan penjelasan mengenai pertemuan tersebut, termasuk apakah pertemuan itu dilakukan dalam kapasitas mereka sebagai petinggi partai politik.

Meski tidak menjelaskan secara detail, Hasto mengatakan bahwa pertemuan membahas seputar politik kebangsaan dan berbagai dinamika politik nasional.

Sedangkan, Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan, pertemuan itu harus dimaknai sebagai ajang silaturahmi antar-tokoh partai politik. Menurut dia, pertemuan yang hangat itu menandakan bahwa komunikasi antara PDI-P dan Gerindra selaku partai yang dinaungi Prabowo Subianto tetap terjaga dengan baik.

“Politik kita terlalu banyak membaca memproduksi teks dari simbol-simbol, lalu jadi ramai. Sebenarnya ini hal yang biasa saja,” kata Dahnil.

“Apalagi Bu Mega dan Mbak Puan dengan Pak Prabowo komunikasinya selama ini sangat cair dan bahkan ketika berkontestasi silaturahminya tetap baik, dan itu tetap dijaga,” pungkasnya. [ko]