Pertobatan Ulil

Pertobatan Ulil
Ulil saat menghadiri acara Ngobrol Seru tentang Ngaji Ihya dan Lainnya di Kafe Basabasi, Yogyakarta (5/2).

Perubahan pada diri Ulil ini merupakan bentuk ‘pertobatan’—sebutan yang, lagi-lagi saya duga, cukup dinikmati Ulil.

Nalar WargaSemalam (Minggu, 5/2) ketemu Ulil Abshar Abdalla di Yogyakarta. Di Kafe Basabasi, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) itu ngobrol tentang aktivitasnya Ngaji Ihya Ulumuddin bersama sekitar 300-an anak muda yang memadati kafe milik penulis Edy Mulyono itu.

Ya, benar, Ulil yang dimaksud di sini adalah orang yang pernah membuat gempar publik dengan tulisan dan gagasan-gagasannya tentang Islam yang kemudian dia beri label Islam Liberal. Sebuah gagasan yang bertumpu pada keyakinan bahwa teks-teks Alquran harus direaktualisasi kembali melalui tafsir-tafsir yang lebih kontekstual.

Gagasan Ulil yang membongkar dan mempertanyakan kembali pemahaman mainstream tentang dalil-dalil naqli itu mendapat reaksi keras umat Islam yang berpandangan pemahaman atas teks-teks itu sudah selesai. Mainstream muslim konservatif menilai pemikiran Ulil berbahaya dan melenceng dari pakem keberislaman yang selama ini mereka anut.

Celakanya, penolakan itu tidak hanya datang dari kalangan Islam modern yang cenderung tekstual dan skriptural, penganut Islam tradisional pun yang notabene adalah komunitas asal Ulil tak kalah keras menolaknya.

Penolakan-penolakan yang di antaranya malah diwarnai ancaman dan vonis yang membahayakan fisik Ulil itu lambat laun membentuk stigma yang mengalienasi dia. Meski Ulil sempat melawan dengan melakukan pelbagai klarifikasi kepada para musuhnya di banyak forum tabayyun, tapi tak cukup bisa menolongnya dari pengucilan itu. Statusnya sebagai menantu KH Mustofa Bisri pun tak cukup membantu.

Sebagai pemikir, Ulil bisa dikatakan punya bekal yang lengkap. Dia berada pada dua tradisi sekaligus: pesantren dan modern (barat).

Statusnya sebagai lulusan pesantren membekalinya dengan literatur klasik yang mumpuni sekaligus, tentu saja, penguasaan bahasa arab yang bagus. Label intelektual muslim dia dapat selepas menamatkan pendidikan di sebuah sekolah filsafat dan tulisan-tulisannya menghiasi banyak media.

Ulil menguasai Bahasa Inggris sama baiknya dengan penguasaannya terhadap Bahasa Arab. Itu memungkinkannya melakukan penjelajahan literasi pada dua tradisi keilmuan itu dengan ruang jelajah lebih luas dibanding mereka yang hanya fokus pada salah satunya.

Tapi, sehebat apa pun Ulil, vonis sudah dijatuhkan. Stempel liberal pada keningnya tak hanya menjadi dinding yang membatasi dia dari komunitas sasaran dakwahnya, tapi memantik resistensi luas dari kalangan muslim, bahkan sebelum mereka manyimak gagasan-gagasannya.

Maka, Ulil yang 20 tahun lalu menyebut dirinya calon pemimpin NU mendapat sambutan dingin dari muktamirin saat maju sebagai ketua umum PBNU pada Muktamar Makassar. Ruang edar Ulil pun terbatas pada komunitas kecil elite yang punya tradisi pemikiran serupa dengannya.

Sebagai cendekiawan muslim, mungkin dia terpuaskan dengan pencarian-pencarian kebenaran versinya. Tapi, sebagai aktivis sosial, saya menduga Ulil merasa kesepian.

Setiap aktivis ingin apa yang dilakukan memberi dampak luas bagi lingkungannya. Dan Ulil terlalu besar bagi lingkungan liberalnya yang sempit. Maka, bermetamorfosalah Ulil.

Jika kehadirannya sebagai pemikir Islam Liberal ditandai dengan tulisan Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam di Kompas, 18 Desember 2002, maka sosok Ulil yang baru dia tandai dengan serial kajian kitab Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali.

Mengapa dia memilih strategi ini? Alasan sebenarnya tentu hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Saya menduga, Ulil ingin mengasosiasikan dirinya dengan al-Ghazali yang di kalangan muslim kebanyakan diterima sebagai pemikir besar Islam. Ihya sendiri mendapat tempat terhormat di semua pesantren, institusi pendidikan yang memiliki legitimasi kuat di kalangan Islam tradisional. Dengan label Ihya, Ulil ingin menghapus cap Neo Muktazilah yang kadung tersemat padanya.

“Setelah ngaji Ihya, ancaman-ancaman pada diri saya hilang dengan sendirinya,” aku Ulil semalam.

Muncul penilaian, perubahan pada diri Ulil ini merupakan bentuk pertobatan, sebutan yang, lagi-lagi saya duga, cukup dinikmati Ulil. Dengan tak membantah istilah itu, Ulil ingin meruntuhkan tembok tebal yang selama ini memisahkan dia dari umatnya.

Bagi saya pribadi, pertobatan ini hanya soal pilihan strategi dakwah saja. Pada sosok sekaliber Ulil sulit membayangkan terjadi pembelokan drastis pada paradigma berpikir. Bahwa dia menemukan yang salah pada pemikiran-pemikirannya di masa lalu kemudian mengoreksinya, itu sangat dimungkinkan. Tapi, bukankah kritis kepada diri sendiri juga bagian dari tradisi pemikiran liberal?

Sebagai seorang intelektual, tak ada yang berubah pada diri Ulil dari pertobatan-nya. Dia terlihat semakin matang dan nyaman dengan manhaj-nya. Tapi, sebagai aktivis sosial, dia mengubah strateginya. Dia ingin memberi dampak lebih besar pada aktivitasnya.

Yang tak boleh dilupakan, Ulil kini juga seorang politisi. Status baru ini menuntutnya untuk memperluas ceruk pengaruh karena mempertimbangkan faktor likebilitas dan elektabilitas.

Apakah benar demikian, Mas Ulil? Waallahu a’lam bishowab.

*Abdul Arif

___________________

Artikel Terkait: