Pesan Tersimpan dalam Telegram

Pesan Tersimpan dalam Telegram
┬ęSuara

Ialah tidak berujung apa yang aku pilih tautkan kepadamu dengan segala luka yang menyertainya,
Dengan segala jarak yang mendekatkannya,
Dan dengan segala cemburu yang menyempurnakannya.

Ialah tidak terbatas segala keluh kesah luka duka dengan sabar menghadapinya,
Dengan segala tingkah manis mengelabuinya.

Ialah tidak akan tuntas untuk segala rindu yang tak akan selesai jika sebatas sua
Dengan segala bersitatap membahasakan cinta
Dengan segala genggam meyakinkan rasa

Selamat malam tuan,
Ini hanya rongsok sajak tak terpakai
Kata perca dalam pesan tersimpan dalam telegram

Lumajang, 30 Oktober 2021

Surat untuk Dama

Banyak hal yang tidak diketahui
Terlalu banyak juga yang tidak pasti
Ya, siapa yang mengerti,
Bukankah konon katanya waktu yang paling bijak di dunia ini?
selamat pagi, kemarin semesta berbaik hati menautkan langkah walau tak sama namun searah
Bersitapak dalam dimensi rasa walau tak jarang diterpa gundah
Lantas,mengapa sekarang masih ada resah?
Bukankah sudah banyak luka menyapa,
mengapa kamu takut esok akan lebih ada derita?

Dama,
Kita hanya perlu terus berjalan,
Tak apa tak beriringan asal tetap sepemikiran.
Tak apa jarak membentang asal rasa tak pindah haluan
Tidak usah takut esok bagaimana
Asal tetap satu genggam derita tak akan menjadi luka

Lumajang, 4 Maret 2022

Bulan lalu
Beberapa bulan lalu rasanya ada rasa yang memilih beku
Diam, karena dirasa rasanya tak bertuan
Diam, karena dirasa hanya lara yang bersemayam
Dan diam, karena mungkin terlampau duka
bahkan untuk sekedar bertegur sapa
Sampai ketika petang datang menyapa
Pekat seakan bertakhta pada jiwa yang kian hampa
Secercah itu kian tenggelam hilang dalam sajak keabadian

Namun,
Siapa yang dapat menyalahkan rasa?
Bahkan diri sendiripun tak dapat menyalahkannya
Dalam ringkih riuh cinta seakan bersikukuh tuk tetap tatap dalam irisnya
Bahkan ketika hati pilu tuk tahan tak bersua

Lumajang, 18 Februari 2022

Luka

Aku kira se sederhana itu, tapi nyatanya tidak.
Beberapa kata tidak mewakili apa yang aku rasa
Mungkin akan tersampaikan dengan tatap mata.
Aku menemukan kesempurnaan-kesempurnaan itu dalam sakit yang menerpa
Menemukan kedalaman itu di saat derita menyapa,
Menemukan cinta itu di saat luka tak lagi menjadi duka.

Sungguh, aku tidak punya apa selain cinta.
Aku tenggelam, sampai tak temui celah tuk mendasar
Aku terlena, sampai ku tak temui ramuan penawarnya.

Nal,
Maka dengan bahasa bagimana lagi harus aku kisahkan kasih ini
Jika kata saja tak pernah sanggup mewakili segala yang ada di hati

Lumajang, 25 November 2021

    Seroja Ainun Nadhifah
    Latest posts by Seroja Ainun Nadhifah (see all)