Petani Makin Menangis di Negeri Agraris

Petani Makin Menangis di Negeri Agraris
©Pinterest

Petani Makin Menangis di Negeri Agraris

Indonesia merupakan negara yang besar, wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Hal tersebut membuat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah dibanding negara lainnya.

Dari sekian banyak kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, penulis mencoba menyoroti satu sektor, yaitu pertanian. Jika kita pahami, pertanian memiliki banyak jenis dan macamnya, dan pada uraian singkat ini, penulis mencoba menyoroti pertanian padi sebagai kebutuhan pangan utama di Indonesia.

Indonesia dikenal memiki lahan pertanian yang sangat luas dan subur. Namun jika kita tengok pertanian hari ini, masih menyisakan banyak problematika, khususnya hal-hal yang membuat petani menangis di negeri agraris. Anugerah yang tuhan berikan pada Indonesia belum mampu dimaksimalkan oleh bangsa kita, dan berimbas pada nasib para petani sebagai garda utama penyangga ketahanan pangan di negeri kita.

Petani memiliki peran dan jasa yang besar bagi bangsa. Jika melihat beberapa catatan, kata “petani” dicetuskan oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir Soekarno. Petani merupakan akronim dari “penyangga tatanan negara Indonesia”. Hal tersebut membuktikan bahwa petani menjadi sosok yang penting dalam tatanan bangsa kita, khususnya dalam persoalan ekonomi dan pangan.

Indonesia sebagai negeri agraris tentu dalam sektor ekonomi dan pangannya bergantung pada pertanian. Petani diharapkan mampu menopang kebutuhan pangan dan mendorong perekonomian di Indonesia.

Hal tersebut dibuktikan dengan Renstra Kementerian Pertanian tahun 2020-2024. Disebutkan bahwa sebagian besar pertumbuhan ekonomi dan devisa negara berasal dari sektor pertanian, dengan melakukan ekspor komoditas hasil pertanian.

Namun, peran dan jasa petani yang besar sangat tidak sebanding dengan nasib petani hari ini. Harapan yang besar kepada para petani muncul seiring dengan berbagai permasalahan yang kini dihadapi.

Baca juga:

Berikut beberapa luka yang membuat petani menangis di negeri agraris:

Problem Pupuk Pertanian

Pupuk menjadi problem langganan para petani. Petani kerap dibingungkan karena pasokan pupuk sering hilang, sehingga petani sering kali kesulitan mencari pupuk.

Selain itu, persoalan harga pupuk yang sering dimonopoli oleh para pemasok membuat petani harus merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkan pupuk, ditambah beberapa kebijakan pemerintah tentang pupuk, mulai dari supply hingga regulasi untuk mendapatkannya yang sering mempersulit dan membebani para petani. Petani selalu menjadi korban.

Saat persoalan di atas terjadi, petani mau tidak mau harus menerima karena demi keberlangsungan pertanian.

Miris! Lahan Kian Menipis

Berdasarkan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019, menyebutkan bahwa sawah yang sudah dipetakan secara presisi mencapai 7.463.987 ha. Mengutip data dari beberapa sumber, Indonesia mengalami banyak kehilangan lahan sawah.

Tercatat luas sawah di Indonesia pada tahun 1996 adalah 8,51 juta ha, luas sawah pada tahun 2013 yang dikeluarkan ATR/BPN adalah 7.79 juta ha, dan pada tahun 2019 luas sawah tercatat 7.463.987 ha.

Faktor yang menyebabkan hilangnya lahan sawah yang signifikan, di antaranya yaitu alih fungsi lahan sawah menjadi proyek strategis nasional (PSN), alih fungsi lahan menjadi kawasan industri, dan alih fungsi lahan menjadi pemukiman. Hal ini menjadi sangat miris, di satu sisi kebutuhan pangan kian meningkat, di sisi lain lahan sawah selalu menjadi sasaran untuk dihabiskan.

Olah Harga Semaunya

Panen menjadi momen yang ditunggu-tunggu para petani, sebab petani akan mendapatkan hasil kerjanya setelah sekian bulan mengolah sawahnya.

Halaman selanjutnya >>>
Umar Ma’ruf
Latest posts by Umar Ma’ruf (see all)