Petuah Waktu

Petuah Waktu
©YouTube

Senja adalah tanda, bagi
Perindu berkalung duka
Bahwa Seterik apapun luka
Akan indah bila jingga telah berpagut dengan laut.

Malam adalah hikmah
Menyimpan beribu kisah
Tentang rindu, kasih, dan harap
Terkubur rapi dalam untai do’a.

Sedang pagi,
Adalah lonceng diri
Berdentang membisikkan peringatan
Sesuram apapun kelam menikam
Terdapat lembar baru untuk diisi

Jenuh

Merasa setiap langkah sekadar jalan menuju rebah
Tanpa arti sebatas menanti mati
Hanya raga yang bergerak tanpa kehendak
Tubuh yang sebentar kemudian rubuh

Letih, tertatih terlalu ringkih
Tak kutemukan lagi pendar putih
Sejak kepergianmu kasih.
Segalanya kini hanya kolase peristiwa tanpa arti

Semoga saja malam masih menyisakan tenang
Yang membiarkan sebanyak apa pun air mata menggenang
Bukan kosong yang melolong dari balik kolong
Semoga saja—agar lelapku terbebas dari pekat

Risih

Aku risih pada bising
Sering kali menyisakan orang-orang tersisih
Geram pada keramaian yang penuh penghakiman
Lewat tatapan, bisikan juga sulur-sulur lidahnya yang tajam

Jika pada hening kudapatkan tenang
Untuk apa kudatangi riuh yang keruh
Oleh manusia yang lihai menilai
Hingga lalai pada dirinya yang selalu abai

Tak bisakan kita bercengkerama
Tanpa peduli nama, warna atau agama
Sebegitu susahkah melangkah tanpa tengadah
Sedang semua berawal dari tanah

Manusia

Nyatanya tak ada yang benar punya kuasa
Dalam cerita, kisah dan segala perkara
Yang dirancang amat matang bisa saja terbuang
Yang diharap mekar malah terbakar

Menyisakan abu ikut terbawa angin
Sejatinya kita tak benar punya kendali
Pada tiap takdir yang kadang dirasa getir
Lupa bahwa tersimpan hikmah dalam sebuah kesah

Hanya sibuk mengeluh dan melenguh
Karena pinta tak pernah berujung cinta
Sebab rindu sering kali berakhir sendu
Lalu mati tanpa sempat punya arti

Candu

Adalah rindu
Yang tak memiliki hulu
Tak jemu merayu temu
Hingga lupa waktu

Adalah puisi
Bersembunyi dalam rima juga diksi
Demi memujimu dalam sepi
Tanpa seorang pun mengenali

Adalah kata
Yang tak terbetik titik
Lupa cara berhenti
Merapal namamu yang tak bertepi

Adalah kamu; candu paling syahdu

Pulang

Setelah sekian kata tumpah ruah
Tentang resah atau lelah
Bahkan sekadar huruf yang gerah akan makna terserah

Sajakku melanglang jauh dari tubuh
Mengembara tak berumah, hilang arah
Merindukan pulang pada dirimu yang kian jauh

Sebab tubuhmu adalah
Rengkuh paling utuh bagi kata yang ringkih
Mencari labuh sebelum rubuh

01:43 pm

Dalam senyap
Kerap kali kudengar derap
Yang mengendap dalam gelap

Sibuk meraba dan menerka
Perihal suka duka juga luka
Dan rindu yang kadang merekah

Sedang bayang
Dari senyummu masih bersarang
Menyisakan resah mesti girang atau berang

    Ahmad Falah
    Latest posts by Ahmad Falah (see all)