Pikiran Ahok soal Bantuan Sosial; Tidak Suka Bagi-Bagi Sembako

Pikiran Ahok soal Bantuan Sosial; Tidak Suka Bagi-Bagi Sembako
©Reuters

Ahok sering mengatakan bahwa dia ingin menerapkan keadilan sosial, bukan bantuan sosial.

Nalar Warga – Pendukung Anies termasuk istrinya gencar bagi-bagi sembako. Untuk mencegah citra negatif, Anies membalikkan tuduhan ke pihak Badja. Munafik toh?

Berbagai upaya dilakukan untuk memfitnah pihak lain, termasuk dengan ibu-ibu diminta berbaris rapi dengan kemeja kotak-kotak menjinjing kantong tenteng. Baca chirp Teddy Gusnaidi tentang trik licik Anies Baswedan yang tak terpuji.

Di tulisan ini, saya akan fokus membahas apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Ahok tentang bantuan sosial. Bukan tentang trik licik Anies.

Dari tahun-tahun silam, Ahok sering mengatakan bahwa dia ingin menerapkan keadilan sosial, bukan bantuan sosial. Keinginan sederhana bermakna mendalam. Pertama kali saya mendengar pernyataan Ahok tersebut di salah satu talk show dengan Ahok. Waktu itu saya sempat berguman, “Wow.”

Indonesia ini masyarakat yang naif religius, di mana kemunafikan terjadi di mana-mana. Pemberi sedekah selalu dipuja-puji, dianggap patron warga. Di Indonesia, tindakan memberi itu dianggap sangat mulia. Hampir tidak pernah saya mendengar yang bilang ada masalah dari tindakan memberi.

Dalam masyarakat yang memuliakan tindakan memberi, Ahok terus mengumandangkan keadilan sosial, bukan bantuan sosial. Menarik toh?

Latar belakang Ahok bukan seorang aktivis gerakan sosial. Harusnya dia belum pernah baca karya-karya Paulo Freire. Freire kritis terhadap tindakan karitatif. Tetapi karitatif benar ini tidak diperlukan ketika masyarakat sudah egaliter dan berkeadilan sosial. Ahok sering mengumandangkan hal ini.

Karitatif palsu bisa dilakukan dengan maksud baik untuk membantu, tetapi malah tidak mendidik yang dibantu, malah membuat yang dibantu tergantung.

Motivasi latar belakang utama karitatif palsu adalah membuat citra baik bagi pemberi dan melembutkan si penerima sehingga tidak berontak. Karitatif palsu adalah bentuk pertahanan dari sistem yang menindas, sehingga ditindas tetap miskin dan menerima keadaan. Dengan demikian, sedekah bisa berfungsi sebagai opium yang meringankan rasa sakit kaum miskin, sehingga mereka diharap bisa menerima situasi.

Opium sedekah umumnya diperkuat dengan khotbah-khotbah agama, yang menjanjikan kehidupan bahagia di akhirat, asal tunduk pada petunjuk-petunjuk ulama di dunia. Apalah artinya bersakit-sakit di dunia dibandingkan dengan senangnya di akhirat? Mati pun rela asal masuk surga di akhirat toh?

Baca juga:

Dulu di Amerika Latin, tempat kaum berkuasa sering berbagi sedekah itu di tempat ibadah, bekerja sama dengan pemuka agama yang rajin khotbah.

Cara pandang Ahok mirip Paulo Freire, minus pertentangan antar-kelas. Ahok fokus menciptakan masyarakat egaliter tanpa harus menghasut.

Di Jepang, ada kelas Samurai yang berkuasa atas rakyat kecil. Mereka berhasil membuat masyarakat egaliter tanpa harus menghasut sana-sini. Bahwa ada ketimpangan sosial itu realitas. Bagaimana kita bisa bangkit dari realitas ini membangun sesuatu yang indah tanpa perlu menghancurkan.

Dalam sejarah, menghancurkan seperti yang terjadi pada revolusi-revolusi komunis malah membuat sengsara dan memiskinkan. Jangan mengulang kebodohan sejarah.

Cara pandang Ahok berawal dari pengalaman dan pergulatannya sendiri di Belitung Timur, di mana bapaknya menjadi panutan masyarakat. Orang sudah datang minta tolong ke bapak Ahok. Di sinilah Ahok melihat bahwa tidak peduli seberapa besar kedermawanan, tetapi tidak bisa menolong.

Bersedekah itu bukan cara menolong masyarakat. “Itu tidak mendidik,” demikian kata Ahok. Dia belajar dari pengalaman. Ada pepatah bahwa tangan memberi di atas lebih mulia daripada tangan yang menerima di bawah. Berarti ada masalah martabat manusia di sini.

Daripada memberikan sedekah, dia menawarkan kerja sama 80-20 dengan warga. Itu sesuatu yang membanggakan bagi yang ikut karena partner dengan Pemerintah Provinsi. Bahkan jauh sebelum Pilkada, Ahok menolak menghadiri bakti sosial. Dia tidak ingin dituding memanfaatkan jabatan.

Baca baik-baik cara pikir Ahok. Dia sensitif terhadap semua efek negatif tindakan bersedekah. Ahok tidak mau orang berutang budi. Itu sumber korupsi.

“Orang kecil dikasih beras, utang budi, walaupun korup tetap dipilih karena utang budi. Saya tidak suka. Pilih orang harus prestasi, bukan utang budi.” (Viva)

Berpuluh-puluh kali Ahok menyatakan di depan umum, dia memilih mewujudkan keadilan sosial daripada bantuan sosial. Semoga lama-lama warga mengerti.

Baca juga:

Untuk aktivis sosial yang sekarang yang anti Ahok, cobalah berpikir keluar dari kerangka ideologi pertentangan kelas. Lihat tujuan yang ingin dicapai. Tujuan untuk keadilan dalam masyarakat keseluruhan, bukan hanya untuk pet-projects kesayangan. Jangan berpandangan terlalu sempit.

Masyarakat egaliter bisa dicapai tanpa harus menghasut kiri-kanan, tanpa harus bikin pertentangan antar-kelompok. Hasut-menghasut malah bikin kacau. Bukankah yang penting adalah tujuan masyarakat adil dan egaliter tercapai? Bukan sok-sokan gaya revolusioner kek Che Guevara pake baret.

*Mentimoen

    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)