Pilihan Politik dan Labeling Cebong-Kampret

Pilihan Politik dan Labeling Cebong-Kampret
©Kompasiana

Percayalah, sebagai seorang karyawan yang nyambi kerja jadi operator di game center, ungkapan dengan nama-nama hewan seperti cebong-kampret sudah jadi hal yang lumrah saya dengarkan dari para user. Mereka biasanya adalah remaja-remaja tanggung yang cupu bermain game, yang ketika kalah hanya bisa misu-misu nggak jelas.

Meski kadang kelewat bising dan menggangu, tetapi dalam tahap tertentu saya masih bisa memaklumi. Paling tidak nilai mata pelajaran biologi mereka bisa sedikit terdongkrak karena terbiasa lantang menyebutkan klasifikasi kingdom animalia.

Selain itu, sisi baiknya, saya bisa jadi lebih bisa menahan diri dan tak baperan saat menemui ungkapan serupa dalam urusan perdebatan politik di media sosial yang ternyata populer juga netizen gunakan. Misalnya ungkapan cebong-kampret.

Konon, katanya sih, labeling cebong-kampret itu populer tersematkan pada mereka yang memiliki pilihan politik berbeda. Penyematan istilah itu cenderung mengarah ke para pendukung calon presiden jagoon kendaraan politik berlogo Banteng dan Garuda.

Entah dari dan bagaimana asal-usul kedua istilah cebong-kampret ini muncul, tetapi toh tak penting lagi mencari tahu asal mula kedua labeling nama hewan tersebut. Toh tak pernah ada yang mengakui siapa yang pertama kali dan bertanggung jawab mengungkapkan istilah itu. Lagi pula, saya yakin, bangsa cebong-kampret juga tak akan marah dan mempermasalahkan kenapa penggunaan nama mereka tak terkonfirmasi terlebih dahulu.

Sebelum saya membaca sebuah wawancara dari portal berita online (CCN-Indonesia) dengan seorang pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, awalnya sebutan itu saya anggap hanya lahir dari spontanitas ungkapan kekesalan dan bahan tertawaan saja. Mengaitkan fenomena dan informasi tak utuh, kemudian jadi ungkapan latah di dunia maya.

Tetapi, menurut Wawan Masudi, sebutan cebong-kampret ini merupakan bagian dari dimensi fenomena sosial. Ini dampak langsung dari penggunaan media sosial untuk alat kampanye saling menjatuhkan lawan politik.

Menurutnya, labeling itu merupakan upaya membangun sinisme dan ekspresi politik yang fantastis. Itu lalu terpakai untuk saling mengidentifikasi dan membedakan dengan tegas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

Baca juga:

Pendapat pengamat politik tersebut sebenarnya tak terlalu berlebihan dan memang ada benarnya juga. Berdasarkan pengalaman, saat menit-menit awal membuka media sosial, biasanya saya tersuguhi updetan postingan dan kabar berita dari orang-orang terdekat (keluarga dan teman) yang saya tandai. Ya, itu menyenangkan dan sedikit menghibur bagi saya yang rekor mudiknya lebih tinggi dari Bang Toyib.

Tapi kemudian rasanya jadi sangat berbeda setelah mengecek notice. Saya melihat postingan-postingan yang entah itu hoaks mengandung unsur SARA, atau informasi yang tak utuh. Banyak perdebatan argumentasi yang ngotot dalam urusan politik dari grup-grup tertentu yang saya sendiri tak yakin dan tak ingat kenapa kok tiba-tiba bisa tergabung di dalamnya.

Sebenarnya, untuk ukuran manusia yang sudah banyak masalah seperti saya, tak jadi masalah juga jika ada seseorang yang cukup baik hati dan rajin mengundang bergabung dalam grup berwarna pilihan politik tertentu serta men-tag postingan-postingan di akun saya. Toh saya bisa sedikit memahami kalau itu bagian dari motif kampanye. Bagi saya, itu bagus dari sisi positif euforia masyarakat yang makin melek dan tak apatis dalam urusan politik.

Bukti meningkatnya euforia politik ini bahkan tak hanya saya temui dalam dunia maya, tetapi juga ternyata tak kalah inisiatif di kehidupan nyata. Apalagi mendekati tahun politik seperti sekarang ini, perdebatan argumentasi politik dari hampir semua lini masyarakat dapat kita temukan. Mulai dari kalangan politisi, akademisi, hingga para kuli yang sehari-hari mencari rezeki dengan kaos pembagian partai.

Dan yang lebih menarik dari euforia politik ini, khatib Jumat bahkan bisa jadi saingan mereka yang membuka forum tersendiri sambil nunggu iqamah berbunyi.

Nah, yang bisa jadi masalah bagi saya jika berbagai konten postingan yang masif tersebar itu dan tak jarang juga di-tag bersama akun saya mengandung unsur-unsur kampanye yang cenderung lebih mirip ujaran kebencian, hoaks dan fitnah, informasi tendensius yang belum terverifikasi. Atau bahkan skandal-skandal pribadi masa lalu dari para politikus tertentu yang maju dalam bursa kompetisi pemilu pemimpin negeri.

Bukan apa-apa. Tetapi kalau terlalu sering terlibat, saya mau tak mau harus siap juga dengan risiko tertentu jika seandainya kemudian ada seseorang dari kalangan relawan atau bahkan simpatisan ultra-garis keras yang lebih militan dari suporter bola yang merupakan pendukung pilihan politik tertentu dan cukup setia berkomitmen mendedikasikan waktu serta energinya untuk mendebati saya dengan alasan sepele. Entah itu mungkin hanya karena like dan warna komentar saya pada konten pro #GantiPresiden2019 atau #2019TetapJokowi.

So we never know if that happens. But, ora popo. Pikir keri and stel kendo wae. Kuat yo dilakoni, ra kuat yo tinggal ngopi. #HidupNellaKharisma..!!

Halaman selanjutnya >>>