Pilon

Pilon
┬ęPikist

Adorasi kami yang pilon
pikir kami tertutup hima

Ungkap langkah penuh tanya
Kini lenyap bersama asa
Pijakan semesta hilang seketika
Kala lisan bungkam tanpa suara

Tebersit sebuah makna
Tertinggal relikui pitarah
Namun kami tak punya ajun
Tuk arungi samudra

Daksa kami yang repui
Adorasi kami yang pilon
pikir kami tertutup hima
Tak bisa merapah jauh……

Sebatas Teman

Keluh resah telah tumpah,
Meski kuyakin tak bisa bersua
Repuil kisah bertebaran
Belukar tanya menjadi-jadi
Bait-bait puisi tampak bernyanyi
Di atas bukit harap yang terjal nan curam
Meski aku gagal membacanya sebagai puisi
Namun ku punya ajun tuk arungi samudra

“Teruntukmu, seorang yang telah menjalin pertemanan dengan baik, tetaplah begitu,” ucapnya
Nampan air yang kering seketika basah
Tangan dingin seketika hangat dengan senyummu
Bongkahan arang seketika lebur
Ku tahu patahan katamu punya maksud

“Nyatanya pertemanan tanpa konflik gak asyik,” lanjutnya
Sekahan lelah yang kutimbun kini usai
Kini ku tahu,
Kau menganggapku lebih dari itu…
Lebih dari sebatas teman

Apakah aku masih boleh menganggapmu teman? Dan tak lebih

Ruang Hampa

Sore yang khidmat, di malam Jumat
Senja melekat di ranting pohon doa
Berjuta tanya menjadi sekat
Antara kisah haru dan bahagia

Aku tak punya ajun tuk memecah keheningan
Ke-pilon-anku menjadi alasan atas kehampaan
Luapan pengaduan tak dapat lagi kubendung

Teruntuk kawan seperjuanganku,
Olehnya banyak ragam dan ulah
Menyisakan puing-puing kisah resah
Menciptakan irama air mata
Tapi selalu gagal membacanya sebagai puisi

Kisah

Senjamu yang rupawan
Rupanya kini tertelan awan
Dan rasa yang dulu pernah kukenang
Rupanya hadir bersama lalu-lalang
Meski rindunya tak terucap
Namun doa senantiasa tertancap
Bersama nada cinta yang kini mengharap

Nyatanya…
Kemarin kau baru tanya tentangnya, hingga
Ambigu pun kau telan dengan pasrah
Senyummu kian merekah
Ingatanku rupanya sudah tak bernyawa
Hening, sunyi, tak bersua

Mungkin aku sudah lupa
Entah, apa kau juga?
Rindumu kini kau timbun sendiri
Endapan harapmu perlu kau akhiri
Kenadati takdir tak bisa kau pungkiri
Aku hanya bisa menengadah dan mengharap rida-Nya

Alhumain
Latest posts by Alhumain (see all)