Pilpres 2024: Wajah Baru, Parpol Baru; Mampukah?

Pilpres 2024: Wajah Baru, Parpol Baru; Mampukah?
©ISB

Butuh orang-orang terbaik untuk membawa parpol baru itu dengan perjuangan politik yang mati-matian.

Kontestasi politik pada Pemilu 2024 sudah mulai terlihat dan terdengar di ruang-ruang publik. Entah hanya sebagai jargon propaganda untuk menarik perhatian, ataupun sebagai taktik dalam menyusun strategi sejak dari awal dan siap saji saat bertarung pada Pilpres 2024 yang telah dinantikan bersama.

Jelas, suatu gerakan yang tepat ketika dari awal mempersiapkan diri, mencari titik celah dan menemukan peluang yang dapat digerogoti untuk meraih kemenangan pada Pilpres 2024 sebagai presiden sosok orang nomor satu di Indonesia. Tampak para elite politik hari ini tengah mulai memunculkan nama-nama, meskipun sifatnya masih abstraksi semata. Itulah hebatnya dari strategi para elite politik kita.

Menghadapi Pemilu 2024 nanti, tentu bukan perkara mudah. Suatu kenyataan bahwa negara kita masih dilanda pandemi Covid-19 yang makin ganas, di samping itu masih diiringi pula krisis ekonomi yang terus memudar.

Lantas, cukup mengejutkan dengan munculnya parpol baru. Dalam situasi normal saja, parpol baru sangat sulit menjaga stamina politik, apalagi di masa pandemi tentu akan dihadapkan beban berlipat ganda. Walaupun, hal lumrah terjadi sering muncul parpol baru saat pemilu menjelang. Entah, hanya ingin ikut meramaikan pertarungan politik ataupun ingin menguak stabilitas di mata publik.

Sampai akhir Juni 2021 telah tercatat ada lebih sepuluh parpol baru yang muncul. Ada parpol yang sudah berstatus badan hukum, maupun parpol yang belum memperoleh pengesahan. Namun, seiring itu juga tentu mereka mengupayakan untuk mengurus legalitasnya dari Kementerian Hukum dan HAM.

Adapun parpol baru tersebut adalah Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Partai Ummat, Partai Masyumi, Partai Era Masyarakat Sejahtera (Emas), Partai Usaha Kecil Menengah (UKM), Partai Indonesia Terang (PIT), Partai Hijau Indonesia, dan Partai Rakyat Adil Makmur (Prima).

Tak terkecuali juga kemunculan dari Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1945, Partai Indonesia Damai (PID), Partai Demokrasi Rakyat Indonesia Sejahtera (PDRIS), Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo), Partai Nusantara, dan Partai Negeri Daulat Indonesia (Pandai).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, parpol baru yang boleh ikut pemilu ketika memiliki kepengurusan di seluruh provinsi, 75 persen untuk kabupaten/kota dan 50 persen untuk kepengurusan kecamatan. Sulit dimungkiri kalau persyaratan lolos verifikasi di KPU sebagai peserta pemilu 2024 bukanlah perkara gampang.

Jelas menjadi tantangan berat bagi parpol baru untuk dapat meraih suara, apalagi sampai dapat menduduki kursi di Senayan. Sangat sulit mengubah persepsi publik terhadap parpol baru yang bernada minor, sementara ia tidak memiliki tokoh atraktif, tidak memiliki distingsi program yang jelas, serta tidak memiliki jejaring aktor yang bisa menawarkan kebaruan. Maka, jalan setapak pun mesti dapat diterima bagi parpol baru dalam yang perjuangan berat.

Ketika kita menengok hasil hasil Pemilu 2019, ternyata tidak satu pun parpol baru yang lolos ke Senayan. Hasil suara yang diperoleh dari Partai Perindo 2,67 persen, Partai Berkarya 2,09 persen, PSI 1,89 persen, dan Partai Garuda hanya 0,50 persen. Bahkan, parpol lama seperti Hanura pun tersingkir dari DPR pada Pemilu 2019.

Baca juga:

Walaupun, tetap memiliki peluang untuk meraih dukungan publik. Dalam catatan sejarah kepemiluan ternyata parpol baru seperti Partai Nasdem berhasil menduduki kursi Senayan dengan perolehan suara 6,7 persen pada Pemilu 2014, tentu potret parpol tersebut tidak lepas dari wajah Surya Paloh. Di samping itu juga, parpol baru seperti Partai Gerindra pada Pemilu 2009 juga berhasil meraih 4,5 persen suara.

Sementara di negara-negara lain, keberhasilan parpol baru perlu diapresiasi, misalnya di Prancis. Kemenangan Partai La Republique en Marche (LREM) berhasil meraih kursi di Parlemen pada Pemilu 2017. Bahkan, pimpinan LREM Emmanuel Macron berhasil meraih posisi sebagai presiden Prancis.

Lantas, apakah kontestasi politik dari parpol baru di Indonesia dapat mengikuti jejak Emmanuel Macron? Kita tunggu saja nanti tanggal mainnya, yang tidak sabar pasti akan kecewa.

Pada Pilpres 2024 nanti akan terlihat seru, selain parpol baru, wajah baru pun akan menghiasi taman demokrasi. Mengingat Jokowi Widodo sudah pensiunkan diri untuk menjabat sebagai presiden.

Oleh karena itu, deretan nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Airlangga Hartato, Muhaimin Iskandar dan AHY akan bertarung dengan gaya politik Mataraman. Tentu saja tidak terlupakan Prabowo Subianto sebagai politikus senior yang sudah dua kali mencalonkan presiden untuk melawan Jokowi, meski tidak pernah meraih kemenangan.

Apakah Prabowo Subianto akan bertarung lagi pada Pilpres 2024 melawan wajah-wajah baru? Apakah dengan munculnya partai-partai baru dapat menjadi cerminan terbaik pada Pilpres 2024? Ya, tentu butuh orang-orang terbaik untuk membawa partai baru itu dengan perjuangan politik yang mati-matian.

    Budi Prathama