Pindah Kubu dalam Pilihan Politik Sudah Ada sejak Zaman Sahabat Nabi

Pindah Kubu dalam Pilihan Politik Sudah Ada sejak Zaman Sahabat Nabi
Ilustrasi: NET

Pindah kubu, apalagi hanya urusan pilihan politik, itu sebuah keniscayaan yang sangat cair. Dalam konteks keindonesiaan, ia hanyalah sebatas kontestasi demokrasi.

Politik adalah urusan kecocokan hati dan kepentingan sesaat saja. Tidak ada urusan dengan baik-buruk atau benar-salah. Sehingga filsafat politik idealnya merupakan panggilan kalbu terdalam dan boleh saja mendasarkan atas nash-nash dari kitab suci.

Namun, pilihan untuk terjun ke politik praktis sebaiknya dijauhkan dari pembenaran dengan menggunakan nash-nash suci. Sebab, tercampuraduknya ayat-ayat dengan syahwat politik akan menjadi suguhan yang bisa memecah belah umat.

Pilihan politik praktis sudah terjadi sejak awal generasi Salafus Shalih. Para Sahabat Mulia yang sudah pasti dijamin masuk surga oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri. Dan dalam perjalanan berpolitiknya, beberapa Sahabat Nabi terlibat dalam perbedaan pilihan hingga saling angkat senjata.

Kita mengenal bagaimana Sayyidina Zubair bin Awwam RA dan Sayyidina Tholhah Bin ‘Ubaidillah RA. Ketika berada di kubu oposisi dari Sayyidina Ali Bin Abi Tholib RA. Mereka melakukan perang besar hingga melibatkan istri Kanjeng Nabi yakni Ummul Mukminin Siti Aisyah RA.

Beliau-beliau ini adalah orang yang berbaiat langsung kepada Sayyidina Ali selaku kholifah pengganti Sayyidina ‘Utsman Bin ‘Affan RA. Ketika menjadi oposisi dan angkat senjata, tidak sedikitpun keluar kalimat caci maki, atau mengkafirkan dari Sayyidina Ali ke kubu mereka. Bahkan, beliau tetap menghormati sahabat mulia ini.

Syahidnya Sayyidina Zubair Bin Awwam dan Sayyidina Tholhah Bin ‘Ubaidillah membuat Sayyidina Ali menangis. Beliau tidak memandang keduanya sebagai oposan, melainkan tetap sebagai sahabat Nabi yang dijamin masuk surga.

Demikian pula Siti Aisyah setelah berhasil dikalahkan, tetap mendapatkan kehormatan sebagai Ibunya Umat Beriman. Tetap diminta nasihat serta fatwanya. Sama sekali tidak direndahkan martabat dan kedudukannya. Baju duka cita dan sekedup beliau tetap menjadi milik beliau, tidak dianggap sebagai harta rampasan perang.

Dan ketika Sayyidina Ali berhasil dikalahkan oleh Sayyidina Muawiyah, maka jumhuriyah Sahabat kemudian mengakui kepemimpinan beliau. Mengubah sistem khulafaur rasyidin al mahdiyyin menjadi sistem monarki.

Beberapa Sahabat yang tidak setuju dan menjadi oposisi tetap dihormati oleh beliau. Misalnya, Sayyidina Abdullah Bin Zubair RA menolak bergabung dengan Sayyidina Muawiyah RA.

Mari kita belajar kebijaksanaan dari beliau-beliau. Pindah kubu, apalagi hanya urusan pilihan politik, itu sebuah keniscayaan yang sangat cair. Apalagi, saat ini dalam konteks keindonesiaan, pindah kubu politik, hanyalah sebatas kontestasi demokrasi.

Tidak perlu angkat senjata dan perang secara fisik seperti zaman dulu. Karena itu, tidak perlu berlebihan apalagi mengait-ngaitkan dengan masalah akidah maupun ketauhidan. Itu sudah kebablasan.

_____________

Baca juga:
Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)