Pindah Kubu Tidak Masalah dalam Pilihan Politik

Pindah Kubu Tidak Masalah dalam Pilihan Politik
Presiden Jokowi & Tuan Guru Bajang | Foto: Antara

Pindah kubu, terutama dalam realitas politik, memang fenomenal. Bukan saja karena maraknya politisi yang melakukan, melainkan pula karena ragam respons untuk mereka yang pindah kubu—sering diartikan sama sebagai bentuk kemurtadan.

Beberapa waktu belakangan, kita menikmati suguhan asyik ketika Dr TGH Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) menyatakan dukungan kepada Pakde Jokowi (pindah kubu).

Bukan dukungan beliau yang membuat menarik untuk dibahas. Bukan pro dan kontra beserta spekulasi analisis yang mengiringinya. Itu sudah biasa sekali dalam dunia politik.

Yang sangat menarik ialah ada salah satu artikel yang menyamakan peristiwa ‘membelotnya’ TGB, pindah kubu dari oposisi ke kubu incumbent, dengan peristiwa membelotnya Rojjal Bin ‘Unfuwah dari kubu Sayyidina Abu Bakar RA ke kubu Musailamah Al Kaddzab Si Nabi Palsu.

Kisah ini ada di beberapa kitab. Salah satunya ialah Rijalu Haular Rosul karya Syaikh Kholid Muhammad Kholid.

Di sana dikisahkan, dalam bab manaqib Sayyidina Abu Hurairah RA, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah menubuwatkan di satu majelis yang ada sekitar 40 Sahabat, akan ada salah satu di antara mereka yang masuk neraka Jahanam. Dengan siksaan gigi gerahamnya membengkak sampai sebesar gunung Uhud saking dahsyatnya siksaan.

Semua Sahabat Nabi yang ada di majelis tersebut sudah wafat dan disaksikan khusnul khotimah maupun mati syahid. Hanya tinggal 2 orang yang masih hidup, yaitu Sayyidina Abu Hurairah RA dan Rojjal Bin ‘Unfuwah.

Ternyata Rojjal inilah yang kemudian membelot ke kubu Musailamah. Berbekal kedekatannya dengan Kanjeng Nabi di masa lalu, pria ini berhasil memperkuat barisan Musailamah dan menentang Sayyidina Abu Bakar RA. Hingga akhirnya Rojjal mati dalam kondisi murtad, su’ul khothimah. Maka genaplah nubuwat Kanjeng Nabi pada waktu itu.

Kisah tentang Rojjal ini benar adanya. Kisah pembelotannya ialah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Namun, ini kaitannya dengan akidah. Berkaitan dengan sistem kepercayaan, bahwa ia murtad dari Islam lalu membelot dari Khalifah kepada pembuat agama baru.

Sama sekali berbeda dengan kondisi keindonesiaan saat ini. Kita harus membaca TGB sebagai seorang politikus yang menjatuhkan pilihan politiknya untuk pindah ke kubu lain. Tidak ada kaitannya dengan murtad, atau ganti akidah, dan sejenis itu.

Dalam hal ini, penulis dan penyebar berita sudah sangat gegabah. Menyamakan TGB dengan Rojjal, bisa diartikan menganggap TGB sudah murtad atau berganti akidah. Apalagi dibumbui dengan berbagai narasi kebencian yang tidak pada tempatnya. Lalu disambut gegap gempita oleh mereka yang percaya.

Hal ini tidak boleh didiamkan. Ini bukan bagian dari demokrasi, bukan bagian dari kebebasan berpendapat.

Tentu kita masih sangat akrab dengan nash suci. Itu menyatakan bahwa apabila seseorang menuduh orang lain dengan sebutan kafir, jika tidak terbukti, maka kekafiran itu akan berbalik kepada penuduhnya sendiri.

Selamat merayakan perbedaan pilihan politik. Politik akan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawannya. Tapi hindarilah memperkosa narasi langit untuk melegitimasi syahwat berpolitik praktis.

_____________

Baca juga:
    Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)