Polemik Perda Miras di Majene: Bercanda Tidak Sekurangajar Itu, Pak!

Polemik Perda Miras di Majene: Bercanda Tidak Sekurangajar Itu, Pak!
©Harian Kota

Patut kita apresiasi, di antara banyak kesibukan mengurusi daerah, Bupati dan Ketua DPRD Majene masih punya ruang menghibur dengan Perda Miras. Paling tidak, menghibur saya yang lagi suntuk-suntuknya mengerjakan skripsi.

Seperti mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, saya pun lagi sibuk-sibuknya mencari suasana yang bisa membangkitkan mood untuk mengerjakan skripsi. Tibalah di suatu malam, di sebuah warung kopi, saya beradu tatap dengan sepotong skripsi yang belum juga terselesaikan. Cenderung menjengkelkan memang. Setidaknya, demikian yang saya alami.

Saya rasa kita akan sepaham, untuk dapat melanjutkan kerja-kerja serius—merampungkan skripsi—setelah menemukan kebuntuan, maka butuh pencairan suasana menjadi lebih santai. Beruntunglah saya pernah menghadapi keadaan ini sehingga telah menyiapkan solusi: satu folder video stand-up comedy telah siap tereksekusi.

Sial! Rasa lucu yang saya harapkan untuk membuat lebih santai tak kunjung tiba. Tapi, percayalah, kepada semua pekerja skripsi bahwa Tuhan bersama para pejuang skripsi! Malam itu, Tuhan memberikan jalan pada saya melalui pesan di sebuah grup WhatsApp.

Awalnya saya kira berita yang meramaikan grup itu perihal LGBT atau paling jauh mengenai perdebatan benjolan Setya Novanto sebesar bakpao atau bakso. Ternyata bukan.

Penelusuran pun membawa saya pada sebuah laman media online daerah, Mandarnews. Media itu mewartakan polemik keresahan masyarakat Majene terhadap salah satu Peraturan Daerah (Perda Miras) yang baru saja Pemda sahkan tentang Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol.

Tak disangka-sangka, setelah membaca beberapa berita mengenai itu, blasss saya tertawa lepas. Masalah saya dengan kesuntukan menyelesaikan skripsi terpecahkan. Sensitivitas kelucuan saya mendapat serangan dahsyat.

Serangan itu mencapai klimaks saat saya membaca pernyataan dua tokoh “penting” yang menanggapi polemik itu; Fahmi Massiara selaku Bupati Majene dengan Ketua DPRD Majene, Darmansyah.

Untuk memudahkan mencermati pernyataan kedua tokoh di atas, maka saya akan menarik benang merah dari awal hingga akhir cerita polemik tersebut. Begini kira-kira:

Baca juga:

Kamis, 28 Desember 2017, Pemda mengesahkan Perda Miras. Tidak butuh waktu lama, masyarakat Majene secara masif dalam berbagai media online berlomba-lomba mengkritik berbentuk penolakan terhadap Perda tersebut dengan berbagai standar (agama, budaya, hingga image Majene sebagai Kota Pendidikan—Aaaamiiiiinnn).

Akhir cerita, akibat desakan masyarakat yang makin besar, Senin, 1 Januari 2018, Pemda mengambil sikap. Pihaknya berniat untuk membatalkan Perda tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi serangan telak terhadap sensitivitas kelucuan saya. Sebelum saya jelaskan, saya ingin minta maaf kepada kedua tokoh tersebut jika dalam penyajian fakta tak sebaik yang mereka lakukan.

Pertama, pernyataan Fahmi Massiara yang wartawan Mandarnews sajikan ke dalam kalimat tak langsung. Fahmi Massiara mengatakan, sebelum disahkan, Perda itu telah melalui kajian dan studi banding ke daerah lain.

Saya mengasumsikan Fahmi Massiara ingin menegaskan pada masyarakat penolak Perda Miras tersebut bahwa kebijakan yang pemerintah ambil telah mempertimbangkan keadaan daerah (dalam artian luas). Maka, pikirnya, hasil studi banding dapat kita terapkan.

Ah, ada-ada saja. Jika benar kemudian pemerintah telah melakukan kajian serius sebelum mengesahkan Perda Miras tersebut, saya yakin bahkan hakul yakin tidak akan ada penolakan semasif itu. Kalaupun kajian itu dilalui, kemungkinan tidak sepenuh hati.

Atau jangan-jangan (ini bukan tuduhan lho) saking sungguh-sungguh dan seriusnya saat melakukan studi banding, kajian yang ia maksud, hanya pengkajian “keberhasilan-keberhasilan” yang daerah pembandingnya capai. Maka, blasss satu konsep utuh dari daerah lain dipaksakan penerapannya di Majene.

Ceh, calana dzuadzii moaq nanialli-I, ni ukur sala-i. tallomo-lomo ingganna epai manini kapu’na. Mane bahayainnadzi. Semoga saja tidak demikian.

Halaman selanjutnya >>>
Riandy Aryani