Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia

Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia
Ilustrasi: Sampul Buku (Remotivi)

Mingguan Mahasiswa Indonesia merupakan sumber amat berharga mengenai perdebatan-perdebatan ideologi hingga membuahkan sistem politik Indonesia yang tetap dipakai sampai sekarang.

Dengan lahirnya Orde Baru secara dramatis di tahun 1966, di Indonesia terjadi suatu perubahan orientasi yang luar biasa di berbagai bidang: politik, ideologi, ekonomi, dan sosio-kebudayaan.

Kelompok militer di bawah pimpinan Jenderal Soeharto secara bertahap menerima pengalihan kekuasaan dari Presiden Soekarno. Muncullah satu penguasa baru yang mendapat simpati dan dukungan aktif dari sebagian pemuda dan mahasiswa Indonesia.

Bersamaan dengan itu, timbul pula perdebatan yang ramai dan dalam tentang sifat dan tujuan Orde Baru yang berlangsung sampai beberapa tahun kemudian. Perubahan politik yang luar biasa di tahun 1966 itu diiringi dengan timbulnya kesadaran yang mendalam tentang keterbelakangan dan mundurnya pembangunan di Indonesia setelah 20 tahun merdeka.

Tanggal 19 Juni 1966, koran Mahasiswa Indonesia terbit. Kehadiran mingguan ini relatif tidak terlalu dikenal, padahal banyak terlibat dalam proses kelahiran dan evolusi Orde Baru, terlebih dalam perkembangan ideologi Orde Baru itu sendiri.

Para pemuda, termasuk para pemimpin mahasiswa yang mengasuhnya, merupakan pendukung-pendukung aktif Orde Baru. Mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang gigih menganjurkan perubahan, reformasi, dan apa yang mereka sebut dengan modernisasi. Karena itu, surat kabar mereka ini, Mahasiswa Indonesia, merupakan satu sumber yang mutlak perlu dipelajari untuk mengenal Orde Baru dan sejarah Indonesia antara tahun 1966 sampai tahun 1974.

Mingguan ini juga merupakan sumber amat berharga mengenai perdebatan-perdebatan ideologi hingga membuahkan sistem politik Indonesia yang tetap dipakai sampai sekarang.

Sayangnya, Mahasiswa Indonesia belum diberi tempat yang pantas dalam studi mengenai Indonesia masa kini. Tentu saja berbagai ahli Indonesia telah menekankan tentang pentingnya mingguan dan grup Bandung ini. Sesekali para peneliti itu menyebut juga berbagai kegiatan kelompok Bandung dan penerbitannya.

Misalnya, dalam suatu penelitian mengenai ideologi pembaru di Indonesia, R.W. Liddle menunjukkan pentingnya peranan Mahasiswa Indonesia untuk mengetahui pergolakan-pergolakan gagasan yang menandai saat-saat permulaan lahirnya Orde Baru:

Mingguan dari Bandung, dengan mana grup studi yang terdiri dari para intelektual muda dan aktivis berafiliasi (grup Mahasiswa Indonesia), menerbitkan analisis-analisis politik—bukannya berita-berita aktual—dan merupakan sebuah sumber utama informasi tentang gagasan-gagasan dan aktivitas intelektual sekuler dan pembaru.

Bagi Ken Ward, tak syak lagi Mahasiswa Indonesia merupakan koran yang mesti digunakan untuk mereka yang tertarik pada studi tentang ideologi Orde Baru. Ken Ward sendiri lebih memperhatikan koran ini sebagai suatu contoh alienasi yang tampaknya telah menandai para pemikir dari pemerintahan Soeharto. Buat Ken Ward, koran dari Bandung ini tak lebih dari satu corong propaganda yang agak buta tentang gagasan ilmu-ilmu sosial Barat.

Sebuah terbitan koran pembaru seperti mingguan mahasiswa Mahasiswa Indonesia dapat berisikan artikel-artikel yang menggambarkan adanya pengaruh dan otoritas dari seorang Karl Deutsch, S.N. Eisenstadt, Herbert Feith, Wilbert Moore, dan Lucian Pye.

Ken Ward menganggap Mahasiswa Indonesia hanya semacam pembawa suara dalam pengaruh Barat. Sebaliknya, Roger K. Paget menggarisbawahi mutu dan orisinalitas koran itu. Buat Paget, koran itu merupakan “sebuah bacaan pokok bagi elite politik Indonesia”.

Beberapa kalimat yang membicarakan Mahasiswa Indonesia itu menunjukkan pentingnya kehadiran koran ini. Sayangnya, tak satu pun yang mengupas sifat dan peranan koran ini secara mendalam. Berbagai pihak saling berbeda pendapat mengenai sifat dan peranannya.

Di samping adanya beberapa catatan tentang Mahasiswa Indonesia, maka berbagai artikel dari koran itu sendiri telah dikutip secara sepotong-sepotong dan tak utuh di dalam terbitan berkala Asian Survey. Harold Crouch dan Hamish Mc. Donald acap kali menyinggung kelompok Bandung ini—termasuk pemimpin mereka, Rahman Tolleng—dalam penelitian-penelitian terbaru mereka.

Lihat juga: Kekaburan Wilayah Politik

Pada mulanya, sedikit sekali yang kita ketahui tentang Mahasiswa Indonesia. Tak ada satu studi khusus, apalagi mendalam, yang pernah dilakukan mengenai koran ini. Agaknya, alasan material merupakan penghalang utama: koleksi lengkap koran ini sangat langka. Kalaupun ada, sukar mendapatkannya. Kekosongan yang besar itu kami coba isi dalam buku ini.

Kami sendiri memperoleh koleksi yang lengkap. Kami ingin memanfaatkan bahan ini secara sistematis, sehingga tercipta sebanyak mungkin informasi, baik tentang koran itu sendiri maupun tentang isinya.

Untuk ini, sebelum menganalisis isi kandungan dan apa-apa yang ingin dikatakan oleh koran ini, terlebih dulu kami meneliti sejarah Mahasiswa Indonesia. Kami mencari segala sesuatu yang dapat memberikan batasan tentang koran ini dan dapat menjelaskan sifat sebenarnya, mengikuti evolusinya, mengenali para pengarangnya, dan menempatkannya dalam satu konteks politik Orde Baru.

Karena kekurangan bahan-bahan dari luar, kami mencoba mencari informasi dari bahan koran itu sendiri. Sejak studi ini dimulai, penelitian terhadap Mahasiswa Indonesia ini kami lakukan melalui dua tahap.

Pertama, kami ambil hal-hal yang berhubungan dengan koran itu sendiri: kehidupan pribadinya, hubungannya dengan pembaca dan penguasa, juga sejarahnya. Kedua, kami pelajari secara singkat isi koran itu, yaitu pandangan kritis mereka tentang masyarakat serta analisis-analisis dan asal-usul mereka dalam masalah pembaruan, yaitu konsepsi mereka mengenai Orde Baru.

Cara membaca seperti ini menyebabkan buku ini ditulis menjadi dua bagian. Yang pertama, menggunakan pendekatan sejarah dengan berusaha menuliskan riwayat hidup koran dan kelompok Mahasiswa Indonesia. Pertanyaan yang diajukan di sini berguna untuk mengetahui apakah memang benar kita berhadapan dengan sebuah koran mahasiswa belaka?

Bagian kedua, lebih merupakan analisis tematis. Tujuannya menjelaskan dan menganalisis isi koran dan Orde Baru menurut Mahasiswa Indonesia. Dijelaskan melalui teorisasi dan observasi kritis terhadap orde ini yang berasal dari pemuda-pemuda pembaru di Bandung.

Adanya tema-tema yang cukup banyak dibicarakan di dalam Mahasiswa Indonesia menyebabkan tak ada satu tema pun yang mungkin diteliti secara khusus dan mendalam sebagaimana halnya dalam satu monografi. Namun, dalam beberapa hal, kami mencoba membuat analisis lebih dalam lagi sepanjang dimungkinkan oleh subjeknya dan sejauh kemampuan kami.

Sebaliknya pula, keanekaragaman yang boleh jadi berlebihan itu telah memungkinkan kami untuk secara tidak langsung membuat sketsa sebuah gambaran masyarakat Indonesia dan seluruh tingkah laku mereka pada permulaan Orde Baru. Sambil, di samping itu, kami mencoba melakukan perjalanan di dalam “suatu cara berpikir Nusantara”, atau paling tidak salah satu dari cara berpikir itu.

*Kata Pengantar

  • Judul: Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia | Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966 – 1974
  • Penulis: François Raillon
  • Penerjemah: Nasir Tamara
  • Penerbit: LP3ES, 1985
  • Tebal: xii + 374 hlm

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Mimin NP 39 Articles
Editor Nalar Politik