Politik di Kolong Jembatan

Politik di Kolong Jembatan
┬ęTempo

Sebagai seorang pendidik, penulis pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup di bawah kolong jembatan (fly over) di Makassar. Saat itu penulis dan kawan-kawan melakukan baksos (bakti sosial), mewakili salah satu komunitas Jepang naungan Masjid Al-Markaz al-Islami.

Tentu sangat aneh. Melihat keadaan pahit di kolong jembatan seperti itu, rasanya sebuah tragedi tertentu. Anak-anak di kolong jembatan dididik dengan pakaian ala kadarnya (walaupun kotor dan entah kapan terakhir dicuci), pada faktanya membuat kita bungkam.

Tapi mereka tanpa pamrih untuk maju. Mereka tampak senang melihat kami berdatangan membawa materi bahasa Jepang. Mungkin sebab yang mereka lihat adalah sebungkus kotak nasi yang kami bawa, atau isi amplop sebagai sedekah harian.

Namun yang menjadi pertanyaan: Mengapa mereka bisa sampai seperti itu? Apakah itu faktor dari pendidikan yang mereka kenyam? Mengapa kemiskinan harus ada?

Pertanyaan-pertanyaan serupa di atas jelas tak bisa kita jawab semudah membalikkan telapak tangan. Meski demikian, yang paling jelas tak bisa kita nafikan adalah bahwa itu merupakan imbas dari praktik politik yang tak semestinya.

Jika mempertanyakan peran pemuda dalam politik, tentunya penulis akan gamblang menjawab: YA. Sebab di dalam politik, yang dominan adalah lomba. Lomba ini berbau dan terasa rimbanya daripada sebuah demokrasi. Ia menyimpang, hanya menguntungkan segelintir orang saja. Model dari praktik politik semacam inilah yang patut kita hindari.

Karena peran pemuda dalam dunia politik sangatlah penting, maka mereka (pemuda) senantiasa harus bisa peka dalam melihat suasana macam apa yang terjadi di lingkungan realitasnya. Jika ada seorang pemuda yang membenci politik, saya kira itu wajar saja. Tapi jangan mau dimakan oleh ideologi dan mitos seperti itu, karena hanya akan mengaburkan pandangan kita sebagai korban. Itu pun jika pemudanya sadar.

Bukankah terdengar aneh dan hambar jika kita hidup dalam sistem, melakukan hal sesuai dengan sistem, dan di sisi lain ada yang diuntungkan, sedangkan kita berusaha dan lelah menjalani sesuai dengan sistem yang disetujui namun begitu-begitu saja?

Baca juga:

Dalam dunia politik, kita harus menyadari batas. Jika tidak, sistem hanya terasa hambar, peraturan hanya membuat kita merasa puas, dan pada akhirnya kita tak memiliki apa pun dalam hidup ini.

Sementara, di lain pihak, justru orang yang memahami batasnya bisa memiliki untung lebih. Karena dia tahu bahwa sistem mempunyai batasan pada posisi-posisi tertentu sehingga dia tak mau tetap hidup dalam suatu posisi.

Posisi yang politis menentukan peran pemuda dalam politik. Carl Schmitt, seorang filsuf politik, pernah mengatakan hal ini dalam karyanya, Teologi Politik. Bahwa yang operasional dalam negara hukum bukan lagi kekuasaan, melainkan rasionalitas administratif dan yuridis. Ia berusaha menggambarkan sistem hukum yang ada di dalam negara, mengibaratkan sesuatu yang sudah terabaikan bagi orang tertentu, yakni yang politik.

Mungkin sebagian orang melihat ini adalah sesuatu yang wajar saja. Karena sistem yang kita sepakati tak lain adalah hasil dari mufakat atau musyawarah sebelumnya. Sehingga sistem itu terkesan gampangan di mata kita, padahal tidak dan justru malah sebaliknya.

Inilah yang dilihat di dalam mata seorang politikus. Dia berusaha membuat sistem itu guna mengaburkan keuntungan mereka. Sehingga yang terjadi adalah penyimpangan. Untuk itu, seorang pemuda harus bisa melihat kondisi kejam ini. Jika tidak, bisa gawat, dan justru akan berimbas pada sistem pendidikan.

Kita bisa melihat ada berapa sekolah yang masih saja bangunannya belum lengkap. Bahkan ada seorang yang berasal bukan dari negeri ini membuat jembatan hanya untuk memberi anak-anak akses ke sekolah, ke tempat di mana mereka bisa menimba ilmu.

Daya Politik Pemuda

Peran pemuda dalam sisi politisnya akan membuat pemuda terus meningkatkan tahapan posisinya ke tingkat yang lebih baik. Mari kita menyebut batasan politisnya dalam istilah distingsi eksistensi.

Sebelum kita berbicara lebih jauh lagi, mari kita tanyakan: Mengapa pemuda mesti sadar akan daya kekuatan politik?

Halaman selanjutnya >>>