Politik Identitas Berbungkus Politik Kelas

Politik Identitas Berbungkus Politik Kelas
Politik Identitas (Ilustrasi: .radioidola.com)

Nalar WargaSejak kampanye penghancuran Ahok, Gabener dan para intelektual-cum-aktivis pendukungnya menggunakan politik kelas sebagai bungkus politik identitas.

Mereka seolah-olah memperjuangkan kesetaraan dengan menggunakan pendekatan keberpihakan, tetapi sesungguhnya itu hanya penampakan luar. Di dalamnya terdapat sebuah dendam sejarah yang telah terbentuk sekian lama dalam ingatan.

Bagaimanapun, Gabener dan para intelektual-cum-aktivis pendukungnya adalah orang sekolahan. Mereka merasa malu, atau sadar bahwa itu tidak memadai, jika hanya menggunakan bahasa keagamaan. Dendam sejarah harus diterjemahkan dalam istilah-istilah ilmiah.

Dalam hal ini Marxisme dibajak sedemikian rupa sehingga dendam sejarah itu terlihat merupakan sebuah emansipasi. Kerumunan umat yang dimanipulasi oleh Al-Maidah 51 dikatakan sebagai kalangan proletar yang marah. Jika di situ ada kaum borjuis yang terlibat, mereka dielu-elukan sebagai individu-individu progresif yang resah dengan adanya ketimpangan.

Populisme Islam, oleh karena itu, disebut-sebut dengan penuh kekaguman. Seakan-akan itu merupakan kritik atas kapitalisme yang serakah. Bahwa di sana ada praktik intoleransi yang menentukan tidak pernah dilihat. Ujaran kebencian di masjid-masjid dianggap bukan masalah.

Politik identitas berbungkus politik kelas yang ditampilkan oleh Gabener dan para pendukungnya sangat berbahaya. Ia tidak hanya akan membawa kembali alam pikiran bangsa ke Abad Pertengahan, tetapi juga akan menghentikan pembangunan.

Tata kota akan semerawut, angkutan umum akan memburuk, tetapi mungkin warga kotanya terlihat bahagia naik becak sambil minum air kencing unta di tengah kemacetan yang menggila.

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: