Politik Identitas No, Politik Integritas Yes

Politik Identitas No, Politik Integritas Yes
©Lee Stallard

Politik Identitas No, Politik Integritas Yes

Berbicara terkait agama dan tantangannya menghadapi tahun politik mendatang, memang semestinya menjadi topik penting yang didiskusikan secara sahih oleh pihak-pihak pemangku kepentingan. Penulis menerawang bahwa ihwal subtansial yang mau diangkat di sini adalah terkait dengan Politik Identitas.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa politik identitas ini semacam sudah menjadi “tradisi” atau “habitus”, bahkan “habitat” dalam wacana perpolitikan kita menjelang tahun politik atau pesta pemilihan umum (pemilu), mulai dari tingkat pemilihan kepala negara di pusat sampai pemilihan kepala kampung di daerah-daerah terpencil.

Kita kerapkali menemukan di ruang publik bagaimana simbol-simbol agama dan kultur itu dikomersialakan oleh okmun-okmun atau pihak-pihak yang lihai menghalalkan beragam cara hanya untuk mencapai tujuan sesaatnya. Agama-agama dijadikan sebagai basis massa, suara dan koalisi (posko kemenagan, tim sukses). Ada “kampanye gelap” yang dilakukan di lingkungan lembaga agama atas nama agama, tidak jarang juga ivent-ivent monumental agama dijadikan sebagai panggung kampanye politik. Para pasangan calon pemimpin menjadikan ruang keagamaan sebagai basis kekuatan politiknya.

Dari siniliah agama-agama di tanah air ini dipanggil sejatinya untuk menjaga marwahnya yang suci, luhur dan mulia itu, ia tidak boleh “jual murah” di pasar perpolitikan dan kekuasaan yang picik dan penuh manipulasi terkait fenomena ketengangan eksistensial di atas ini, maka disposisi agama-agama mesti jelas, tegas, bila perlu keras dalam menyikapi fenomena politik identitas agama, bukan untuk untuk kepentingan agama yang asali, tapi demi kepuasan libido politik para calon pemimpin (elite oprtunis).

Dalam tulisan ini, pokok pikiran yang hendak ditawarkan oleh penulis adalah kembali mengibarkan bendera “politik integritas” daripada agama-agama di tanah air, tetapi juga bagi setiap calon pemimpin yang akan berkontestasi dalam perhelatan politik di tahun 2024 mendatang.

Penulis melihat bahwa dengan mengkristalisasikan dan mendemonstrasikan politik integritas di kalangan paslon sebagai subjek politik dan agama-agama sebagai objek politik sebagai antithesis dari geliat politik identitas yang menggurita, maka yang terkonstruksi secara baik di sini bukan saja wajah agama dan para paslon, melainkan juga wajah demokrasi bangsa ini akan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan hari-hari kemarin dan hari ini.

Dengan meminjam beberapa pemikiran dari seorang filsuf muda Indonesia, yakni Reza A.A Wattimena, pendiri Rumah Filsafat, pegembang Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama, peneliti di bidang filsafat politik, filsafat ilmu dan kebijaksaan timur, dan doktor filsafat lulusan Muncen Jerman, maka penulis hendak memetakan sebuah teori baru yang beliau kemukakan yang barangkali bisa menjadi refleksi bersama yang mumpuni untuk mempercakap wajah demokrasi bangsa ini, yakni teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama.

Kedua teori ini akan membantu kita untuk menakar taraf kesadaran para calon pemimpin dan tiopologi agama yang mengusungnya, apakah kesadarannya dan tiopologi agamanya adalah yang mampu membuatnya menempuh jalur politik integritas atau cenderung mencelupkannya pada lahar jalur politik identitas?

Baca juga:

Memahami Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama

Dalam bukunya yang berjudul Teori Transformasi Kesadaran (2023), Wattimena membabak kesadaran manusia ke dalam lima tahap, mulai dari yang terendah sampai yang paling tinggi:

Pertama, Kesadaran Distingsi-Dualistis. Manusia dengan kesadaran ini masih melihat realitas dengan kacamata subjek-objek, aku-mereka. Ia tertutup pada dirinya sendiri, ia melihat kosmos ini dengan keterpisahan-keterpisahan. Praktek rasisme, kolonialisme, kapilisme dan imperialisme lahir dari kesadaran distingsi-dualistis ini;

Kedua, Kesadaran Immersif. Manusia dengan kesadaran ini sudah mulai terbuka melihat dunia luarnya, dua kutub filsafat yang menopang kesadaran ini adalah hermeneutika dan fenomenologi. Namun keterpisahan-keterpisahan atau distingsi antara subjek-objek masih ada di sini;

Ketiga, Kesadaran Holistik-Kosmik. Manusia dengan kesadaran ini sudah melihat dunia dengan kacamata yang lebih luas, keterpisahan-keterpisahan paradigmatik sudah nyaris tidak ada di sini, alam semesta sudah dilihat sebagai tempat hidup (rumah bersama), alam sudah tidak dilihat sebagai objek material yang bisa dieksplotasi demikian juga dengan sesama manusia lainnya;

Keempat, Kesadaran Meditatif. Manusia dengan kesadaran ini sudah mulai melampaui hakekat kemanusiaannya, ia sudah benar-benar keluar dari cengkraman egoisme, inidividualisme dan komunitarianismenya yang semu dan sempit itu. Ia sudah mulai menyatu dengan alam, ia tidak terikat lagi dengan konsep-konsep dogmatisme agama dan budaya yang menjajah jangkauan penglihatan kesadarannya;

Kelima, Kesadaran Kekosongan. Manusia dengan kesadaran ini benar-benar sudah bebas dan tercerahkan, ia sudah hidup merdeka, lepas bebas tanpa lilitan dogma agama, budaya dan pengetahuan-pengetahuan yang mengerdilkan dan membunuhnya. Manusia dengan tipe kesadaran kekosongan ini bukan tidak ada, mereka ada namun jumblahnya saja yang relatif minim. Jika dunia dipenuhi dengan manusia-manusia yang berkesadaran kekosongan ini, maka kedamaian, keadilan, dan keharmonisan semesta akan senantiasa menyelimuti kita, (Wattimena, 2023; 8-17).

Kurang lebih demikian pemetaan teori transformasi kesadaran yang dicetuskan oleh Wattiemana. Hematnya, Indonesia masih berada di tahap kesadaran distingsi-dualistis, karenanya kita bisa lihat dan jumpai fenomena kekerasan atas agama, politik identitas, pelarangan pembagunan rumah ibadah, diskriminasi rasial, dan kekerasan-kekerasan yang lahir dari kesadaran orang atau pihak yang masih terkurung dalam dirinya atau egonya dan pada waktu yang sama melihat orang atau pihak yang ada diluarnya sebagai objek, musuh, pesaing dan fragmin-fragmin kerdil miring lainnya.

Beliau juga menambahkan untuk melapisi idenya di atas dalam bukunya dengan judul Teori Tipologi Agama (2023), bahwa manusia atau pihak-pihak dengan taraf kesadaran distingsi-dualistis di atas itu rasionalitas dan aspek humanitasnya masih diperbudak oleh agama kematian. Agama kematian, berikut ciri-cirinya; minus koherensi, penuh takhayul, memaksa, obsesi kematian, merusak hidup bersama, intoleransi, kekerasan, terorisme, menindas perempuan.

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei