Politik Iklim; Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

Politik Iklim; Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina
©Majalah CSR

Sebagai peneliti yang cenderung menggunakan analisa antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang dibicarakan oleh seluruh dunia hari ini, yaitu mengenai konflik antara Rusia dan Ukraina dengan menggunakan paradigma Jaringan Sosial atau Jarsos sebagai point of view.

Dalam bukunya yang berjudul Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini menyebut bahwa dengan berpikir jaringan artinya kita menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya dan dengan itu kita harus menghindari untuk menegasikan realitas apa pun yang kemudian muncul dalam konflik Rusia dan Ukraina ini.

Sebagai catatan bahwa dengan menggunakan paradigma jarsos sebagai landasan berpikir, saya tidak langsung pada inti pembahasan konflik antara Rusia dan Ukraina, tetapi mencari makna apa sebenarnya yang terjadi dan menghubungkan antara satu realitas dengan realitas lainnya dan itulah yang kemudian akan membuat tulisan ini sedikit panjang dan melebar ke mana-mana.

Tentunya kita tahu bahwa sampai saat ini, keputusan Rusia untuk menginvasi Ukraina memunculkan beragam opini dan pandangan dari berbagai pihak. Saya sendiri mengikuti berbagai discourse yang memunculkan tema ini untuk dibahas para pakar dan tentunya ada perbedaan sudut pandang dari masing-masing mereka, mulai dari yang melihat ini dari sisi geopolitik, militer hingga ekonomi.

Tapi ada satu hal yang menarik yang kemudian tidak banyak disinggung oleh mereka yaitu berkaitan dengan kepentingan politik iklim yang sedang menjadi agenda barat untuk digulirkan sebagai pengganti politik terorisme yang sudah expired sejak berhentinya invasi Amerika Serikat terhadap Afghanistan.

Untuk memulai ini, saya akan mencoba berangkat melalui content tentang Jerman, sebab sepanjang mengikuti berbagai informasi dan insight dari berbagai saluran-saluran media dan pakar, saya menemukan bahwa content Jerman ini muncul secara signifikan karena pada awal-awal pasukan Rusia bersiap di Belarusia dan Krimea terjadi pertemuan yang cukup intens  antara Kanselir Jerman Olaf Schzol dengan Presiden Vladimir Putin.

Contentcontent tersebutlah yang paling banyak muncul di antaranya mengenai Nord Stream Gas Pipelines dan saluran-saluran gas Rusia yang banyak melewati Ukraina dan menunjukkan bahwa Rusia merupakan negara yang menyuplai gas ke daratan Eropa, di antara yang paling bergantung terhadap itu adalah Jerman dan Italia.

Contentcontent yang muncul ini kemudian merujuk pada satu kesimpulan bahwa mereka khawatir terhadap suplai gas dan minyak Rusia yang merupakan sumber sebagian besar energi mereka, meski di saat bersamaan muncul juga content mengenai persatuan Benua Eropa yang kemudian menjadi buah simalakama bagi Jerman di tengah pusaran konflik Rusia dan Ukraina yang kita tahu bahwa ini merupakan perang antara Rusia dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Baca juga:

Jika merujuk lebih jauh tentang pipa gas Rusia ini, kita akan tahu bahwa sejak pembangunan Nord Stream yang petama sebenarnya Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menentang hal tersebut, meskipun kemudian oleh Jerman dijawab bahwa dengan menghindari penggunaan batu bara dan menggantinya dengan gas, agenda untuk bebas emisi yang dikampanyekan oleh barat justru dilakukan, sebab penyumbang emisi terbesar adalah batu bara dan itu menjadi jawaban Jerman ketika diminta untuk menghentikan suplai gas Rusia terhadap negaranya.

Meskipun begitu, Jerman juga mengembangkan renewable energy karena mempunyai kapasitas yang besar untuk itu walau berbeda dengan Norwegia yang sejak 2009 sudah 99% menggunakan energi alternatif tersebut, tetapi karena untuk menutupi gap kemampuan produksi yang terbatas, penggunaan gas masih dianggap sebagai pilihan pertama karena merupakan opsi paling ramah terhadap emisi karbon sembari menyiapkan kemampuan olah produksi renewable energy di negerinya.

Beranjak dari inilah kemudian muncul lagi berbagai content yang salah satunya adalah Amerika Serikat dengan dagangan Liqufied Natural Gas atau LNG untuk ditawarkan kepada Jerman sebagai pengganti suplai gas dari Rusia. Tapi menurut Jerman penggunaan LNG justru lebih merepotkan dan mahal dibandingkan menggunakan saluran-saluran gas.

Saya teringat misalnya dengan yang terjadi di Tanggerang, di mana di sana telah teraliri saluran gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) sehingga dari rumah kita bisa langsung menyalakan gas tanpa repot lagi menggunakan tabung gas yang merupakan salah satu dari bentuk LNG di samping tentunya harga yang lebih terjangkau dan murah, dan asumsi saya inilah alasan Jerman kemudian menolak penggunaan LNG tawaran Amerika tersebut, hingga buntut dari keberpihakan Jerman yang ditandai dengan pembangunan Nord Stream untuk yang kedua ini membuat mereka menerima sanksi dari Amerika Serikat.

Inilah yang kemudian menyebabkan ketika pasukan Rusia telah berbaris di Belarusia dan Krimea membuat Jerman dan Italia gamang, maksudnya sikap yang ditampakkan oleh kedua pimpinan negara ini tidak sekeras negaran-egara lainnya di Uni Eropa. Karena kita dapat melihat Jerman dan Italia punya kepentingan energi dalam hal ini, bilamana Rusia menghentikan suplai gas tersebut otomatis mereka akan berada dalam masalah.

Kronik kepentingan pipa gas inilah yang menjadi momentum awal dari konflik ini, meskipun sebenarnya sejak awal Rusia tidak punya ambisi untuk berkonflik dengan Amerika dan Uni Eropa justru berusaha meyakinkan mereka bahwa pipa gas ini juga ramah lingkungan, dan di tengah pusaran persaingan dagang gas inilah yang membuat Jerman galau.

Sebab jika benar Ukraina berhasil diinvasi oleh Russia maka moncong senjata negara yang dulunya bernama Uni Soviet ini akan langsung berada di depan Jerman, dan kenapa kemudian Rusia bersikeras agar Ukraina berada dalam jangkauannya ya karena saluran pipa-pipa gas itu selain Nord Stream yang melewati Baltik adalah yang juga melewati Ukraina dan ini yang paling banyak.

Untuk merangkai semua realitas ini, salah satu yang jadi rujukan saya adalah pandangan dari Anthony Giddens sosiolog terkenal dari UK yang menulis buku berjudul The Politics of Climate Change dan menyebutkan “Oil is the enemy of freedom – is it possible to make such an apparently absurd theorem stick? Without too much over simplification, the blunt answer is yes, and the reasons why are whell known. What friedman calls the first law of petropolitics.

Halaman selanjutnya >>>
    Sultan Alam Gilang Kusuma