Politik Iklim; Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

Sederhananya saya memaknai apa yang Giddens tulis ini bahwa sedang ada konstruksi sosial tentang jahatnya fossil fuel; batu bara, minyak, dan gas ini adalah barang yang haram dan jahat. Dan memang hampir semua kajian yang saya telusuri berkaitan dengan isu climate change menyebut bahwa fossil fuel adalah sesuatu yang merusak.

Dan ini kembali mengingatkan saya tentang film Lighting McQueen yang berjudul Cars, di mana film tersebut becerita tentang dua mobil yang satu menggunakan energi terbarukan dan satunya lagi menggunakan bensin, sehingga menguatkan asumsi saya mengenai konstruksi yang sedang dibangun tentang fossil fuel ini.

Pencarian saya kemudian berlanjut pada Europoean Green Deal yang berisi agenda-agenda seperti pengurangan kendaraan berbasis fossil fuel, sampai kemudian tentang agriculture, farming, dan ini terkoneksi dengan data dari Oxford yang dia menyatakan bahwasanya emisi karbon yang terbesar itu dari sektor energi (73,2%) dan 20% di antaranya disumbang oleh penggunaan transportasi.

Kemudian data ini saya koneksikan dengan beberapa referensi yang sebelumnya pernah saya dapat misalnya film Kiss The Ground, Cowspiracy: The Sustainability Secret, dan saya pikir bahwa isu tentang climate change ini menarik karena terkoneksi ke mana-mana dan dorongan penggunaan transportasi bebas emisi juga makin besar misalnya di Jakarta, mobil yang bertenaga listrik dibebaskan dari aturan ganjil genap.

Ternyata makna berikutnya adalah seperti Norwegia yang menyebutkan bahwa di tahun 2025 tidak ada lagi penjualan mobil yang berbahan bakar fossil fuel semuanya elektrik, artinya akan muncul disrupsi berupa tidak ada lagi stasiun (POM) bensin, berubah menjadi POM listrik. Kemudian UK di tahun 2020 tidak lagi memperbolehkan penjualan mobil yang berbahan bakar fossil fuel, dan ini tentunya menarik sebab isu ini terkoneksi ke mana-mana.

Karena saya terkoneksi dengan teman yang berkecimpung dalam dunia agriculture, saya sedikit mengerti dengan apa pengaruh agriculture terhadap emisi karbon, dan ini menarik sebab akan ada banyak cara bertani yang baru dan sekarang yang paling maju adalah para negara yang tergabung dalam klub iklim ini.

Mereka punya cara membajak sendiri, memupuk sendiri, lama-kelamaan semua hal yang berkaitan dengan itu akan disertifikasi, dan tentunya menurut saya ini akan membuat budaya baru. Maksudnya, nanti orang-orang yang bertani tanpa tersertifikasi itu akan dianggap melakukan hal yang kriminal karena mengeluarkan karbon saat melakukan pembajakan misalnya.

Setelah mengikuti lebih jauh, ternyata isu climate policy ini bukan barang yang baru sebab sudah bergulir sejak 1980 meski hanya seputar penggunaan plastik, selamatkan hiu, dan lain-lain.

Tapi balik lagi ke Giddens, bahwa ini bukan itu ceritanya melainkan cerita utamanya tentang iklim. Dan membawa saya lebih dalam hingga pada cerita Protocol Kyoto, KTT Iklim Kopenhagen, dan  Paris Agreement, bahkan juga sempat saya temui koneksinya dengan berita lokal di mana Kadin merasa khawatir dengan European Green Deal karena dengan isu iklim yang terus dikonstruksi akan membuat regulasi produk-produk Indonesia terhambat sebab tidak memenuhi standar lingkungan dan tentunya berefek pada mahalnya ongkos regulasi dan pajak yang tinggi.

Lalu setelah realitas tentang climate change yang menjadi agenda Uni Eropa dan Amerika Serikat ini, saya mencoba mencari tentang Russia dan ketemu fakta bahwa Rusia adalah penghasil gas terbesar kedua dan produsen minyak tebesar ketiga di dunia. Sehingga hipotesa awal saya adalah perjalanan climate change Uni Eropa dan Amerika Serikat ternyata membahayakan bagi Rusia.

Ilustrasinya saya buat mudah begini, misalnya saya akan melakukan perjalanan ke Pontianak tapi kemudian perjalanan saya ini ternyata membuat teman saya tidak bisa bekerja, ekonomi terganggu, ini sama dengan cerita European Green Deal yang membuat Russia merasa terancam sebagai aktor utama Oil dan Gas kemudian revenue dia yang 40% dari fossil fuel dan GDP 15-20% dari fossil fuel juga akan terganggu dan membuat repot. Sementara anggaran perang itu tidak terlalu besar, paling beberapa persen saja, sehingga bila kehilangan 7-10% dari Uni Eropa dan Amerika sebagai importir terbesar tentu berbahaya.

Saya coba bertanya kepada teman yang kebetulan praktisi IT di dunia oil dan gas, menyebut bahwa Amerika Serikat adalah negara penghasil oil dan gas tersebar di dunia menggantikan Saudi Arabia setelah cadangan minyak terbesar ditemukan di wilayah Texas. Meskipun begitu ternyata setelah ditelusuri, saya menemukan cerita bahwa Amerika percaya tentang cerita 2030, 2050, dan 2100 bahwasanya mau tidak mau dia harus mendukung politik yang ramah lingkungan atau istilah Giddens yaitu politik iklim.

Sebagaimana yang telah saya notice sebelumnya bahwa pada dasarnya pertentangan antara Rusia dengan Amerika dan Uni Eropa tidak lain karena bersikukuhnya para negara klub iklim ini agar semua negara-negara di dunia mengikuti permainan ini, dan menjadi menarik untuk mencari tahu lebih dalam kenapa Rusia tidak mau manut dalam pusaran global warming yang bagi negara-negara di daratan Eropa dan Amerika merasa terancam oleh itu sebab ada kemungkinan bila es di kutub mencair maka mereka akan tenggelam.

Dalam case berkaitan dengan naiknya permukaan air laut yang dipastikan bisa menenggelamkan hampir semua daratan di bumi, yang diuntungkan adalah daratan di sekitar Artik seperti Russia, Skandinavia, Amerika Alaska dan Kanada, karena mereka akan menjadi tempat teraman dari ancaman efek global warming. Dan bila kita mempelajari geografisnya Rusia, akan kita temui sebagian besar wilayahnya yang masih beku seperti Siberia yang sangat luas, sehingga menarik bila Artik nantinya mencair dan menenggelamkan negara lain Rusia justru diuntungkan karena tanahnya bertambah.

Saya pikir mungkin ini yang kemudian membuat Rusia merasa tidak berkepentingan untuk ikut serta memperjuangkan isu climate policy sebagai agenda penting justru setelah didalami mereka mungkin saja ingin mempercepat climate change ini terjadi dengan harapan akan menjadi negara superpower.

Ini terlihat saat gelaran Paris Agreement 2015, dapat kita jumpai bahwa hanya Rusia yang tidak ikut tanda tangan dan baru merativikasi hal itu tahun 2019. Selain itu, saat penilaian mengenai hal ini ditemukan bahwa Rusia tidak serius dalam komitmen mengerjakan agenda yang diusung pada gelaran tersebut. Dan jika kita ikuti lebih lanjut terakhir Rusia melakukan veto terhadap resolusi mengenai climate di PBB.

Halaman selanjutnya >>>
Sultan Alam Gilang Kusuma