Politik Pencerahan, Politik Kebebasan

Politik Pencerahan, Politik Kebebasan
©NYT

Dalam politik pencerahan, tujuan akhir dari seluruh kebijakan politik tidak untuk membatasi atau mengekang, tetapi memperluas batas-batas kebebasan.

Bagi Andy Budiman, berkah terbesar bangsa ini adalah kebebasan dan kemajuan ekonomi. Itu terlihat dari mampunya Indonesia menyelenggarakan pemilu yang demokratis, relatif punya kebebasan pers dan ruang berekspresi, sembari ekonominya yang tumbuh stabil.

Hal ini ia utarakan melalui sebuah tulisannya di Kompas berjudul Anak Muda dan Politik. Bahwa di tengah gejala kemunduran demokrasi dunia, Indonesia malah menunjukkan hal sebaliknya.

“Di tengah arus ketidakpercayaan terhadap demokrasi, Indonesia justru memperlihatkan sebuah contoh bagaimana kebebasan pada akhirnya mendorong kemajuan dan kesejahteraan. Aplikasi Go-Jek tak akan pernah lahir dari masyarakat yang tertutup, dan orang seperti Nadiem Makarim dan inovasinya adalah anak kandung yang lahir dari rahim kebebasan,” tulis Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia ini (20/8).

Jika Indonesia berada di bawah rezim sektarian populis, yakin Andy, maka tak akan pernah lahir orang-orang seperti Rich Brian—yang awalnya dikenal lewat YouTube, tetapi belakangan menjadi “ambassador hip hop” Indonesia di dunia.

“Tak akan pernah ada Joey Alexander jika politik dikuasai orang-orang yang terobsesi mengekang kebebasan berekspresi. Prodigy jazz seperti Joey hanya akan berkembang dan dihargai dalam masyarakat yang memahami arti kebebasan.”

Nadiem, Brian, dan Joey, sebut Andy, mampu mengembalikan keyakinan bahwa syarat dasar kemajuan adalah kebebasan. Sebuah kepercayaan bahwa manusia justru akan bisa secara maksimal mengembangkan kemampuan terbaiknya ketika diberi kepercayaan dan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya, ide-idenya.

“Politik pencerahan seperti inilah yang menjadi cita-cita para pendiri republik. Keinginan untuk merdeka, agar setiap orang bebas mengutarakan pikirannya, mengembangkan dirinya secara maksimal, yang pada akhirnya akan mendorong negeri ini menjadi negara yang modern dan terbuka, tidak takut berdialog, dan percaya diri bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia.”

Ditegaskan Andy bahwa dasar dari politik pencerahan adalah kemanusiaan. Artinya, penghormatan terhadap setiap manusia. Tidak boleh ada yang dibeda-bedakan karena suku dan agama. Tidak ada yang merasa ditinggalkan dalam proses kemajuan.

“Dalam politik pencerahan, tujuan akhir dari seluruh kebijakan politik tidak untuk membatasi atau mengekang. Tetapi—sebaliknya—memperluas batas-batas kebebasan agar warga negara bisa mengembangkan kemampuan diri secara maksimal. Suasana seperti ini akan terjamin jika kita punya politik yang demokratis. Kebijakan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.”

Otoritarianisme Orde Baru hanya mampu menjadikan Indonesia sebagai negara medioker yang korup. Adapun sektarianisme di berbagai belahan dunia terbukti hanya membawa kehancuran bagi masa depan. Maka, hemat Andy, tidak ada pilihan lain kecuali demokrasi.

“Demokrasi adalah satu-satunya jalan yang harus dipertahankan.” [ko]

Baca juga: