Politik Rasa

Politik Rasa
Ilustrasi: jjalijordo

Aku berbincang pada waktu
Kala itu, kutemui sosok terpuruk dengan derai airmatanya
Kutemani ia dan kudengarkan ceritanya
Alur derita dan sengsara menguap kala itu
Iya, kala itu

Kala itu pula ia selipkan kenangan rajutan mimpi mendatang
Mimpinya dengan kenangan, aku masih jadi pendengar kala itu
Kudengarkan lagi kata demi kata mencuat ke permukaan
Seakan habis sudah oksigen di kedalaman
Iya, kala itu.

Makin larut makin menggebu
Kata berlomba memperlihatkan fakta
Aku masih tersenyum menyapa kata yang ia keluarkan
Kata-kata itu memperlihatkan emosinya

Kupandangi ia dan melihat tetesan mengalir bergelombang pada pipinya
Iya, kala itu

Kuberikan energi yang tersisa dariku pada aliran-aliran airmatanya
Energiku bukan apa-apa kala itu
Demi bola mata yang disayangkan mengering
Hingga cermin linangannya terus menggambarkan kekecewaan, kegelisahan, dan kepahitan jalannya
Tak luput pula dendam yang membakar bola mata hitam yang berbinar
Ya, lagi-lagi kala itu

Waktu mempertemukan dan merekam kejadian kala itu
Menjadikan aku untuk berpikir tentang waktu yang akan datang
Hidup, kalut, luput, dan kabut akan kusambut

Kini, waktu pun beriring terlarut
Seperti waktu kala itu yang tidak menyahut
Dan kenyataannya aku belajar
Merapikan apa-apa akibat tornado rasa kala itu

Ya, aku menata kembali puing-puing dan kunikmati dahaga kekeringan
Lalu “kala itu” hanya menjadi “kalanya”, bukan menjadi “kalaku”
Kemudian kumaknai kembali ketulusan, dan yang terjadi adalah politik rasa

    Raras Kusfajardini

    Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; asal Bangka Belitung.
    Raras Kusfajardini

    Latest posts by Raras Kusfajardini (see all)